Teologi
Pembebasan adalah kata majemuk dari teologi dan pembebasan. Secara etimologis,
teologi berasal dari theos yang
berarti Tuhan dan logos yang
berarti ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan
hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Sedangkan kata pembebasan
merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi atas istilah pembangunan (development) yang kemudian
menjadi ideologi pengembangan ekonomi yang cenderung liberal dan kapitalistik
dan umum digunakan di negara dunia ketiga sejak tahun 60-an.
Teologi Pembebasan muncul di kawasan Amerika Latin
sebagai respon atas kondisi sosial, ekonomi dan politik saat itu. Sejak
tahun 1950-an negara-negara kawasan Amerika Latin ini melakukan proses
industrialisasi di bawah arahan modal multinasional. Namun karena mementingkan
pertumbuhan ekonomi, industrialisasi telah menciptakan kesenjangan sosial yang
begitu tajam. Urbanisasi meningkat tajam. Kaum proletar –kelas buruh– tumbuh
dengan cepat. Inflasi melambung, biaya hidup membubung. Ketidakpuasan meluas.
Situasi politik menjadi tegang dan labil. Kudeta terjadi di mana-mana dan
membuahkan pemerintahan diktator militer. Pada saat yang sama, otoritas gereja
Katholik mulai terbuka terhadap perubahan dan pandangan-pandangan dari luar.
Teologi Pembebasan merupakan gerakan yang telah dilakukan
oleh para Romo, Uskup, dan bagian-bagian lain gereja sejak awal tahun 60-an.
Mereka ini memimpin “Gereja untuk Orang Miskin”. Akan tetapi baru pada tahun
1971, Gustavo Gutierrez, asal Peru, adalah orang pertama yang merangkum paham
Teologi Pembebasan secara tertulis lewat bukunya, Teologia de la Liberacion.
Tokoh setelah Gustavo, Juan Louise Segundo (Uruguay), Hugo Asmann (Brazil) dan
John Sabrino (El-Salvador), adalah pastor yang relatif punya otoritas dan
profesional secara akademis. Karena itu Teologi Pembebasan menjadi mainstream
dan paradigma yang khas Amerika Latin.
Pemahaman Teologi Barat (Eropa) yang bersifat
transendental dan rasional, yang berkutat dalam upaya memahami Tuhan dan iman
secara rasional, menurut para uskup Amerika Latin menimbulkan kemandekan
berpikir, bertindak, dan menjauhkan gereja dari masalah-masalah kongkret. Teologi
Barat, dianggap hanya sibuk mengkhotbahkan ajaran Yesus sejauh menyangkut hidup
pribadi, mengimbau orang agar tetap bertahan dan sabar menghadapi penderitaan,
menghibur kaum miskin dan tertindas dengan iming-iming surga setelah kematian.
Menurut mereka, gereja harus secara nyata melibatkan diri
dan berpihak pada rakyat yang tak berdaya. Agama dan teologi, lanjut mereka,
tak boleh meninabobokan umat beriman, melainkan harus memberikan dorongan
kepada rakyat untuk melakukan perubahan. Rakyat harus disadarkan bahwa
penderitaan, kemiskinan, dan keterbelakangan bukan nasib turunan, melainkan
buah dari struktur sosial-ekonomi-politik yang berlaku.
Dalam konteks Teologi Pembebasan, Yesus adalah Sang
Pembebas. Yesus lahir untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin, dan
mewartakan pembebasan bagi mereka yang terbelenggu, yang telah dengan berani
menghadapi serangan para penguasa Romawi yang menindas orang Yahudi.
Pengikut Teologi Pembebasan memang tak menyangkal bahwa
mereka menggunakan analisis marxian. Peranan marxisme hanyalah alat analisis
yang dapat merekam dan mendeskripsikan ketidakadilan dan praktek kekerasan.
Sementara pada sisi lain mereka menolak filsafat materialisme, ideologi ateis
dan pengertian agama sebagai candu masyarakat.
Kesadaran tentang keperluan teologi serupa, rupanya juga
muncul di kalangan umat Isslam. Kita bisa menyebut Hassan Hanafi di Mesir yang
terkenal dengan gagasan Kiri Islam, Ziaul Haque di Pakistan yang menulis buku yang cukup provokatif,
“Revelation and Revolution in Islam” (Wahyu dan Revolusi dalam Islam), Ali
Syari’ati di Iran yang dianggap sebagai ideolog Revolusi Iran dan harus pula
disebut nama Asghar Ali Engineer, India. (Red.S)
____________
Sumber
Pustaka
Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, terj. Hairus Salim dan Imam Baehaqy, (Yogjakarta: LKiS, 2007)

No comments:
Post a Comment