Ditengah
menguatnya tensi ‘Islam Fundamentalis’ belakangan ini, perlu kiranya membaca
kembali gerakan beberapa Ormas Islam yang sudah hadir, bahkan sebelum negara
Indonesia merdeka. Salah satunya adalah Muhammadiyah.
Pada Majalah
Suara Muhammadiyah edisi no. 08 th ke 98 16-30 April 2013, Ketua Umum PP
Muhammadiyah, yang kala itu menjabat sebagai Pimrednya, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si
pernah menulis artikel berjudul “Kiprah Muhammadiyah Sepanjang Sejarah”.
Tulisan itu mengisi rubrik bingkai pada halaman 12-13.
Disana Haedar
Nashir menulis, terlalu naif jika organisasi kemasyarakatan seperti
Muhammadiyah, Sarekat Islam, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama, Taman Siswa, dll
disejajarkan dengan organisasi yang baru lahir beberapa tahun lalu. Menurutnya,
mereka yang paham sejarah akan tahu bagaimana perjuangan Ormas Islam tersebut
sebelum dan sesudah kemerdekaan.
Muhammadiyah juga
tidak bisa disamakan dengan Partai Politik yang lahir diera reformasi, tetapi
memiliki kekuasaan yang berlebihan, sekaligus miskin jiwa, visi, dan idealisme
kenegarawanan.
Lebih lanjut,
Haedar menuliskan, bahwa Muhammadiyah adalah pilar penting dan strategis bagi
NKRI. Beberapa tokoh pendiri bangsa adalah tokoh Muhammadiyah, seperti Ki Bagus
Hadikusumo, Kahar Muzakkir, Kasman Singodimedjo, hingga Djuanda. Bahkan
Soekarno yang notabene adalah Presiden pertama Republik Indonesia, adalah kader
Muhammadiyah. Panglima Besar TNI, Jendral Soedirman adalah Pandu Hizbul Wathan
Muhammadiyah, yang juga pernah menjadi Guru di Muhammadiyah.
Peran
Muhammadiyah Untuk NKRI
Belum lagi peran
Muhammadiyah dalam bidang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Pelayanan sosial,
dll. Berapa banyak sarjana lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang kemudian
ikut serta dalam membangun negara. Termasuk bagaimana Muhammadiyah ikut serta
dalam menghidupkan ekonomi. Disnilah, peran strategis Muhammadiyah yang menyatu
dalam denyut nadi kehidupan Bangsa Indonesia.
Peran
Muhammadiyah dalam menanggulangi bencana alam misalkan, dengan menggagas MDMC
(Muhammadiyah Disaster and Mitigation Center), juga keberpihakan dalam bidang
pemberdayaan Masyarakat melalui MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat). Kiprah
Muhammadiyah lebih aplikatif dan membangun.
Untuk itu, jika
Muhammadiyah kemudian dikaitkan dengan gerakan Islam Fundamentalis yang
belakangan santer merongrong kedaulatan NKRI, mempertanyakan Pancasila, dll itu
hanyalah bagian dari upaya menggiring opini. Adanya kader atau warga
Muhammadiyah yang terlibat, hanyalah sempalan-sempalan yang tidak memahami
sejarah dengan baik. []

No comments:
Post a Comment