Perjalanan
Menulis (Bag. 7)
“Ini leadnya
berita, bukan opini,” ujar Bu Sirikit Syah setelah membaca paragraf pertama
tulisan yang saya buat. Peserta writing camp memang ditugaskan menulis
di tempat, setelah materi dari Bu Sirikit Syah berlangsung. Materinya adalah
menulis opini.
Tulisan saya
dibaca paling pertama, karena –kata Bu Sirikit—judulnya menarik. Saya membuat
judul “Pemilu yang Memilukan”. Sayangnya, paragraf pertama justru lebih tepat
disebut berita, ketimbang opini. Tidak ada isu yang saya angkat, hanya bersifat
informasi.
Kata beliau,
opini itu harus membidik isu tertentu. Ada sesuatu yang hendak kita kritisi.
Karena saya menulis tentang pemilu yang memilukan, maka beri pancingan bahwa
pemilu (dalam hal ini pemilu 2009) itu memilukan. Baru pada paragraf berikutnya
dijelaskan dimana letak memilukannya. Karena opini, maka argumentasi harus
disertai data dan fakta. Jangan sampai murni asumsi.
Data bisa
digali dari hasil perhitungan KPU, tingkat partisipasi pemilih, juga
kemungkinan adanya kecurangan, politik uang, dan hal-hal lain yang bisa
menguatkan argumentasi penulis. Untuk itu pentingnya melihat data yang ada. Sumber
lain yang bisa diambil adalah pemberitaan media. Bisa mengutip sebagian,
termasuk nama media yang memberitakan.
Hari itu,
saya pun mulai belajar bentuk tulisan lain, yaitu opini. Setelah sebelumnya
belajar intens menulis berita, baik straight atau feature news.
Disisi lain saya juga tengah tertarik untuk belajar sastra, terutama cerpen dan
novel. Namun bukan berarti saya sudah begitu mahir menulis berita. Masih banyak
kekurangan.
Bu Sirikit
Syah termasuk sedikit dari sekian penulis berbakat yang bisa membuat berbagai
bentuk tulisan. Biasanya kita hanya mengenal penulis dengan satu keahlian
tertentu, misalkan sastrawan yang identik dengan menulis puisi, cerpen, sampai
novel. Atau akademisi yang konon hanya bisa menulis karya-karya akademik.
Bu Sirikit
Syah adalah paket komplit. Selain juga pernah sebagai Jurnalis tulis di Surabaya
Post, editor The Brunei Times Brunei Darussalam, juga pernah menjadi
reporter televisi, sampai menjadi koordinator liputan dan produser program
berita di SCTV dan RCTI, ketika kedua stasiun televisi masih bersama-sama
menjalankan program Seputar Indonesia.
Selain itu
Bu Sirikit Syah juga menulis karya sastra, beberapa cerpennya pernah dimuat di
koran nasional. Juga pernah menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Harga
Perempuan (1997). Belum lagi tulisan lain yang berbetuk esai atau opini,
termasuk pernah menjadi koresponden freelance untuk koran The Jakarta Post
yang berbahasa Inggris itu.
Merupakan
kesempatan yang berharga bisa mengikuti kelas menulis Bu Sirikit Syah. Meskipun
nama “Sirikit” terdengar asing untuk nama orang Indonesia. Lebih familiar
sebagai nama Thailand. Namun Sirikit ternyata nama asli beliau. Hernani
Sirikit. Kemudian untuk kepentingan media, ditambah nama “Syah” dibelakangnya.
Jadilah Sirikit Syah.
Sirikit
sendiri ternyata adalah nama Ratu Thailand, Istri dari Raja Bhumibol Adulyadej
yang meninggal akhir tahun 2016 lalu. Saat ini Ratu Sirikit berusia 84 tahun.
Nama resminya adalah Somdej Phra Nangchao Sirikit Phra Boromarajininat. Konon
Ayah Bu Sirikit Syah sangat mengagumi Ratu Sirikit, sampai anaknya dijadikan
nama anaknya.
Diluar dari
kelas menulis tersebut, saya beberapa kali melihat Bu Sirikit Syah dalam Talk
Show di televisi, terutama di JTV. Juga membaca tulisannya di media massa.
Setelah mengikuti kelas menulis dari Bu Sirkit Syah, saya pun tertarik untuk
mencoba semua bentuk tulisan.
Tahun 2009
itu, yang saya tahu masih bentuk berita, sedikit bentuk sastra dan opini. Belum
mengenal esai, belum juga mengenal tulisan konten. Kemampuan mengolah diksi
masih ala kadarnya, penguasaan kosa kata pun juga belum seberapa. Tulisan
banyak dimuat media yang dikelola sendiri, seperti majalah dan buletin sekolah.
Yang dimuat di koran, adalah tulisan bersama tim redaksi, bertajuk deteksi,
juga kolom-kolom surat pembaca yang terbatas.
Dibandingkan
pelajar SMA yang karyanya sudah dimuat di koran, majalah, tabloid lokal dan
nasional, saya belum ada apa-apanya. Terutama Majalah Horison yang khusus
membuka rubrik untuk pelajar. Bahkan sudah banyak pelajar SMP/MTs yang cerpen
atau puisinya dimuat Horison. []
Blitar, 13
Maret 2017

No comments:
Post a Comment