| Pengurus Paguyuban Srengenge |
Kehadiran
Paguyuban Srengenge, melalui kegiatan diskusi dan websitenya srengenge.id
adalah upaya kecil untuk menggairahkan kembali aktivitas membaca dan menulis.
Sekilas orang bertanya, apa maksud dari tulisan-tulisan di srengenge.id, yang
kadang membahas Pemikiran dan Gerakan Islam, tapi disatu sisi juga menulis
gerakan dan pemikiran kaum kiri.
Termasuk
ketika banyaknya tulisan yang berkaitan dengan Soekarno dan Tan Malaka, ini
maunya apa?
Bagi yang
sudah membaca, sebenarnya istilah pemikiran kanan atau pemikiran kiri itu
memiliki benang merah yang tak terpisahkan. Jika di masyarakat muncul pameo,
bahwa gerakan kanan itu arahnya ke surga, dan gerakan kiri ke realitas sosial.
Keduanya bukan sesuatu yang terpisah sama sekali.
Selama ini
Soekarno sangat jauh dikaji sebagai tokoh kiri, setidaknya dari segi pemikiran.
Banyak yang terluka hati ketika membahas Soekarno sebagai seorang Muslim.
Ingatan pahit, atau setidaknya, buku sejarah yang telah kita kunyah membuat
sosok Soekarno seperti memiliki “dosa besar” terhadap Umat Islam di Indonesia.
Mulai dari
pembubaran Masyumi, yang merupakan partai Islam besar kala itu. Juga,
berkembang biaknya pemikiran komunisme melalui tubuh PKI, berkat kebijakan
politik Soekarno yang memaksa semua partai mengikuti manipol. Meski sebenarnya
Soekarno tidak sama sekali anti agama, karena nasakom (nasionalis, agama,
komunis) menempatkan tiga ideologi besar itu dalam satu payung.
Sampai saat
ini kita memang masih ragu, apakah Agama bisa disatukan dengan Komunisme? Meski
keduanya memang sudah bersitegang, bahkan terjadi adu fisik yang menewaskan
banyak orang. Dalam kerangka konseptual, keduanya mungkin masih bisa
dikompromikan, sebagaimana yang pernah ditulis H.O.S Tjokroaminoto. Namun dalam
realitas politik, hampir mustahil disatukan.
Namun toh
sejarah telah berlalu. Kita pun tidak bisa berandai-andai. Itulah makanya,
artikel tentang Soekarno secara khusus membahas pemikirannya tentang Islam,
entah dalam aspek pemikiran politik, atau dalam aspek ibadah.
***
Beberapa
tulisan dalam srengenge.id diambil dari buku, terutama buku-buku terbitan lama.
Diambil, bukan berati disalin begitu saja. Melainkan, diambil intisarinya, atau
kira-kira bagian yang menarik, untuk kemudian ditulis ulang dengan bahasa sendiri.
Kegiatan ini
mencakup dua hal : membaca dan menulis. Dua aktifitas ini memang tidak bisa
terpisahkan. Ketika menulis, siapapun butuh referensi bacaan. Meskipun
referensi tidak hanya dari buku, bisa juga dari realitas dan pengalaman.
Gairah
literasi itulah yang coba dimunculkan. Selain membaca dan menulis, juga
sesekali diskusi atau bedah buku. Tidak melulu dalam forum besar, biasanya juga
dalam forum kecil, di warung kopi dan lain sebagainya.
Besar
harapan suatu ketika bisa menerbitkan buku, atau mimiliki lini penerbitan
sendiri. Tapi itu cita-cita besar. Dimulai dulu dari yang kecil-kecil, yang
bisa terjangkau. Membaca, menulis, dan diskusi. Menyelami dunia ilmu,
memperkaya persepsi, agar memiliki pandangan yang lebih luas. Persepsi tersebut
akan mempengaruhi sikap dan keputusan yang diambil dalam hidup.
Begitulah
kiranya, Paguyuban Srengenge hadir. Entah punya dampak atau tidak, entah
bermanfaat atau tidak, kami juga tidak tahu. Kita yakin saja, setiap hal
positif, sekalipun itu kecil, semoga tetap memiliki nilai dan kemanfaatan.
Wallohu’alam.
Blitar, 12
April 2017
No comments:
Post a Comment