Sebagai
Organisasi yang lahir 33 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, Muhammadiyah
tentu sudah menciptakan kulturnya tersendiri. Termasuk dalam perspektif
gerakannya. Meski dikenal sebagai gerakan purifikasi yang menolak Takhayul,
Bid’ah, dan khurafat. Namun dalam persepektif sosial, Muhammadiyah selalu
memperbaharui dirinya, sebagai ciri gerakan Islam Modern.
Refleksi menarik
pernah dituliskan oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si dalam sebuah artikel berjudul
“Perspektif Indigenous Muhammadiyah” pada halaman 12-13 Majalah Suara
Muhammadiyah edisi no. 24/th. Ke 97 16-31 desember 2013. Dalam pembukanya,
tokoh yang kini mejabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menulis seperti
ini :
Pakaian adalah bagian dari identitas diri. Muhammadiyah dengan identitasnya telah memiliki pakaian yang pas untuk dirinya. Jika dikenakan pakaian milik orang lain tentu tidak akan cocok, Kemungkinannya, kelonggaran atau kesempitan. Kalaupun ada yang pas ukurannya, belum tentu nyaman untuk dipakai Muhammadiyah.
Menurutnya,
Muhammadiyah sudah merumuskan identitas tajdid atau pembaharuan yang becorak
purifikasi dan dinamisasi. Mengambil posisi tengahan atau moderat yang
dipandang tepat dan relevan bagi Muhammadiyah. Sementara itu, Ahmad Najib
Burhani, yang juga banyak menulis buku dan artikel tentang Muhammadiyah, juga
menyebut bahwa Muhammadiyah adalah organisasi terbuka yang menyerap segala hal
positif dari manapun, termasuk dari Wahabi dan Barat.
Deliar Noer
bahkan mengatakan, jika Moderatnya Muhammadiyah juga berbeda pula dengan
Persatuan Islam (Persis) yang disatu sisi cenderung lebih keras.
Lebih lanjut,
dalam artikel tersebut, Haedar menulis bahwa purifikasi keagamaan yang
dilakukan Muhammadiyah sebenarnya berbeda dari purifikasi kaum revivalis maupun
neorevivalis yang cenderung keras seperti gerakan Wahabi, Salafi, Jamaah
Tabligh, MTA, Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, Ansharu Tauhid, LDII, FPI, dan
gerakan Islam sejenis yang mekar di Tanah Air.
Perbedaan-perbedaan
tersebut bukan untuk dikonfrontasikan, melainkan untuk mengetahui posisi dan
pandangan keagamaannya setiap gerakan Islam dalam bingkai ukhuwah.
Muhammadiyah dan
Islam Indonesia
Dalam berbagai
buku, termasuk diantaranya buku “Muhammadiyah Jawa” karya Ahmad Najib Burhani,
dijelaskan bagaimana respon Muhammadiyah terhadap budaya jawa yang konon penuh
dengan praktek takhayul dan khurafat. Juga respon Muhammadiyah terhadap Islam
Jawa yang memadukan tradisi lokal dengan Islam.
Tentu jika
Muhammadiyah memposisikan diri sebagai gerakan esklusif (tertutup), dakwahnya
tidak akan berkembang sampai ke berbagai pelosok daerah. Juga ketika
Muhammadiyah memposisikan diri sebagai gerakan garis keras yang suka melakukan
sweping semaunya.
Dalam politik
praksis, Muhammadiyah tidak dalam posisi mengejar kekuasaan. Termasuk dalam
pendirian negara Republik Indonesia, juga perumusan dasar negara. Perdebatan
soal dasar negara sudah final, dan Muhammadiyah memilih untuk ikut mengisi
kemerdekaan bangsa Indonesia dengan gerakan-gerakan nyata.
Pada berbagai
aspek itulah kita tahu bagaimana pandangan keagamaan Muhammadiyah. Bagaimana
Muhammadiyah memposisikan diri dalam pembangunan bangsa dan negara. Maka posisi
Muhammadiyah tentu lebih luas, lebih substantif daripada hanya sekedar mengejar
kekuasaan, atau alat yang diorganisir untuk kepentingan tertentu.

1 comment:
Tulisan yang mencerahkan
Post a Comment