Oleh: Bayu Saputra*
Berangkat
dari kisah tiang listrik yang di tabrak oleh ketua DPR RI yang akhir-akhir ini
menjadi ramai di perbincangkan baik dikalangan borjuis maupun proletar, media
pun tak henti-hentinya memberitakan kisah malang tiang listrik yang dianggap
menjadi korban dari kesaktian Ketua DPR RI tersebut.
Hal lain
yang sebelumnya dilakukan oleh Ketua DPR RI adalah secara tiba-tiba sakit
dengan terpasang alat medis yang tanpa disadari menuai banyak kejanggalan dari
masyarakat luas yang menyimak berita tersebut, banyak orang beranggapan bahwa
kedua kejadian itu memang sengaja dibuat untuk menghindari pemanggilan oleh KPK
dari dugaan kasus korupsi e-KTP yang menjerat ketua DPR RI Setya Novanto itu.
Terlepas
dari kedua kejadian itu ada hal lain yang tampak menarik untuk dibahas adalah
memahami Setya Novanto sebagai seorang manusia, Karl Marx menunjukan perbedaan
antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya.
Binatang
langsung menyatu dengan kegiatan hidupnya, sedangkan manusia membuat kerja
hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya.
Dari sini
kita bisa berfikir bahwa sebagai seorang manusia Setya Novanto melakukan
tindakan tersebut dimungkinkan adanya kehendak dan sebuah kesadaran yang
dimiliki oleh seorang manusia, baik tindakan
korupsi dana e-KTP yang sampai saat ini belum kelar kasusnya itu, dan juga
kedua tindakan irrasional yang telah dilakukanya.
Didalam
ilmu filsafat Karl Marx juga mengatakan bahwa manusia dalam bekerja secara
universal, dikarenakan ia dapat memakai beberapa cara untuk tujuan yang sama.
Menariknya
dalam kejadian awal sebelum tabrak tiang listrik terjadi Setya Novanto pernah
mendadak sakit yang kemudian sakit yang diderita tersebut merupakan cara yang
berhasil digunakan dalam memperlambat proses penyelesaian kasus korupsi e-KTP,
setelah Setya Novanto dinyatakan sembuh dan KPK mencoba memanggil kembali untuk
di hadirkan di persidangan namun Setya Novanto tidak mengindahkan panggilan KPK
tersebut dan tiba-tiba terdengar kabar yang mendadak viral terkait kecelakaan
mobil Setya Novanto yang menabrak tiang listrik, berangkat dari teori Marx
diatas dalam melihat kejadian ini maka secara tidak langsung orang akan
berfikir bahwa yang dilakukan oleh Setya Novanto tersebut adalah salah satu
bentuk dari upaya untuk memperlambat penyelesaian kasus e-KTP, sayangnya motif
yang digunakan untuk mencapai tujuanya tersebut hampir sama yakni sakit, namun
menggunakan cara yang sedikit berbeda.
Banyak yang
akan menanti akhir kisah dari Ketua DPR RI yang diduga terjerat kasus e-KTP
tersebut, kembali hukum di negara kita di tantang oleh masyarakat agar mampu
terlihat tegak terhadap semua yang mencoba melanggarnya, dan juga sebagai
penegak hukum manusia harus mampu bersikap adil terhadap semua orang yang
melanggar, jangan sampai semua masyarakat dikecewakan oleh hasil dari
penyelesaian kasus e-KTP tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Paulo Freire
bahwa tindakan dan kesadaran manusia bersifat historis, sekarang berhubungan
masa lalu dan berhubungan dengan masa depan.
Agar hukum
di negara kita tetap terjaga oleh masyarakatnya maka penegak hukum harus mampu
menjaga kepercayaan dari seluruh masyarakat.
(Bojonegoro,
17 November 2017)
____________________
*Bayu Saputra
Seorang Aktivis Mahasiswa, saat ini menjabat sebagai
Bendahara DPD IMM Jawa Timur

No comments:
Post a Comment