BIOGRAFI INTELEKTUAL SPIRITUAL MUHAMMAD
Resensi - Dalam perjalanan seluruh hidupnya, kehidupan Nabi
Muhammad SAW dipenuhi beragam peristiwa, situasi, dan pernyataan yang
mengandung pelajaran spiritual paling dalam. Memang telah banyak buku serupa
ini, seperti Karya
K.H. Moenawar Chalil dengan
“Tarikh Nabi Muhammad Saw” yang sampai berjilid jilid, atau juga Karya karen Amstrong “ Muhammad: A Prophet for Our Time” yang
cukup fenomenal itu, namun dalam buku ini
penulis membuat kita melihat dari sudut pandang berbeda dan baru. Dengan
sentuhan emosi, kekaguman, rasa takzim yang penuh dan konsisten menghindari
klise penulisan biografi Muhammad, yang umumnya menjelaskan peristiwa yang
dialaminya merupakan rentetan keajaiban semata, penulis mengungkap
sisi manusiawi Muhammad. Meski sebelumnya Tariq Ramadan
terbiasa menulis untuk kalangan akademis, di buku ini Ramadan menuturkan sirah
indah Sang Nabi dengan bahasa yang mudah dipahami. Juga mengalir meski tidak
meliuk-liuk seperti cara Armstrong bertutur. Banyak orang bisa menikmati buku
ini. Bahkan, audiens yang Ramadan bayangkan adalah baik muslim dan non-muslim,
seluas audiens yang Armstrong bidik.
Bahwa hidup Muhammad adalah rangkaian kerja keras,
kontemplasi, pengorbanan, dan pengambilan keputusan yang sering penuh risiko.
Nabi merupakan panutan bukan saja dari sisi kualitas dirinya, melainkan juga
dari sisi keraguannya, luka-lukanya, dan terkadang kekeliruan keputusannya yang
ditunjukkan oleh wahyu atau para sahabatnya Seluruh sisi kehidupan nabi adalah
wahana pembaruan dan transformasi, mulai dari detail terkecil hingga peristiwa
terbesar. Orang islam yang setia, orang beriman dari agama lain, dan siapa pun
yang mempelajari kehidupan Muhammad, tanpa memedulikan keyakinan agamanya,
dapat menarik berbagai pelajaran dari kehidupannya sehingga mereka dapat meraih
esensi pesannya dan cahaya keimanan darinya.
Kelebihan buku ini, seperti
yang saya ungkap sebelumnya bahwa memberikan sudut pandang baru, tidak melulu
tentang keajaiban yang terlihat tanpa upaya karena keistimewaan sebagai seorang
rasul Tuhan. Melainkan mengupas karakter manusiawi Muhammad, sisi intelijensia,
emosi, dan spiritualitasnya. Serta beragam pelajaran yang dapat terpetik dari
semua kecemerlangan dan keraguan keputusannya. Terasa sangat dekat, sebagaimana
diri kita sendiri. Bahwa Muhammad memang seorang manusia, dapat kita jadikan
suri teladan. Gaya bahasanya pun ringan, detail dan mudah dicerna bagi siapa
pun, termasuk pembaca non muslim.
Alur ceritanya memang kadang maju/mundur jauh sekali. Tapi
tak lama-lama. Alurnya pun tak jarang bergeser dari kisah hidup Rasul, ke
ayat-ayat Quran, dan ke ajaran-ajaran spiritual atau ajaran-ajaran yang relevan
dengan situasi dunia saat ini. Tapi, sekali lagi, semuanya diulas secara
singkat dan padat. Sehingga, pembaca tak akan banyak terganggu untuk menikmati
kisah yang sedang dituturkan.
Prof. Tariq Ramadan, MA, Ph.D (penulis buku "biografi intelektual spiritual Muhammad")
Penulis yang juga cucu Hasan Al Banna
ini berhasil menyajikan pesan-pesan yang
ia lahirkan dari pemikiran yang mendalam sebagai racikan kisah yang dihidangkan secara sederhana. “Di antara
berbagai kekacauan yang terjadi di dunia,” pesan-pesan ini akan menjadi
bermakna. Dalam buku ini banyak hal menarik yang bisa
kita jadikan renungan dan pelajaran. Salah satunya adalah petikan halaman-halaman
di bawah ini
Halaman 123, "Revolusi hati ini (Umar bin khattab)
merupakan sebuah tanda, dan ia mengajarkan dua hal: tidak ada yang mustahil
bagi tuhan, dan kita tidak boleh memberikan penilaian mutlak terhadap sesuatu
atau seseorang."
Halaman 280, yang mengisahkan tentang poligami nabi setelah
monogami dengan Khadijah. "Pernikahan-pernikahan yang dilakukan nabi
terkait dengan kondisi ini: beberapa istrinya berasal dari klan-klan yang telah
menjadi keluarga Muhammad sehingga secara otomatis dipandang sebagai sekutunya
sendiri. Oleh karena itu, komunitas Islam sendiri tampaknya menjadi semakin
kukuh dan tak tertandingi."
Halaman 285 "Yang tersimpan dalam hati berada jauh
di luar batas pengetahuan manusia. Nabi tahu keberadaan orang-orang munafik di
sekitarnya, tapi beliau tidak mengambil tindakan khusus terhadap mereka. Beliau
tetap bersikap hati-hati, terkadang waspada, tapi beliau tidak menetapkan
keputusan final."
“Sesungguhnya pada
diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang
mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
(Al-Ahzab: 21)
__________________________________
diresensi oleh:
Khabib Mulya Ajiwidodo
(sekretaris Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Blitar)


No comments:
Post a Comment