Gambar Diambil Dari Google
Oleh: Rifqi Rahmad Taufiq
Apakah yang anda ketahui tentang
generasi muda sekarang? Apakah idiologi yang dicita-citakan oleh mereka? Apakah
target-terget yang ingin mereka wujudkan? Apakah yang sedang mereka lakukan
hari-hari ini? Yang bisa jawab pertanyaan itu pasti dapat sepeda.
Kita sering membaca atau mendengar
dalam buku-buku, artikel-artikel, jurnal-jurnal atau dari kuliah-kuliah,
khotbah-khotbah, ceramah-ceramah, bahwa; pemuda adalah tumpuhan harapan bangsa,
pemuda adalah pemimpin masa depan, pemuda ialah aset, sumber kekuatan &
kebangkitan bangsa. Tetapi kenyataannya pemuda hari-hari ini banyak curhat
kesana-kemari. Dan curhat itu adalah kebiasaan orang-orang yang kurang sabar
atau tidak berkepribadian.
Lalu kenapa mereka senang curhat?
Karena menurut mereka, diri mereka sedang (kalau tidak selalu) bernasip jelek.
Benarkah pemuda hari-hari ini bernasip sial atau jangan-jangan itu hanya
perasaan mereka sendiri. Memang negara kita hari-hari ini sedang surplus utang,
daya beli menurun, listrik naik, BBM naik, dolar melambung kayak balon di
udara.
Tetapi mari kita hadapakan para
pemuda hari-hari ini dengan sejarah kepemudaan, menyeret mereka untuk melihat
sejarah kepemudaan jaman dulu (tepatnya tujuh belas tahun sebelum proklamasi
1945). Sungguh Para pemuda itulah yang telah mengangkat sumpah bertanah air,
berbangsa & berbahasa satu. Sehingga mewujudkan negara-bangsa indonesia
yang kita cintai ini, & mereka juga adalah para pemuda yang hidup
nyata-nyata dalam penderitaan penjajahan fiodalisme & kapitalisme Belanda.
Tetapi mereka tetap survive dengan cita-cita dari idiologi mereka.
Pertanyaannya jika para pemuda yang
hidup nyesek dadanya, dalam himpitan fiodalisme dan kapitalisme saja mampu
survive dan banyak berkorban dalam mewujudkan cita-cita untuk menjadi satu
bangsa, bahasa dan tanah air. Lalu kenapa para pemuda hari-hari ini buta dengan
kondisi-situasi negara-bangsanya? Kenapa juga, para pemuda hari-hari ini
mendiamkan pembangunan infastruktur yang mangkrak, dan bahkan cendrung
mengamini utang negara yang baru-baru ini, terhitung hanya dalam tiga tahun
(sejak 2014) sudah melojak. Maka dengan itu, bolehkah saya mencurigai bahwa
para pemuda hari-hari ini, tidak punya cita-cita untuk meraih mimpi masa-depan
yang sempurna.
Sejarah ada karena peristiwa. Setiap
Peristiwa selalu saja berkesan. Di dalam kesan ada pesan. Maka melihat sejarah
adalah mengambil pesan. Peristiwa kejatuhan Soeharto ternyata tidak serta-merta
menjadikan proses Reformasi di indonesia berjalan lancar. Sudah 20 tahun
reformasi bergulir, tapi perubahan mendasar belum terjadi. Di dalam panggung
politik, memang terkesan berubah. Tetapi pesan reformasi seakan-akan semu
belaka. Hanya sebatas pada teriakan: tegakkan hukum (tapi anak ibu saya jangan
di adili), atau adili pelangar HAM (tapi di dalam kabinet ada mantan pelangar
HAM), dan pokoknya 'kerja, kerja, kerja' saja tapi tidak mikir dulu.
Para pemuda hari-hari ini harus
segera sadar dan bangun, karena mereka sekarang berada dalam situasi
hyperreality of politics, yakni ruang yang dipenuhi oleh Hoax tersistemasi, kepalsuan
citra (tampang domba, hati srigala), pemutarbalikan fakta dengan data,
disinformasi. Pendek kata, era post-truth. Para pemuda hari ini sudah waktunya
terjaga dari berbagai pengaruh negatif elite yang semestinya di-reformasi itu
justru malah teriak; hidup reformasi, mereka yang terlibat KKN malah berteriak;
berantas KKN, mereka yang terlibat kasus kekerasan HAM, malah jadi orang yang
ikut mengatur negeri ini. Mereka yang tidak mengerti untuk siapa idiologi
negara itu, malah jadi idiolog yang di gaji negara.
Maka semoga saja para generasi muda
hari ini lekas siuman dari berbagai pengaruh negatif itu, maka negara-bangsa
ini akan selamat dari kepongahan para tersangka, sehingga secuil surga yang
kita sebut "negeri" ini, akan dapat menatap masa depan yang lebih
baik dan paripurna.

No comments:
Post a Comment