Waktu kecil
kita mungkin pernah mendengar kalau orang PKI itu tidak bertuhan, ateis, dan
tidak percaya kehidupan akhirat. Itulah yang membuat resistensi luar biasa
ketika isu PKI kembali diangkat. Konfrontasi PKI yang ateis dan kelompok Agama,
terutama Islam begitu sengit di masa lalu. Namun ada catatan menarik yang
pernah ditulis Ajip Rosidi dalam bukunya yang berjudul Mengenang Hidup Orang
Lain, yang diterbitkan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2010.
Ketika Ajip
Rosidi menulis Obituari[1] atas meninggalnya A.S
Dharta, salah satu sastrawan pendiri Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan juga
anggota PKI, Ajip enggan mengucapkan selamat jalan, itu disesuaikan dengan
keyakinan orang-orang komunis yang tidak percaya Tuhan, tidak mengenal akhirat.
Sehingga, Ajip berfikir bahwa kematian orang PKI berarti berakhir sudah
perjalanannya.
Obituari
tentang A.S Dharta tersebut berada di halaman 33-38. Namun tulisan Ajip
kemudian dikritik oleh Martin Aleida, yang juga pernah menjadi anggota Lekra.
Martin mengkritik Ajip karena enggan mengucapkan selamat jalan kepada mendiang
A.S Dharta. Tulisan Ajip itu disebut Martin sebagai taktik kaum fasis untuk
menaklukkan musuh-musuhnya, yang menganggap bahwa orang PKI anti Tuhan.
Ajip
kemudian menjelaskan di halaman berikutnya (39-43) tentang keraguannya
mengucapkan selamat jalan kepada A.S Dharta. Ajib menulis seperti ini :
“Sebagaimana
paham komunis, niscaya berpegang pada filsafat materialisme, yang hanya percaya
adanya materi, dan menolak percaya yang bukan materi seperti Tuhan, Malaikat
dan yang ghaib lainnya. Tidak percaya akan adanya akhirat. Menurut mereka,
setelah meninggal orang tamat riwayatnya, karena itu saya ragu untuk
mengucapkan selamat jalan kepada Dharta. Karena sebagai seorang materialis, dia
niscaya tidak percaya dengan adanya kehidupan lain setelah mati. Dan orang
komunis niscaya ateis.”
Tulisan itu
kemudian dibaca banyak orang, termasuk A. Makmur K yang mengirimkan surat
kepada Ajip, kerabat Dharta tersebut menyesalkan kenapa Ajip Rosidi menyangka
Dharta seorang Ateis. Makmur pun menjelaskan bahwa Dharta seorang beriman,
keluarga Dharta juga aktif dalam dakwah Islamiah melalui yayasan Al-Fatima,
yang diambil dari nama Ibu Dharta.
Lalu dari
temannya bernama Ading (RAF), Ajip pun juga mendapat cerita yang mengejutkan.
Beberapa bulan sebelum meninggal, A.S Dharta beserta anak dan istrinya
berkunjung ke rumah Ading. Istri Dharta kemudian memberitahukan bahwa Dharta
sekarang sudah sholat.
Ajip pun
berulang kali mengucap istigfar karena merasa bersalah. Ajip telah salah sangka
kepada Dharta, ia pun meminta maaf kepada keluarga Dharta. Dalam akhir
catatannya di halaman 43, Ajip pun mendoakan semoga Alm. Dharta ditempatkan di
tempat yang layak di hadirat-Nya bersama hamba-hamba yang beriman. [red.s]

No comments:
Post a Comment