Pada tahun
60-an, PKI melalui Lekra begitu gencar menyerang orang-orang yang tidak sepaham
dengan mereka. “kekuatan kebudayaan”nya meliputi berbagai sisi. Selain sastra,
juga teater.
Sebagaimana
yang kita tahu, konfrontasi paling sengit PKI adalah dengan kelompok Agama.
Terutama Islam. Namun gencarnya pengaruh PKI ditanggapi positif oleh salah satu
seniman asal Yogyakarta, yaitu Mohammad Diponegoro.
Nama
Mohammad Diponegoro mungkin kurang familiar, apalagi jika menyebutnya sebagai
seniman. Tidak hanya di kalangan penikmat seni secara luas, namun juga di
kalangan Muhammadiyah sendiri.
Mohammad
Diponegoro lahir di Yogyakarta, 28 Juni 1928. Selain dikenal sebagai
Pustakawan, ia juga lama menjadi redaktur Majalah Suara Muhammadiyah (SM).
Majalah SM merupakan majalah yang cukup diperhitungkan kala itu, meski secara
khusus menyasar pembaca warga Muhammadiyah.
Selain itu,
Mohammad Diponegoro juga pernah mengelola Majalah Budaya Islam bernama Misykah.
Beberapa sajak dan cerpennya pernah dimuat dalam Majalah-majalah Siasat,
Indonesia, Kisah, dll. Pernah juga mengisi acara cerita pendek untuk siaran
radio Australia (ABC). Novelnya yang pernah terbit antara lain berjudul Siklus,
diterbitkan oleh Pustaka Jaya, dan mendapat Penghargaan dari Panitia Buku
International, DKI Jakarta 1972.
Mas Dipo,
begitu panggilan akrabnya, juga pernah menerjemahkan Al Qur’an secara puitis.
“terjemahan puitis” tersebut dimuat oleh beberapa Majalah dan dibukukan oleh
beberapa penerbit. Suara Muhammadiyah pernah menerbitkan juz 29.
Kiprah
lainnya juga dalam bidang teater. Terutama ketika pengaruh PKI dan Lekra begitu
gencar. Ia mendirikan Teater Muslim. Mas Dipo aktif mengarang lakon, kemudian
juga menyutradarainya.
Apa yang
dilakukan Mas Dipo kala itu merupakan sebuah gebrakan tersendiri, terutama di
kalangan Umat Islam. Teater Muslim menyadarkan Umat betapa pentingnya dakwah
melalui jalur seni, terutama melalui teater.
Dari Teater
Muslim pula lahir sederet sutradara terkenal yang dikemudian hari menciptakan
lakon atau film yang dinikmati oleh banyak orang. Seperti Amak Baldjun, Amaroso
Katamsi, Arifin C. Noer, sampai Chairul Umam. Arifin C. Noer merupakan
sutradara dari film G30 SPKI. Sementara Chairul Umam merupakan sutradara film
Ketika Cinta Bertasbih, juga beberapa serial Islami populer seperti
“Astagfirullah” yang lagu Soundtracknya diisi oleh Opick.
Teater
Muslim menawarkan warna baru dalam seni, sehingga masyarakat Indonesia yang
mayoritas Muslim ini memiliki alternatif, ditengah kuatnya pengaruh Komunisme
yang mengusung ide realisme sosial.
Meski
kiprahnya begitu besar, namun nama Mohammad Diponegoro tidak banyak dikenal.
Menurut Ajip Rosidi—sastrawan Indonesia—figur Mohammad Diponegoro memang jarang
membanggakan diri sendiri. Ia tekun dan rajib bekerja. Tidak mempopulerkan
diri.
Ia lama
menjadi redaktur Muhammadiyah, dan berkantor di gedung Muhammadiyah Yogyakarta.
Mas Dipo pun juga menghabiskan sebagian besar hidupnya di Yogyakarta. [red.s]

3 comments:
kearifan seorang tokoh merespon isu
luar biasa
Muhammadiyah perlu menggalakkan kembali dunia sastra, budaya, kesenian sebagai alat dakwahnya
Post a Comment