Gambar diambil dari Google
Oleh:
Rifki rahman taufik
Pendiri Progresif Intitute
Apakah
yang anda ketahui tentang Akademisi yang militant? Apakah ada akademisi yang
tak punya militansi. Dan apakah anda bisa membedakan bagaimana akademisi
militant dengan akademisi pesanan. Yang pasti akademisi militant itu bukan
tentang Wajah yang Etis, bukan pula wajah yang Sopan, apalagi wajah
plonga-plongo. Akademisi yang militat itu independent, berintegritas dan etis:
Dalam membuat analisa dan kritik. itu artinya, ia dapat dipercaya.
Misalnya
saja, Kini capres dan cawapres-nya sudah ada. Sebagai akademisi maka Ujilah
mereka. Bila perlu, kritiklah mereka dengan sepuas-puasnya, kritiklah
setajam-tajamnya. Tapi ingat harus dengan Argument bukan karena sentiment.
Karena Benci itu artinya bukan tidak memahami, tapi tak mau mengerti. Dan
ingat, masa depan tidak bisa datang hanya dengan mencari-cari kesalahan orang
di masalalu. Karena ia bisa tiba, apabila sudah ditemukan
kemungkinan-kemungkinan jalan yang bisa di buka untuk di tempuh. Begitulah
semestinya watak akademisi yang berpihak pada akal sehat. Yakni, jeli melihat argument-argument
yang keliru supaya di ganti dengan argument-argument yang bermutu.
Jadi
kritik dia, maki dia, debat isi kepalanya, meski ia dari kalangan santri.
Telanjangi argumentnya, nyiyiri terus Caper-nya, (sekali lagi) Caper bukan
Capres. Ajuhkan dalil dan prasangka meski dari kalangan anak muda melenial.
Karena akademisi yang cuma bisa memuji-muji dan mau menjadi buzzer saja, kalau
tidak bisa di sebut; akal sesat karena fanatik, maka bisa juga di sebut
penghiyanat akal sehat.
Negeri
ini didirikan dengan akal sehat, bukan dengan plonga-plongo. Tapi politik hari
ini justru membuat masyarakat menjadi dongok dan lekas marah-marah tanpa arah.
IQ nasional jongkok. Dan tambah di perparah dengan Akademisi pesanan dari
penguasa. Bisa diskon 50% pula. Seharusnya akademisi tidak begitu. Seharusnya
mereka hanya loyal pada kemanusiaan. Karena itu mereka melakukan analisa dan
kritik. Dan bukannya malah seperti kakak kandung melindungi adiknya dengan
membawa senjata power point tentang elektabilitas murahan, penjelasannya
panjang. Artinya untuk menipu rakyat. Bersorak-sorak "kerja, kerja,
kerja" membantu rakyat, Sambil ceramah hoax dan kesalahan-kesalahan
masalalu. Itu sama saja seperti memperlihatkan bahwa adik kandung yang sedang
di bela itu tidak bisa jawab sendiri, karena akalnya tak ada isi. Pendek kata,
Seakan-akan akademisi itu adalah kakak dari pemerintahan yang plonga-plongo,
dan tidak punya integritas. Seakan-akan akademisi itu anjing pelacak, pihak
oposisi, yang gonggongkan sentiment bukan argument.
Akademisi
yang militant, tidak akan lebih memilih minum cemara beracun daripada menjual
integritasnya pada kekuasaan. Adalah Socrates, sebagai seorang akademisi, ia
dikenal karena pikiran-pikiran cerdas dan kejenakaannya. Sebagian besar yang
bisa kita ketahui tentang Socrates berasal dari Dialog karya Plato, muridnya,
dimana percakapan di antara guru dan murid ini mengenai subyek Filsafat telah
di catat.
Socrates
berkeyakinan bahwa manusia itu ada untuk suatu tujuan, dan bahwa benar dan
salah itu memainkan peran penting dalam menentukan relasi seseorang dengan
lingkungan hidupnya dan dengan orang lain. Bahkan Socrates juga berkeyakinan
bahwa kebaikan itu berasal dari pemahaman diri, bahwa orang pada dasarnya
jujur, dan bahwa kejahatan adalah usaha yang menyimpang untuk memperkaya
kondisi pribadi. Kita berkali-kali dengar Semboyan socrates, "kenalilah
dirimu sendiri."
Socrates
berkeyakinan bahwa Pemerintahan Ideal itu melibatkan orang bijaksana
(akademisi), disiapakan secara semestinya, dan memimpin demi kebaikan
masyarakat. Ia juga percaya pada ide kekuatan tunggal yang terfokus dan
kekuatan transenden tersembunyi di balik dunia alam, sebuah pendapat yang
bertentangan dengan keyakinan konvensional terhadap dewa-dewa pantheon. Hal
itulah akhirnya mengarah pada penahanannya dengan tuduhan merusak kaum muda
Athena.
Pengadilan
terhadap Socrates dikisahkan oleh Plato dalam karya Apology dan phadeo, yang
telah menjelaskan percakapan socrates bersama para siswanya saat ia sedang
berada di dalam penjara. Setelah pengakuannya, ia diperbolehkan untuk melakukan
bunuh diri dengan meminum hemlock (cemara beracun). Maka Seharusnya para
Akademisi militant itu seperti itu. Meski karya Socrates sebenarnya langka,
namun karena militansinya, karyanya dan hidupnya tetap bertahan sepanjang masa
tertuang dalam tulisan-tulisan Plato dan Xenophon, kurang-lebih sejak 430-357
SM.

No comments:
Post a Comment