Sisi Feodalisme Jawa
Dalam sosiologi jawa, ada tiga sifat
orang jawa yaitu sabar,
narimo dan ikhlas. Ketiga
sifat diatas oleh leluhur selalu dijarkan tanpa memberikan pemahaman makna
rasional terhadap tiga sifat tersebut. Pewarisan pemahaman tersebut berlangsung
sudah lama dan turun-tumurun, dengan kata lain, orang jawa memiliki gen
feodalistis yang kuat. Jika dikaitkan dengan kekuasaan, maka akah melahirkan
suatu ketundukan atau kepatuhan yang berlebihan kepada penguasa (feodalistis).
Feodalistis memiliki dua arti, pertama, sebuah
sistem sosial yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan,
sedangkan yang kedua
adalah sistem sosial yang mengagung-angungkan jabatan atau pangkat dan bukan prestasi
kerja. (Soedjipto. 2014)
Dalam konsepsi jawa, orang yang
berkuasa adalah orang mampu menyerap menyeimbangkan sifat-sifat yang terdapat
dalam dirinya atau tidak. Maka dari itu, bagi orang jawa seorang penguasa harus
mendapat penghormatan dan pengabdian.
Sisi negatif yang sering dituduhkan
terhadap faham ini adalah bahwa Jawaisme atau sikap feodal orang jawa ini
membentuk mental bangsa Indonesia menjadi mental kacung. Sikap ini
dianggap sebagai penyumbang terbesar terhadap terpuruknya
bangsa ini, yang mengakibatkan kolonialisme dan imperialisme dapat bertahan di
negara ini sampai berabad-abad lamanya.
Bagi orang jawa kuno, pusat di dunia
ada pada raja dan keraton / istana, Tuhan adalah pusat makrokosmos sedangkan
Raja adalah perwujudan Tuhan di dunia sehingga dalam dirinya terdapat
keseimbangan berbagai kekuatan alam. Jadi raja adalah pusat komunitas di dunia
seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari Tuhan dengan keraton sebagai
kediaman raja. Keraton / istana merupakan pusat keramat kerajaan dan
bersemayamnya raja karena raja merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang
mengalir ke daerah dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan.
Karena kepatuhan terhadap paham itu, masyarakat jawa yang
dianggap terlalu mengagungkan kekuasaan serta mamatikan budaya kritis
dengan tetap mendukung panguasa walaupun dalam kepemimpinannya tersebut dinilai
kurang baik, istilah singkatnya adalah memilih posisi aman saja. Sampai saat
ini feodalisme dalam masyarakat jawa masih terasa,terutama mengingat hampir
semua presiden Indonesia adalah orang jawa. Meskipun pemerintahannya kurang
baik, tetap saja mendapat dukungan dari sebagian besar masyarakat yang lebih
menyukai kenyamanan.
Meskipun banyak yang memaknainya
negatif, sikap ini (feodalistis)
juga memiliki sisi positif, yakni masyarakat jawa masih menghormati raja/
pemimpin mereka. Raja / pemimpin bukan sedekar simbolis di era saat ini, namun
masih mempunyai daya kekuasaan dan kekuatan / pengaruh yang kuat. Tentu saja,
inilah yang membuat budaya jawa dan segala tradisinya tetap terjaga hingga
hari ini, meskipun juga banyak penurunannya, seperti yang dialami kebudayaan
nonpopuler lainnya.
Pada dasarnya, hampir semua orang
jawa mengedepankan prinsip harmoni, sebisa mungkin menghindari konflik yang
tidak diperlukan. Jawa, sebagai suku dominan di Negara ini tentu saja sering
kali menuai pujian, namun juga tak sepi dari kritikan baik dari luar maupun
dari orang jawa sendiri.
___________________
Oleh:
Khabib
Mulya Ajiwidodo
(Pimpinan Redaksi Srengenge
Online, aktivis Pemuda Muhammadiyah Kota Blitar)


No comments:
Post a Comment