SISTEM PENDIDIKAN TAN MALAKA
Artikel ini berdasarkan buku kecil Tan Malaka
berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”
dengan tulisan menggunakan ejaan lama. Pertama kali Brosur tersebut diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh organisasi
“Sarekat Islam” bagian pengajaran, Serikat
Islam School (Sekolah Serikat Islam). Brosur ini merupakan pengantar sebuah
buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan
yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang
diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Kemudian artikel tersebut
diterbitkan kembali oleh “Yayasan Massa” pada tahun 1987 dengan menggunakan ejaan baru
(EYD). Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu
cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita supaya Rakyat tidak tertindas
di tanahnya sendiri.
PENDAHULUAN
Tergopoh-gopoh kita mengeluarkan buku ini,
yang maksudnya hendakmenggambar dan menuliskan percobaan Onderwijs, yang
rasanya cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat, yang melarat.
Hampir semua lid SI Semarang kenal sama SI
school. Mereka yang hampir pada tiap-tiap vergadering mendengarkan propaganda
yang berhubungan dengan sekolah tiu, tentulah akan lebih suka lagi, kalau
mempunyai suatu buku, yang lebih jelas menerangkan keadaan serta hal ikhwalnya
sekolah itu. Dengan buku itu kita bisa pula mengumumkan haluan SI school
dimana-mana , juga pada tempat-tempat yang sudah setuju dengan Semarang.
Buku ini tentu belum sempurna, sebab
sekolah SI masih baru sekali. Lagi pula kita sengaja bercerita pendek, buat
menerangkan yang perlu saja, sehingga orang yang tidak paham dalam hal ilmu
didikan, juga bisa mengambil arti yang berguna bagi dirinya sendiri.
Kita berharap, bahwa dengan cerita yang
pendek itu, beserta gambar-gambaran, sampai maksud kita yakni hendak melukiskan
didikan Rakyat yang kita katakan tadi. Sungguhpun kita belum tahu, akan hasil
perbuatan kita, tetapi kalau kita tilik sikapnya pihak sana, maka kita boleh
mengambil keyakinan, bahwa jalan kita ada baik. Baru saja sekolah kita dibuka,
Surabayasch Handelsblad serta konco-konconya sudah berteriak : “Hai, pemerintah
awasi sekolah SI itu”. Wakil pemerintah di Semarang (Ass. Resident) sudah
melarang membikin pasar derma (dengan art 520. WVS ??), yang selamanya ini
boleh dilakukan, melarang anak-anak kromo meminta darma dengan menyanyi
international (sepanjang art 154. WVS).
Pendeknya sekalian halang-halangan itu,
yang dirasa menutup jalan untuk memperbaiki sekolah, sudah menimbulkan protest
besar pada tanggal 13 Nopember ini, pada vergadering SI yang dikunjungi oleh
kira-kira 5000 orang lelaki dan plm. 4000 orang perempuan. Perkara tanah yang
juga penting buat Rakyat Semarang cuma memakan kira-kira 1 jam, sedangkan
perkara onderwijs itu ada menghabiskan waktu kira-kira 2 ½ jam.
Selama kita tinggal di Semarang, belumlah
pernah kita menyaksikan suara yang begitu tajam dan keras, baik dari pihak
Destuur ataupun lid-lid SI. Sikapnya vergadering tadi seolah-olah seekor
burung, yang anaknya disambar Elang. Di dalam di luar vergadering (di desa-desa)
kita mendengar: SI school mesti terus:
Ya, SI school mesti terus, inilah jawab
kita.
PERATURAN ONDERBOUW
(SEKOLAH RENDAH)
Bahwa sekolah SI bukan seperti sekolah
particulier yang lain-lain, yakni pertama sekali buat mencari keuntungan,
bolehlah kita buktikan dengan bermacam-macam jalan. Bukan saja karena ongkos
buat uang sekolah adalah lebih enteng, dan pengajaran ternyata lebih baik
seperti keterangan anak-anak sendiri yang datang dari sekolah-sekolah
partkulier, tetapi yang terutama sekali, karena hawa (=geest) di sekolah SI ada
lebih sehat dan lebih dekat pada watak dan sifat anak asal dari Timur, yakni
kalau kita bandingkan dengan geewst di sekolah-sekolah partikulier atau HIS
Gouvernement. Nyata buat kita yang anak-anak suka bekerja keras untuk mencari
kepandaian, yang perlu kelak buat keperluan hidup (seperti membaca, menulis,
berhitung, bahasa dsb) pada dunia kemodalan, yang tiada mempunyai kasihan satu
sama lain, pada dunia yang memberi rezeki dan keselamatan cuma pada yang kuat
dan pintar saja. Itu memang kewajiban kita sebagai gurunya, supaya kelak
anak-anak yang keluar dari sekolah SI cukup membawa senjata untuk perjuangan
kelak dalam hal mencari pakaian dan makanan buat anak istrinya.
Pula kita tidak lupa, bahwa ia masih
kanak-kanak dalam usia mana ia belum boleh merasa sengsaranya hidup dan berhak
atas kesukaan bergaul sebagai kanak-kanak.
Perkara yang ketiga kita ingat juga, bahwa
murid-murid kita kelak jangan hendaknya lupa pada berjuta-juta Kaum Kromo, yang
hidup dalam kemelaratan dan kegelapan. Bukanlah seperti pemuda-pemuda yang
keluar dari sekolah-sekolah biasa (Gouvernement) campur lupa dan menghina
bangsa sendiri.
Ringkasnya maksud kita yang terutama :
1. Memberi senjata cukup, buat pencari
penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa
Belanda, Jawa, Melayu, dsb).
2. Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan
hidup, dengan jalan pergaulan (verenniging).
3. Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada
berjuta-juta Kaum Kromo.
I. Memberi senjata
cukup, buat mencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis,
membacara, babad, ilmu bumi, bahasa Jawa, Melayu, Belanda dan sebagainya).
Perkara yang pertama ini tidak perlu kita
panjangkan. Tiap-tiap kita yang keluar dari sekolah sudah tahu, apa artinya
pengajaran sekolah hari-hari. Cuma kita dengan pengajaran sekolah itu juga
mesti bangunkan hati merdeka, sebagai manusia dengan bermacam-macam jalan. Lagi
pula kita mesti bangunkan sifat-sifat kuno, yang terbilang baik. Nyanyi-nyanyi
jawa dan wayang-wayang begitu juga menggambarkan wayang-wayang yang begitu
sukar kita hargai tinggi. Dalam dua tiga hari saja dinding sekolah kita sudah
penuh dengan bermacam-macam gambaran wayang (Bambang Irawan, Prabu Doso Muko,
Gatot Koco dan sebagainya), yang digambar oleh anak-anak sendiri dalam waktu
temponya. Dalam kepintaran menggambar ini kita sebagai guru mengaku tunduk sama
anak-anak yang berumur 10 atau 12 tahun itu. Kita berani mengatakan, yang juga
anak-anak eropa yang berumur sebegitu, atau lebih, mesti akan kalah sama
anak-anak kita. Nah, kalau bangsa Eropa meninggikan betul kepintaran menggambar
itu, lebih-lebih bangsa Belanda1,
kenapa tidak dikeluarkan kepandaian yang memang tersembunyi pada bangsa jawa
itu? Jawabnya: barangkali sebab pabrik gula atau kantor post lebih suka sama
yang pandai menyalin kopi, atau menghitung uang masuk dan keluar, dari pada
sama orang, yang pandai menggambar Doso Muko.
Perkara berhitung, tentu kita berani
tanggung. Kita tahu, bahwa orang-orang sekolah kelas II dahulu lebih pintar
berhitung dari keluaran sekolah HIS sekarang, seperti juga orang-orang keluaran
sekolah kweekshchool 20 tahun yang lalau umpamanya, lebih gemar dan lebih
pandai berhitung dari keluaran kweekschool sekarang. Tentulah bahasa Belanda
itu sangat menghambat kemajuan berhitung. Juga caranya mengajar. Dahulu
orang-orang itu disuruh sendirinya saja berhitung. Cuma apa yang tidak bisa
saja yang diterangkan.
Bukankah seperti sekarang guru-guru mabuk
methode (cara mengajar), sehingga anak-anak tidak bisa cari jalan sendiri. Kita
ingat akan babad onderwijs (sejarah pendidikan) di negeri Belanda, dimana
orang-orang tani desapun, beberapa ratus tahun dulunya, turut campur berhitung.
Semua isi desa memikirkan suatu persoalan, dan yang mendapat pendapatan
dimuliakan betul. Kita sendiri masih ingat akan masa, dimana teman-teman kita
murid sekolah kelas II (bukan HIS) kesana sini pergi mencari hitungan. Di
sekolah SI kita biarkan juga kemauan berhitung itu. Yang pandai kita suruh
terus, beberapa kuatnya saja, sehingga sudah ada anak yang duduk di kelas IV
umpamanya, yang sekarang sama kitab hitungannya dengan kelas V HIS.
Kita memang tidak pakai Rooster (daftar
pengajaran) seperti HIS. Tidak saja dalam berhitung kita lepas anak-anak
sebagaimana kuatnya, tetapi dalam hal mengajar bahasa (Belanda) kita melanggar
Rooster. Di kelas II umpamanya duduk anak-anak ada yang sampai berumur 13
tahun. Anak-anak ini keluar sekolah kelas II. Kita mesti terima anak-anak ini.
Kalau tidak tentu dia mesti mondar-mandir saja di jalan rayat, karena sekolah
yang lain buatnya tidak ada, atau terlampau mahal.
Kita jangan lupa, bahwa diantaranya banyak
yang kencang otak, cuma tak bisa bahasa Belanda saja. Tetapi sebab kelak
perlawanannya ialah kaum modal, yang memakai bahasa Belanda, maka perlu sekali
kita ajarkan betul bahasa itu, terutama untuk mengerti, baru yang kedua untuk
menulis atau berbicara dalam bahasa itu. Jadi sebab anak-anak berumur 13 tahun
ke bawah itu sudah bisa berhitung buat kelas II, sementara kita pentingkan
mengajarkan bahasa Belanda. Tentulah sementara saja, karena kita tidak lupa
akan pengajaran lain-lain.
Anak-anak keluaran kelas II itu menjadi
pertimbangan yang penting sekali buat kita. Untuk mencari pekerjaan mereka itu
masih amat kecil. Tetapi ia tiada bisa meneruskan pengajaran. Sebab itulah
mereka itu merasa sampai hati sanubarinya dihimpit oleh kemodalan, yang memberi
onderwijs (pendidikan) buat yang kaya dan yang mampu membayar saja. Inilah
anak-anak yang mudah dimasuki rasa kemerdekaan karena mau naik, tetapi tiada
bisa. Pemuda-pemuda semacam inilah di Rusia, yang di muka, di medan peperangan
yang menahan pelornya kaum Modal, yang mempertahankan peraturan Komunisme, yang
memberi kesempatan bagi kemajuan pikiran dan perasaan pada tiap-tiap manusia.
Anak-anak kita di SI school yang keluar kelas II ada serupa kaumnya di Rusia
tadi.
Dialah yang rajin, gemar dan kalau
menyanyikan internasional (lagunya kaum yang tertindas di atas dunia), maka
suaranyalah yang keras dan matanyalah yang bercahaya api, disebabkan oleh arti
lagu internasional itu.
Selain dari pada vak-vak (mata pelajaran)
berhitung, menggambar, bahasa itu, tentulah vak-vak ilmu bumi, babad (sejarah)
dunia, menyanyi dan sebagainya kita ajarkan dengan cara dan dasar, yang cocok
dengan haluan kaum SI, ialah kaum yang melarat. Semua ini belumlah program yang
sempurna. Kalau ada perlu tentu disana-sini boleh dirubah.
II. Memberi haknya
murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan.
Kalau kita perhatikan pergaulan anak-anak
di sekolah-sekolah masa sekarang, maka sia-sialah kita mencari geest (hawa)
yang sepadan dengan usianya anak-anak. Murid-murid sekarang kerjanya lain tidak
semacam mesin pabrik gula, yang siang malam tak berhenti bekerja. Siang malam
anak-anak mesti belajar dan menghafalkan pelajaran, sehingga tiadalah berapa
waktu tinggal untuk bermain-main. Lain dari pada waktu uitspanning, (main-main
di pelataran) tiadalah ada mereka sanggup bercampur-campur. Satu sama lain
kenalnya di kelas saja, sehingga kanak-kanak tiada merasa enaknya
kumpul-berkumpul. Sifat ini kelak kalau besar akan terbawa-bawa juga, sehingga tiap-tiapnya
orang suka mencari kesenangan sendiri-sendiri saja.
Anak-anak itu memangnya suka
berkumpul-kumpul. Dalam permainan apapun juga, ia ada mempunyai peraturan
sendiri. Sungguhpun peraturan tadi (dalam main layangan umpamanya) tidak
dituliskan pada Reglement, tetapi mereka yang kecil-kecil itu tiada akan
melanggar peraturan yang tetap. Dalam permainan apapun juga kita bisa pastikan,
bahwa di sana ada kepala, yang menguruskan permainan, sungguhpun kepala tadi
tidak dipilih dengan cara memilih seperti dalam sebuah vereeniging. Kalau ada
anak yang melanggar adat bermain, mak anak itu lekas kena tegur dan kalau tiada
mau mendengar, maka ia akan kena boycot.
Sifat yang batin-batin itu, mesti kita
majukan, dan mesti kita sambung. Apa yang kurang mesti kita tambah. Tetapi
tidak semacam guru tidak boleh jadi diktator dalam permainannya. Dia mesti
merdeka sendirinya. Cuma kalau dia salah atau tidak tahu jalan, baru kita
memberi nasehat.
Sifat suka bergaul itu kita sudah mencoba
membangunkan sedikit dengan perkataan. Dengan lekas anak-anak kita di SI school
mau mengambil buktinya. Dengan segera terdiri suatu “Commite untuk Bibliotheek”
(perkumpulan buku-buku) dan baru-baru ini Commite Kebersihan, dan Voetbal Club
(klub sepakbola), Coorzitter dan bestuur yang lain-lain sama sekali dipilih
oleh anak-anak. Begitupun Reglementnya dibikinnya sendiri. Dalam watku
uitspanning atau sesudah sekolah, maka kita melihat mereka sering mengadakan
Vergadering, untuk merembukkan ini itu. Dalam Vergadering SI (orang besar) anak-anak
kita yang berumur 13 atau 14 tahun itu sudah pernah bicara, di Semarang ataupun
Kali Wungu.
Sedangkan orang-orang tua dan pintar masih
gentar dan takut bicara di muka orang banyak; tetapi anak-anak SI school sudah
pernah menarik hati orang-orang tua, lantaran keberaniannya. Mereka yang kecil,
yang memakai selempang, ditulis dengan rasa kemerdekaan, anak-anak yang
berpidato dan menyanyikan internasional, sudah pernah menjatuhkan air mata
beberapa lid SI yang mengunjungi Vergadering.
Anak-anak kita akan terus bikin propaganda
untuk Bibliotheeknya tadi. Selama ini disambut dengan girang hati. Begitu juga
murid-murid SI ada berpengarapan, yang kasnya akan lekas terisi derma, dan
lemarinya akan terisi buku-buku, yang dikehendakinya.
Dalam hal organisasinya tadi, kita hampir
tiada menolong apa-apa, karena maksud kita bukan hendak mendidik anak-anak jadi
Gromopon. Kita mau, supaya dia berpikir dan berjalan sendiri.
Besar pengharapan kita, bahwa kelak
Vereeniging yang lain-lain seperti tooneel (komidi, sandiwara), wayang
menyanyi, surat kabar dan lain-lain, yang setengahnya sekarang masih dalam
pikiran saja akan hidup dan maju seperti “Vereeniging Bibliotheeknya” ini.
III. Menuju
kewajibannya kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo
Ini maksud mudah dituliskan, tetapi tiada
mudah disampaikan. Kita jangan lupa, bahwa kita mengajar kanak-kanak, yang
belum pernah membanting tulang sendiri buat mencari penghidupan untuk anak
istrinya. Seorang yang mempunyai hati dan pikiran yang suci mudah kemasukan
iblis, kalau sudah ditimpa bahaya kemelaratan hidup. Demikian juga kelak
anak-anak keluaran SI tentu akan ada juga yang pecah iman, kalau mesti masuk
pada neraka kemodalan. Hal itu tentu tiada boleh menakuti kita; hanyalah
menambah memaksa memikirkan daya upaya, supaya anak-anak keluaran sekolah SI
jangan kelak membelakangi Rakyat.
Kalau kita periksa dalam-dalam segala
perkara-perkara yang memisahkan pemuda-pemuda keluaran sekolah Governement dari
Kaum Kromo, maka ternyatalah, bahwa perkara-perkara itu mesti dicari pada
sifatnya didikan sekolah-sekolah tersebut.
Di sekolah Governement diajarkan
kebersihan pada murid-murid, tetapi tiada dibilang, bahwa Kromo tiada tahu, apa
yang bersih, kalau tahu apa bahaya kekotoran. Nanti kalau murid-murid ini sudah
besar, maka tiadalah sedikit juga kehendak padanya untuk membangunkan kebiasan
kebersihan itu pada kaum melarat itu. Tidak, malah mereka dalam batinnya turut
benci pada si Kromo yang kotor katanya itu, dan turut membilang, bahwa
kekotoran itu memang sudah sifatnya si Kromo. Jadi didikan sekolah Governement
semacam itu, yang tiada disertai kecintaan atas Rakyat, tiada menanam kewajiban
buat menaikkan derajat Rakyat menyebabkan, maka didikan itu menimbulkan suatu
kaum (bernama kaum terpelajar) yang terpisah dari Rakyat.
Tentulah tiada perkara kebersihan saja
yang mendatangkan pisahan itu. Juga kepandaian, adat istiadat, yang didengarkan
atau dibacanya dalam sekolah, sama sekali tidak menanam belas kasihan pada
Kromo. Dan kalau tiada dibangunkan rasa kewajiban dan kecintaan, maka sudahlah
tentu yang bersih pandai dan sopan itu tiada akan tahu menahu yang kotor, bodoh
dan biadab, kata kaum sana itu.
Perkara juga yang bisa mendatangkan
pisahan itu ialah perceraian kerja tangan dan kerja otak. Sekolah biasa
dianggap cuma buat mencari kepandaian otak saja. Itulah pula kerjanya anak-anak
itu hari-hari. Dahulu kala, dan sekarang juga, anak-anak itu di desa turut
mencangkul atau bertukang. Semuanya dilakukannya dengan kegemaran. Tetapi pada
sekolah zaman sekarang bertukang atau mencangkul itu cuma dilihatnya saja baik
dalam perjalanan atau pada gambar-gambar sekolah. Kalau pekerjaan-pekerjaan itu
dilakukan oleh kaum kotor, bodoh dan sebagainya, heranlah kita, kalau
pemuda-pemuda yang bernama terpelajar itu kelak berpikir: Kerja tangan itu rendah
sekali?
Di sekolah SI tidak saja dibilang apa yang
bersih, tetapi diajarkan sendiri mencari kebersihan. Jongos-jongosan tidak ada.
Baru-baru ini sesudah kita mencela
kekotoran sekolah dan perkakasnya sekolah kita sendiri, maka segera dibangunkan
“Commite kebersihan”, Commite inilah yang menjaga supaya segala pekerjaan
berhubung dengan kebersihan sekolah (bangku, bord, dsb) dilangsungkan. Kalau
sekarang belum pukul delapan kita memasuki kantor SI maka kelihatanlah
anak-anak yang bersingsing lengan baju, memegang kain atau ember untuk
membersihkan bangku atau bord (papan tulis). Ini kemajuan besar. Karena, kalau
2 atau 3 bulan yang lalu, kita sedikit minta tolong, umpamanya membersihkan
papan, maka kita lihat muka yang seolah-olah mau berkata : “Ini pekejaan
jongos”.2
Memandang rendah pada pekerjaan tangan,
yakni kerja ibu bapaknya hari-harian, itulah yang mau kita perangi dengan
sekuat-kuatnya. Anak-anak mesti cinta pada segala macam pekerjaan yang disahkan
(halal).
Sesudah kita bisa buang sifat didikan yang
bisa mendatangkan benci pada kaum Kromo (yang kerja tangan) itu, maka harus
kita perhubungkan anak-anak kita dengan kaum melarat. Itulah gunanya, kalau ada
tempo kita membicarakan nasib si kromo; kita menanam hati belas kasihan sama
bangsa yang tertindas; kita menunjukkan kewajiban sebagai anak kaum yang
tertindas itu. Sebab itulah kita membangunkan hatinya, supaya berani bicara
dalam Vergadering SI, atau Vergadering Kaum Buruh.
Bijak dan berani berpidato, yakni
kepandaian yang dimuliakan oleh segala bangsa yang merdeka, baik dahulu, baik
sekarang, bisa ditanam cuma dengan jalan Vergadering saja. Kalau kita
amat-amati pemimpin-pemimpin muda kita, baik dalam Commite Bibliotheek, “Commite
kebersihan” atau “Voetbal Club” dalam Vergaeringnya masing-masing, maka mudah
kita saksikan, bahwa dalam Vergaderingnya itu ada orde (aturan), dan ada hati
sungguh (baik dari pihak speker (pembicara) ataupun yang mendengar).
Kadang-kadang kita heran melihat, bagaimana seorang kanak-kanak bisa mengenggam
Vergadering yang dikunjungi oleh lebih kurang 180 anak-anak. Vereeniging inilah
suatu sekolah, yang besar artinya untuk mendidik rasa dan hati mereka; mendidik
untuk memikirkan dan menjalankan peraturan buat pergaulan hidup, mendidik untuk
fasih dan berani bicara, didikan mana dalam zaman perbudakan ini lebih besar
harganya dari pada mengetahui, berapa banyaknya sungai-sungai di pulau Borneo
umpamanya.
Kalau kita bisa menyambungkan
perkumpulannya dalam sekolah itu dengan perkumpulannya ibu bapaknya seperti
Serikat Islam, maka rasanya kelak, kalau ia keluar sekolah tidak akan berpisah
dengan ibu bapaknya itu. Sebab itulah maka kalau ada vergaering SI Semarang,
kita mengajak anak-anak yang sudah mengerti, mengunjungi vergadering tadi.
RINGKASNYA :
1.
Di sekolah anak-anak SI mendirikan dan
menguruskan sendiri pelbagai-bagai vereeniging, yang berguna buat lahir dan
batin (kekuatan badan dan otak). Dalam urusan vereeniging-vereeniging tadi
anak-anak itu sudah belajar membikin kerukunan dan tegasnya sudah mengerti dan
merasa lezat pergaulan hidup.
2.
Di sekolah diceritakan nasibnya Kaum
Melarat di Hindia dan dunia lain, dan juga sebab-sebab yang mendatangkan
kemelaratan itu. Selainnya dari pada itu kita membangunkan hati belas kasihan
pada kaum terhina itu, dan berhubung dengan hal ini, kita menunjukkan akan
kewajiban kelak, kalau ia balik, ialah akan membela berjuta-juta kaum Proletar.
3.
Dalam vergadering SI dan Buruh, maka
murid-murid yang sudah bisa mengerti, diajak menyaksikan dengan mata sendiri
suaranya kaum Kromo, dan diajak mengeluarkan pikiran atau perasaan yang sepadan
dengan usianya (umur), pendeknya diajak berpidato.
4.
Sehingga, kalau ia kelak menjadi besar,
maka perhubungan pelajaran sekolah SI dengan ikhtiar hendak membela Rakyat
tidak dalam buku atau kenang-kenangan saja, malah sudah menjadi watak dan
kebiasannya masing-masing.
PERATURAN MIDDENBOUW
(SEKOLAH
TENGAH)
Demikianlah bunyinya program SI school di
Semarang. Menilik nama Brosure kita yakin bahwa maksud kita bukan hendak
mengadakan satu sekolah saja, malah mempertimbangkan hal onderwijs (haluan
didikan), juga buat SI. Tegasnya maksud kita mencari suatu macam didikan yang
bisa mendatangkan faedah bagi Rakyat, negeri-negeri lain di luar semarang, yang
mau mendirikan sekolah seperti di Semarang, maka kita mesti mengatur sekolah
itu seperti di Semarang juga.
Sampai sekarang sudah ada tiga atau empat
kota yang sudah meminta pada kita, supaya diadakan dan diatur pula
sekolah-sekolah SI. Kota-kota itu sudah siap murid, siap bangku sekolah dan
perkakas yang lain-lain. Cuma belum siap akan gurunya. Perkara guru itu penting
sekali. Jarang guru keluaran keewwkschool, yang mau atau berani memihak pada
kita, kalau memihak, ialah karena gaji saja, bukan karena hati atau haluannya.
Sebab itulah kita sendiri pula mesti
menanam guru buat SI school itu (sekolah tengah). Pekerjaan ini sudah kita
mulai, jadi tidak tinggal dalam pikiran saja lagi. Setiap sore (sementara ini
baru 3 x satu minggu saja) di kantor SI diadakan kursus mengajar murid-murid SI
yang kelas V, VI, dan VII (jadi murid-murid yang berumur dari 15 tahun ke atas)
menjadi guru. Murid-murid itu biasanya kebetulan keluaran sekolah kelas II,
jadi sudah menerima pengajaran dalam berbagai-bagai kepandaian. Dalam kepandaian
yang tersebut dan dalam bahasa Belanda mereka tiap-tiap pagi dari pukul 8 – 1
dapat pelajaran. Sebab ia keluaran kelas II tadi, maka ia biasanya lekas sudah
berhitung, menulis dan sebagainya. Jika ia sudah, maka ia segera disuruh
menolong mengajar di kelas rendah SI school yakni pada anak-anak yang baru
masuk sekolah. Jadi murid-murid yang besar-besar tadi tiap-tiap hari boleh
belajar mendidik, tidak dalam teori saja, malah juga dalam praktek.
Pendeknya kerja murid-murid di atas dari
kelas V yang keluaran sekolah kelas II, dan berumur lebih dari 15 tahun adalah
seperti di bawah ini :
a.
Dari pukul 8 – 1 (pagi) ia meneruskan
pelajarannya di sekolah. Karena ia lekas sudah mengerjakan tiap-tiap vak, maka
selama ¼ jam temponya itu, ia disuruh membantu guru-guru SI di kelas I dan II
(semacam guru bantu).
b.
Tiap-tiap sore murid-murid besar itu
diberi ilmu pendidikan (paegogogie), supaya teorinya buat mengajar semacam
guru.
Selamanya ini pekerjaan ada langsung.
Sebentar lagi kita memang berani mempercayakan kelas I sama sekali kepada
anak-anak yang sudah kena kursus itu. Tentulah kursus sore itu belum bisa
sempurna, sebab belum cukup banyaknya anak-anak yang dari kelas V ke atas itu.
Sesudah tiga atau empat tahun lagi barulah kursus sore itu bisa diatur semacam kweekschool
yakni dikasih pengajaran sama tinggi dengan kweekschool Gouvernement. (kita
sendiri juga sudah keluaran Kweekschool Gouvernement itu).
Tetapi sebab permintaan negeri-negeri yang
lain-lain di atas tadi, maka dari sekarang kita mesti bersiap. Tiadalah ada
salahnya kalau sekarang lebih dahulu kita bicarakan gaji murid-murid keluaran
kursus tadi. Kalau murid sudah mendapat kursus 1 tahun, jadi dihitung berhak
mengajar di kelas I SI school, maka gajinya plm. bisa f 40,-. Kalau murid itu
sudah dapat kursus 2 tahun jadi dihitung berhak (bevoegd) mengajar di kelas II
SI school, maka gajinya kira-kira bisa f 50,-. Demikianlah berturut-turut,
sehingga kalau guru-guru tadi sudah berhak (bevoegd) mengajar di kelas VII SI
dan umurnya dipukul rata 22 tahun, maka gajinya bisa f 100,-. Kalau sekolah
maju dan muridnya bertambah-tambah, tentu gajinya guru keluaran kweekschool SI
bisa sempurna.
Di bawah ini kita kasih begrooting, yang
kira-kira bisa diteruskan di kota besar-besar seperti Semarang, Surabaya,
Bandung, Jakarta, dsb.
SI, school yang mempunyai murid 300.
jumlah uang sekolah sebulan = 300 x f 3 = f 900. Gaji guru-guru = f 40 + f 50
+f 60 + f 70 + f 80 + f 90 + f 100 = f 490. Sisa = f 510.Yang f 500 lebihnya
ini boleh sebagian dipakai untuk menambah gaji guru yang sudah lama dinas, yang
rajin, pandai dan sebagainya sehingga rasanya maximum f 200 bisa didapat.
Banyak murid itu bisa lebih dari 300, karena kita bikin paralelklassen (Ia, Ib,
Ic; kelas-kelas ini sama pengajarannya, Cuma gurunya lain-lain, sehingga di
klas I saja bisa masuk lebih dari 2 atau 3 guru, dan murid lebih dari 100 atau
200).
Jadi pendeknya pemuda-pemuda keluaran
kursus SI Semarang, bisa jadi guru di SI school lain-lain. Buat anak-anak
keluaran kelas II school juga kita terima terbuka jalan buat memimpin Rakyat,
baik yang kecil, baik yang besar. Karena sesudah sekolah, maka guru-guru SI
school bisa membela perkumpulan politik atau Vakvereeniging, ilmu-ilmu mana di
SI school sudah diteori dan dipraktekan.
Berapa perlunya onderwijs di Hindia ini
tiadalah berguna dibicarakan lagi. Berapa banyaknya kota-kota yang bisa kita
rebut sekolahnya sudah terang, bahwa Gouvernement tidak akan bisa dalam 10
tahun ini memberi pengajaran pada 50 % anak-anak saja (di tanah Jawa saja baru
kira-kira 2 % orang keluaran sekolah Gouvernement) karena memangnya tidak ada
orang, kalau buat ornderwijs, sebab sudah banyak termakan oleh lasykar darat
dan laut. Pemerintah sekarang asyik membicarakan dan meneruskan perkara armada
laut, yang akan memakai ongkos kira-kira f 220.000.000,- Apalagi leerplicht
(paksaan memasukan tiap-tiap anak ke sekolah), tentulah masih bertambah
mustahil (jauh) lagi.
Buat kita SI yang memihak pada Rakyat
masih besar pasar yang bisa direbut. Makin lekas kita bergerak, dan bersiaplah
murid dan sekolah, makin lekas sampai maksud. Kalau kita kaum Rakyat kerja
keras semacam ini, tentu dalam 10 atau 15 tahun sudah bisa memakan hasilnya
pekerjaan kita. Sudah bisa beribu kaum yang tepelajar, yang pandai mengerti dan
memihak dengan pikiran dan nyawanya pada Rakyat.
Peraturan onderwijs semacam ini tidak
mimpi saja, tetapi bisa menjadi, ya, dan mesti menjadinya. Berulang-ulang sudah
diterangkan, bahwa dari pemuda-pemuda keluaran sekolah Gouvernement tidak boleh
kita mengharapkan besar pertolongan buat pergerakan Rakyat. Seperti sudah
diterangkan di atas, anak-anak yang sebagian besar keluaran kweekschool SI bisa
dapat pekerjaan di golongan SI (lain dari pada sekolah tentu vak-vak
vereeniging akan suka mengambil anak-anak keluaran SI kita).
Anak-anak keluaran SI school, yang mau
meneruskan pengajaran pada ambachtschool Gouvernement dan sebagainya, tentu
dari pihak kita tak akan dapat halangan. Melainkan kita akan menjaga, supaya ia
sanggup membuat examen (ujian). Sekarangpun rupanya sudah ada satu dua
anak-anak yang baru-baru ini tidak diterima di HIS lantaran mana ia lari dari
SI school kita, tetapi belum lama ini diterima di HIS tadi. Jadi rupanya pintu
HIS Gouvernement, tidak ditutup buat anak-anak SI school.
Sebaliknya, kita tak perlu takut, bahwa
skolah SI kita akan jadi kosong. Anak-anak keluaran kelas II berumur 12 - 13,
yakni bibit kita sejati, tidak akan bisa diterima oleh Gouvernement. Lagi pula
tiap-tiap minggu Kromo membawa anaknya pada kita, dan tiap-tiap minggu
anak-anak minta keluar dari partikulir 1-1, dan masuk pada sekolah kita.
Katanya sebab pelajaran baik, bayaran lebih murah dan buat anak-anak ada
bermacam-macam permainan dan perkumpulan. Kebenaran itu boleh kita buktikan,
dengan keterangan, bahwa ada murid kita yang dari Cepu, dari Sragen (Solo),
dari Jawa Barat dan lain-lain. Diantaranya ada yang minta keluar dari HIS
Gouvernement.
Pendek kata, dalam berlomba mencari pasar,
yakni merebut mendidik sekalian anak Kromo, SI tak perlu khawatir. Makin besar
dan banyak sekolah-sekolah kita dirikan, makin lekas kita sampai di padang
kemajuan. Kalau onderbouw (sekolah rendah) sudah cukup, maka niscaya kita
dengan pertolongan SI bisa mendirikan middenbouw (sekolah tengah). Kalau sudah
ada umpamanya 6 sekolah rendah, dan sekolah-sekolah itu diatur dari central,
maka tiadalah akan susah bagi tiap-tiap sekolah mengadakan fonds (dana)
kira-kira f 100 sebulan, sehingga sesudah 5 tahun saja sudah bisa ada uang
kira-kira f 40.000,- Dengan derma dan l.l uang itu boleh ditambah-tambah.
Sesudah 5 atau 6 tahun SI school berdiri, yaitu sesudah kira-kira ada anak-anak
yang mesti keluar, maka anak-anak itu boleh meneruskan pengajarannya di sekolah
tengah SI ambachtsschool umpamanya.
Peraturan batin ambachtsschool itu kita
mesti pegang sendiri (buku-buku baca, ilmu bumi, babad, dan sebagainya). Hanya
perkara bertukang atau tehnik kita serahkan pada guru-guru yang biasa. Guru ini
mudah saja didapat. Di negeri Jepang, Swedia, atau Swiss ribuan orang yang
pandai dan mau meninggalkan engeri, kalau ada penghidupan yang sempurna di
negeri lain. Juga di Hindia ini lambat launnya akan timbul pemuda-pemuda yang
rela memihak pada kita. Ringkasnya perkara guru itu (tehnik) kita tak perlu
sekejappun cemas, asal ada uang di Kas.
Pun buat anak-anak keluaran ambachtsschool
atau sekolah tengah lain-lain itu, adalah akan mudah juga jalan penghidupan,
asal didikannya kerakyatan. Asal masih ada Rakyat dan pergerakan di Hindia ini,
maka bagi pemuda-pemuda itu akan cukup pekerjaan. Bersambung dengan Rakyat dia
akan bisa memimpin Koperasi dalam pertukangan umpamanya. Lagipun di tempat
lain-lain tentu ia bisa dapat kerja, asal pintar dan rajin saja.
Demikianlah ringkasnya saja maksud kita
tentangan onderwijs buat Rakyat. Barangkali reaksi dan musuh kita tak akan
kurang terus memfitnah dan menghalang-halangi daya upaya kita. Nyata sudah,
bahwa dari pihak pemerintah kita tidak akan mendapat bantuan. Jangankan
bantuan, tetapi kemerdekaan pun tidak kita peroleh, yakni kemerdekaan sepeti
pada tiap-tiap orang atau vereeniging (partikulier dan zending) buat mendirikan
sekolah yang cocok dengan haluan masing-masing.
Seperti Muhammadiyah, zending dan
lain-lain di Hindia ini dapat kepercayaan dan bantuan lahir dan batin dari
pihak pemerintah. Pada bulan Agustus tahun ini pemerintah sudah membenarkan
statusnya “Vereeniging buat mendirikan dan menguruskan sekolah-sekolah Kristen
untuk uitgebreid Lager, Middelbaar dan Vakonderwijs-nya di Jawa Tengah”. Dasar
onderwijs-nya disebutkan Gods-Woord = Firman Tuhan, yakni Tuhannya kaum
Kristen. Memang sudah lama di Hindia ini zending bergerak (Minahaasa, Batak,
Ambon, Jawa). Memang sudah banyak di Hindia ini kaum Kristen, lebih-lebih dalam
bala tentara (Ambon, Manado).
Meskipun di Hindia ini tinggal plm. 50
juta kaum Muslimin, tetapi pemerintah tiada menaruh keberatan atas propaganda-nya
kaum Kristen, yang dalam babad sering berperang-perangan dengan kaum Muslimin.
Kita orang perjuangan tentu tidak akan mengurangkan satu agama terhadap kepada
agama lain – Cuma kita campur meminta kemerdekaan seluas-luasnya, buat
onderwijs, yang sepanjang keyakinan kita cocok dengan keperluan Rakyat, yang
melarat, Onderwijs mana juga oleh SI Semarang sudah di akui sah.
Tetapi seperti sudah disebutkan lebih
dahulu, kita sudah dapat halangan keras, ketika SI mau mengadakan pasar derma,
untuk memperbaiki sekolah saja. Juga baru-baru ini dilarang anak-anak mencari
derma di desa-desa dengan menyanyi international. Karena kita tidak mendapat
subsidi, maka derma itulah saja jalan buat kita, untuk meneruskan daya upaya.
Sehingga kalau derma itu dihalang-halangi, maka sama artinya dengan
menghalang-halangi sekolah Serikat Islam.
Pendeknya, sekolah kita ada bisa segenap
waktu dapat ancaman atau bahaya.
Terus atau tidak kita semata-mata
bergantung pada SI. Kalau SI sama sekali mau mempertahankan bibit yang sudah
kita tanam itu seperti SI Semarang (Bandung, Sukabumi, dll juga akan mau) maka
halangan tentu semuanya terhindar. Sesudah tentu maksud kita gampang dan lekas
sampai.
Buat kita sendiri sudah cukup bukti yang
menerangkan, bahwa peraturan SI school Semarang, sudah dimufakati oleh
beribu-ribu kaum SI. Hal ini mengeraskan keyakinan kita, bahwa jalan dan haluan
kita lurus dan sah. Apa kehendak dan perbuatan kaum sama, kita tunggu dengan
hati tetap. Ikhtiar kita, yaitu hendak menarik hati SI terhadap kepada didikan kita,
sudahlah cukup hasilnya.
Kepercayaan Rakyat yang sudah diperoleh
itu bagi kita laksanakan sesuatu wet yang kita akui sah dan terkuasa;
kepercayaan itulah saja yang menumpu (mendorong) kita dari belakang untuk
berjalan terus, dengan tiada menoleh kiri kanan.
__________________
DAFTAR KATA DAN ISTILAH
ASING DALAM ARTIKEL DI ATAS
1. Onderwijs = Pengajaran, pendidikan,
atau perguruan.
2. Lid SI = Anggota Sarekat Islam.
3. SI School = Sekolah atau Perguruan SI.
4. Surabayasch Hendelsblad = Harian
perdagangan Belanda yag terbit di Surabaya.
5. Vergadering SI = Rapat atau pertemua SI.
6. Destuur = Pimpinan / pengurus.
7. Peraturan Onderbouw (sekolah dasar) =
Tingkat bawah / dasar.
8. Sekolah particulier = sekolah swasta.
9. Hawa (geest) di Sekolah SI = lebih tepat :
jiwa di sekolah SI.
10. HIS Gouvernement = Hollands Indlandse
School Governement = sekolah dasar pemerintah (khusus untuk pribumi anak
pegawai negeri tingkat menengah ke atas).
11. Vereeniging = perkumpulan, persatuan.
12. Sifat-sifat yang kuno = lebih tepat :
sifat-sifat yang lama.
13. Dalam watku temponya = dalam waktu
istirahat.
14. Kweekschool = sekolah pendidikan guru
(untuk sekolah dasar).
15. Sekolah kelas II = sekolah ongko loro,
sekolah dasar untuk anak pribumi golongan rendahan.
16. Babad onderwijs = sejarah pendidikan.
17. Kencang otak = berotak cerdas.
18. Rusland = Rusia.
19. Vak-vak berhitung, dll = mata pelajaran
berhitung dll.
20. Boycot = Boikot.
21. Reglement = Reglemen, peraturan.
22. Sifat yang batin-batin itu = Sifat
kejiwaan itu.
23. Bibliotheek = Perpustakaan.
24. Voetbal Club = Perkumpulan sepak bola.
25. Gromopon = Gramopon, pesawat pemutar
piringan hitam.
26. Bangku, bord, dsb = Bangku, papan tulis,
dsb.
27. Cukup aanleg dalam pertukangan = Cukup
berbakat dalam pertukangan
28. Bisa menggenggam vergadering = bisa
menguasai pertemuan / rapat.
29. Speker = Pembicara.
30. Peraturan Middenbouw (sekolah tengah)
peraturan tingkat menengah (sekolah menengah).
31. Negeri-negeri lain = Daerah-daerah lain.
32. Uitspanning (pauze) = Waktu istirahat
(jedah).
33. Begrooting = Anggaran.
34. Parallelkalassen = Kelas-kelas sejajar,
misalnya kelas I a, I b, dsb.
35. Vakvereeniging = Serikat sekerja / buruh.
36. Lasykar darat dan laut = Angkatan darat
dan laut.
37. Leerplicht = Wajib belajar.
38. Ambachtschool Gouvernement = Sekolah
tehnik pemerintah.
39. Examen = Ujian.
40. Diatur dari Centraal = Diatur dari pusat.
41. Fonds = Dana.
42. Uitgebreid Lager, Middelbaar dan
Vakbonderwijs = pendidikan / pengajaran tingkat rendah, menengah dan kejuruan.
43. Wet = Hukum, undang-undang.
44. Babad = Sejarah.
45. Commite = Panitia.
46. Orde = Aturan.
47. Pulau Borneo = Kalimantan.
48. Ilmu didikan (paedagogie) = Ilmu
pendidikan.
(Red.S)


No comments:
Post a Comment