Psikologi
Revolusi Sebagai Vaksin Pemersatu Bangsa
(Refleksi
Pemikiran Gustave Le Bon)
Oleh : Riyan Betra Delza
(Ketua Perhimpunan Mahasiswa
Magister Psikologi Universitas Mercubuana Yogyakarta)
Seringkali,
dikatakan bahwa tindakan seseorang atau kelompok tergantung pada tingkat
pengetahuan (rasional)-nya. Realita sosial kenyataannya tidak selalu demikian.
Meskipun sebuah gerakan selalu dimulai oleh tindakan atas dasar motif alasan
yang rasional, kita tidak boleh lupa bahwa persiapan untuk menuju gerakan itu
sendiri tidak akan bisa mempengaruhi orang banyak sebelum alasan-alasan
tersebut berubah menjadi hal yang sentimentil. Inilah yang dijelaskan Gustave
Le Bon dalam Psikologi Revolusi. Ada empat aspek yang mempengaruhi bagaimana
individu atau kolektif melakukan perlawanan menurut Le Bon: logika mistis,
logika rasional, logika afektif, dan logika kolektif.
Dari
manapun asalnya, revolusi tidak akan produktif sebelum ia merasuk ke dalam jiwa
banyak orang. Logika rasional digunakan untuk menunjukkan penyalahgunaan prinsip-prinsip yang harus dihancurkan. Namun
berbagai harapannya harus dibangkitkan dan dikembangkan menjadi sesuatu yang
menggerakkan banyak orang. Hal ini merupakan domein afeksi dan mistis yang
mampu memberikan kekuatan pada manusia untuk bertindak. Pada saat revolusi
Prancis, logika rasional yang dianut oleh para pemikir digunakan untuk
menunjukkan kekurangan rezim lama dan membangkitkan keinginan untuk
mengubahnya.
Logika
mistik menginspirasi keyakinan terhadap kebaikan-kebaikan yang dibangun di
dalam jiwa masyarakat berdasarkan kaidah-kaidah tertentu –agama, keyakinan, dan
kepercayaan. Logika afektif mampu memberikan kebebasan hasrat banyak orang yang
sebelumnya dibatasi, dan mampu menyebabkan berbagai perbuatan-perbuatan yang
kadang tidak terpikirkan. Di akhir, logika kolektif digunakan untuk menghimpun
dan merajut majlis-majlis, dewan-dewan yang tak akan pernah terdorong oleh
logika rasional, afektif, ataupun mistis.
Bagi
Le Bon, logika mistis penting dalam sebuah revolusi. Hal ini jarang diungkapkan
oleh para pemikir-pemikir gerakan sosial. Le Bon membagi konsep revolusi
menjadi tiga; revolusi ilmiah (sains), revolusi agama, dan revolusi politik.
Jika revolusi ilmiah semata-mata berasal dari kegelisahan logika rasional,
berbeda dengan revolusi agama dan politik yang lebih banyak dipengaruhi oleh
faktor afektif dan mistis. Nalar hanya memainkan bagian yang lemah dalam
revolusi politik dan agama.
Sebuah
kepercayaan politik atau agama merupakan tindakan keyakinan yang terendap
melalui ketidaksadaran, bagaimanapun penampilannya, kuasanya tidak dipegang
oleh nalar. Orang yang sudah terhipnotis oleh imannya, ia siap mengorbankan
kepentingan, kebahagiaan, dan bahkan nyawanya untuk kemenangan imannya.
Kekuatannya bisa mendominasi pikiran dan hanya dapat dipengaruhi oleh waktu.
Kekuatan dari keyakinan politik dan agama, yang telah menggerakkan dunia,
dilahirkan oleh unsur mistis dan afektif. Karena itu, keyakinan tidak hanya
diciptakan atau diarahkan oleh nalar.
Meski
sekarang kita hidup di dunia yang serba rasional dan positivistik, namun tak
bisa dipungkiri bahwa sejarah gerakan dan revolusi kebanyakan, mesti tidak
semua, diwarnai dengan hal-hal yang sarat akan hal mistis/keyakinan. Lihat saja
bagaimana sejarah revolusi selalu menyematkan mistifikasi pada aktor atau
keyakinan tertentu. Sebagai contoh, sejarah revolusi agama selalu menghasilkan
revolusi politik pada periode kenabian, revolusi Indonesia menyematkan
tokoh-tokoh revolusioner sebagai ‘Juru Selamat’, revolusi Prancis dan Iran
dengan semangat agamanya-Katolik dan Islam, revolusi Soeharto juga menyelipkan
mistifikasi atheisme dan intoleransi pada simpatisan kelompok kiri. Termasuk,
perjuangan sedulur sikep dan JMPPK juga mengatribusikan bahwa alam, gunung, dan
agraria adalah ibu bumi. Tak bisa dipungkiri, sepolitis apapun, aksi umat
beragama akhir-akhir ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor mistis ini.
Gustave Le Bon
Psikologi
dan Prospek Gerakan Sosial
Merujuk
pada beberapa hal di atas, agaknya perlu bagi kita menggunakan kerangka
analisis yang digunakan dalam perspektif psikologi untuk menganalisa dan
merancang sebuah gerakan sosial. Berbekal dari pandangan Bert Klandermans,
Schussman & Soule, Gustav Le Bon di atas, penulis ingin menambahkan elemen
penting pada diskursus gerakan sosial saat ini, di era dimana mewacanakan rasa
ketidakadilan seolah menjadi hal yang tabu.
Tidak
jarang kita mendengar bahwa kemiskinan, kesengsaraan, dan keterbelakangan
adalah cobaan. Tak jarang pula, identifikasi atas ketiganya sering terjebak
dalam logika blaming the victim (menyalahkan si korban). Ada pula anggapan
bahwa ketidakadilan terjadi karena kesalahan prosedur serta tidak berjalannya
fungsi institusi politik. Inilah pandangan-pandangan fungsionalisme.
Dengan
pandangan ini, akhirnya sebuah gerakan sosial terjebak pada paradigma
konformis-reformis. Padahal, banyak problem sosial tidak bisa tuntas hanya
dengan cara mengurangi penderitaan seseorang, mendoakan, serta berharap agar
masalah akan selesai dengan sendirinya. Problem sosial juga tidak bisa diatasi
peningkatan keterampilan, membuat struktur yang ada bekerja dengan baik, dan
menghilangkan permasalahan yang silih berganti terus menerus. Bagaikan memukul
nyamuk satu persatu tapi tidak memberangus ladang nyamuknya. Mungkin dalam
situasi tertentu, pandangan ini masih relevan.
Namun
di tengah krisis ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan ini, paradigma
fungsionalisme memiliki kekacauan di sana sini, utamanya pada titik
identifikasi terhadap akar masalah berikut penyelesaiannya. Perspektif kelas
dihindari, diskursus kesenjangan bahkan dilihat karena lemahnya peran pemangku
jabatan, saran dan rekomendasi diagungkan. Inilah yang menyebabkan kenapa
seabrek problem sosial tak lantas menyulut gerakan sosial yang luas.
Secara
psikologis, masyarakat menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Jika
masalah tidak terus terjadi dan tak pernah henti, maka masyarakat akan
mengalami kegusaran. Potensi kegusaran yang terus menerus terjadi akan
terbentuk menjadi sebuah gerakan perlawanan terhadap “musuh”. Kegusaran,
kemarahan, dan ketidakadilan akan selalu tercerai-berai. Di sinilah peran agen
dalam gerakan sosial menjadi krusial untuk mengorganisir kemarahan kolektif.
Inilah pekerjaan rumah kita. Rasa ketidakadilan harus ditransformasikan,
identitas “kita” dan “mereka” harus ditegaskan, sehingga peluang terjadinya
perubahan secara radikal terbuka lebar.


No comments:
Post a Comment