Tidak seperti tahun tahun sebelumnya,
pada tahun 2017 terlebih pada bulan September ini kisah-kisah tentang PKI
kembali dihembuskan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan 19 tahun terakhir ini,
dimana pasca 98” kisah tentang PKI jarang sekali di bicarakan atau mungkin sejarahnya
sudah masuk rongsokan ingatan rakyat Indonesia, akan tetapi bulan ini (September
2017) mulai Dari pejabat teras negara sampai pedagang kaki lima pun saat ini
mulai membuka kembali memorinya tentang PKI dan film G30S/PKI.
Terlebih lagi, panglima TNI Gatot
Nurmantyo mengintruksikan kepada anak buahnya untuk menonton film Pemberontakan
G30S/PKI. Hal itu tentu menimbulkan efek yang besar dan akan diikuti bukan
hanya oleh jajaran TNI akan tetapi juga diikuti oleh sebagian masyarakat. Bisa
kita lihat pada bulan ini banyak aktivis
ormas yang menjadwalkan nobar film yang
disutradarai Arifin C Noer tersebut, tak terkecuali siswa-siswa sekolah khususnya tingkat SMA.
Menonton film G30S/PKI pada masa ini
tentu berbeda dengan kewajiban menonton film G30S pada masa orde baru. Pemutaran
film tersebut saat ini hanyalah sebagai tameng kecil diantara jutaan tameng
untuk menjaga ideologi pancasila yang di anut bangsa ini dari ancaman ideologi
lain termasuk komunis. Kalau masa orde baru dulu menonton film G30S/PKI
bertujuan untuk memberikan virus pembenaran terhadap apa yang dilakukan ABRI
pada saat itu, tahun 65”.
Sebagai masyarakat modern yang terpelajar,
tentunya ketika menonton G30S/PKI kita tidak serta merta melahap habis seluruh
adegan yang terdapat di Film. Hal yang sangat elok kita lakukan adalah
mengimbangi isi film tersebut dengan sebuah diskusi-dikusi kecil, hal tersebut
bertujuan untuk meluruskan bila ada adegan di film tersebut yang kurang pas
atau adegan palsu yang dirancang pemerintah orde baru.
Mengadakan forum diskusi kecil pasca
menonton film tersebut tentunya bukan hal yang sulit untuk dilakukan, mengingat
saat ini sudah banyak literatur yang bisa kita gunakan untuk berdiskusi, diantaranya adalah buku “Dalih Pembunuhan
Massal” karya John Rossa, “Benturan NU
Dan PKI” karya Abdul Mun’in , “Orang-Orang
Dipersimpangan Kiri Jalan” karya Soe Hog Gie,“Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah
Analisis Awal” karya Ben Anderson dan Ruth McVey, “Ayat-ayat
yang Disembelih” karya Thowaf Zuharon, selain buku diatas kita juga
bisa menambahkan buku “Catatan Kritis IMM
Melawan Komunisme” karya immawan ajib purnawan serta masih banyak lagi
literatur lain baik karangan penulis dalam negeri ataupun luar negeri.
Hal yang tetap di ingat adalah
tetaplah kritis, bernalar sehat dan berfikir bersih mengingat situasi politik saat ini yang membabi buta, karena bisa jadi isu PKI
adalah sebuah alat politik suatu kelompok.
INGAT
!!! film Pemberontakan G30S/PKI bukan
untuk anak-anak, karena ada unsur kekerasan yang sangat mengerikan.
__________________
Coretan
Khabib M Ajiwidodo
(Paguyuban
Srengenge Blitar)

No comments:
Post a Comment