Ada Korting di Amsterdam
(sebuah kisah
perjalanan di negara kincir angin)
Oleh: Pradana Boy ZTF*
MOBIL minibus yang
membawa rombongan para dosen peraih gelar doktor baru dari Universitas
Muhammadiyah Malang itu akhirnya tiba di Amsterdam pada sore hari, setelah
melalui perjalanan dari Perancis dan Belgia melalui kota Brussels dan Antwerp.
Suasana yang khas segera terasa. Begitu memasuki kota, yang pertama-tama
menarik pandangan adalah jumlah sepeda angin yang sangat banyak dan tersebar di
berbagai sudut kota dengan rapi. Selain sepeda kumbang, pemandangan khas
Amsterdam adalah kanal-kanal air, dan perahu-perahu berukuran kecil dan sedang
yang tertambat di tepian sungai Amstel atau di sepanjang kanal-kanal kota.
Menariknya, sebagian dari perahu-perahu itu juga berfungsi sebagai tempat
tinggal permanen bagi sebagian orang.
Kegembiraan anggota
rombongan karena telah menginjakkan kaki di Amsterdam tidak dapat
ditutup-tutupi. Beberapa dari mereka langsung berteriak dan mengambil kamera
untuk mengabadikan sejumlah tempat atau pemandangan yang menarik untuk direkam.
Saya sendiri hanya duduk termangu memandangi lalu-lalang manusia yang padat
namun teratur. Tiba-tiba sopir minibus memanggil saya. Dia mengingatkan bahwa
agenda hari itu di Amsterdam hanya makan malam. Selebihnya tidak ada, hanya
istirahat. Sementara, jarak tempat kami menginap dengan tempat makan malam
sangat jauh. Maka, kami berunding. Toni, pengemudi sekaligus pemandu kami,
menyarankan agar saya mengambil makan malam itu saja. Tidak usah makan di
restoran, tetapi dibungkus dibawa ke hotel. Sehingga, sisa hari itu bisa
dimanfaatkan untuk beristirahat melepas lelah setelah seharian perjalanan
panjang dari Paris, Brussels hingga Amsterdam. Kami semua setuju.
Saya segera turun
dari minibus dan segera bergegas menuju lokasi yang ditunjukkan oleh Toni. Dengan
berbekal kertas voucher yang bertuliskan alamat restoran itu, saya menyelinap
di antara keramaian manusia dari berbagai bangsa yang berbaur dalam keramaian
pusat kota Amsterdam saat itu. Tiba-tiba ada suara memanggil saya dari
belakang. Saya menoleh. Rupanya, seorang anggota rombongan membuntuti saya. “Saya temani mengambil makanan, biar tidak
sendirian,” katanya. “Ayo,” jawab
saya. Jadilah kami berdua mengambil makanan. Sesampai di restoran, rupanya
makanan telah siap, karena terjadi perubahan skenario dari makan di tempat
menjadi dibungkus, maka kami harus menunggu beberapa saat ketika makanan itu
disiapkan.
Mobil melaju cepat
menuju hotel. Cukup lama juga perjalanan ini. Rupanya, hotel yang kami tinggali
berada di pinggiran kota. Tepatnya tidak jauh dari kawasan Bandar Udara
Schipol. Setelah semua urusan dengan hotel selesai, Toni meminta diri. Ia tidak
tinggal bersama kami karena ternyata dia dan keluarganya tinggal di Amsterdam,
meskipun dia warga negara Italia. Maka setelah semua urusan dengan hotel beres,
Toni berpamitan. “See you tomorrow,”
kata Toni sambil bergegas meninggalkan hotel.
Semua anggota
rombongan menuju ke kamar masing-masing. Setelah kurang lebih satu jam
beristirahat, seseorang mengetuk kamar saya. Seorang anggota rombongan yang
sudah senior memberitahukan kepada saya bahwa daripada santai di hotel, peserta
lain menginginkan keliling kota Amsterdam dengan naik kereta api. Saya
menyambut gembira rencana itu. Karena saat itu sudah mendekati musim panas,
maka siang lebih panjang dari malam hari, sehingga masih banyak waktu untuk
beraktivitas. Akhirnya kami meninggalkan hotel menuju stasiun terdekat dengan
diantar oleh kendaraan gratis dari hotel yang berangkat setiap lima belas
menit. Ternyata stasiun kereta api terdekat adalah stasiun Bandara Schipol.
Sesampai di sana saya segera membelikan tiket untuk semua rombongan, kemudian
kami menuju stasiun bawah tanah untuk naik kereta api ke arah Amsterdam
Centraal. Inilah stasiun terakhir yang kami tuju.
Keluar dari
Amsterdam Centraal suasana “Belanda” dan “Eropa” segera terasa. Gedung-gedung
berwarna coklat dengan arsitektur khas Eropa mendominasi. Maka ke manapun
pangan mata kami arahkan, warna coklat dan coklat tua terasa. Tak jauh dari
amsterdam centraal, terdapat kanal air yang didalamnya tengah singgah sejumlah
perahu. Kami menikmati perjalanan dengan jalan kaki sore itu disudut-sudut kota
Amsterdam. Tram, sepada, bis, mobil, manusia, semua campur aduk dan hilir mudik
di jalan-jalan Raya Amsterdam.
Sesi paling menarik
dari sebuah perjalanan luar negeri adalah belanja oleh-oleh. Itu pula yang
terjadi pada kami. Setiap sudut kota yang menawarkan barang-barang menarik,
kami kunjungi. Tengah kami asyik berbelanja, tiba-tiba seorang dari kami
berkata setengah berteriak. “lho, kok
disini ada tulisan korting? Bukannya ini bahasa Indonesia?” saya yakin,
teman ini bukan tidak tahu, tetapi lupa, bahwa memang sejumlah kata atau
istilah dalam bahasa Belanda. Tentu ini bisa dimaklumi, kartena penjajahan
belanda di Indonesia berlangsung selama lebih dari tiga abad. Sehingga warisan
bahasa dan budaya Belanda dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih bisa
dirasakan.
Korting adalah salah
satu contoh saja, dari banyak banyak bahasa belanda yang lalu menjadi kosakata
bahasa Indonesia. Sebagai contoh, kata “sepeda” yang dikenal dalam bahasa
Indonesia, adalah berasal dari bahasa Belanda “zelopeda”. Alat transportasi
lain yang cara masyarakat Indonesia menyebut masih sering menggunakan bahasa
Belanda adalah kereta api, yang sering disebut dengan kata “sepur”. Sepur
berasal dari bahasa Belanda spoorwegen artinya adalah jalur kereta api.
Perusahaan kereta api Belanda sekarang bernama Nederlande Spoorwegen. Kereta
api itulah yang kami naiki saat kami meninggalkan hotel untuk mengekplorasi
kota Amsterdam.
Maka ingatan saya
melayang kemasa-masa kecil dulu, ketika orang-orang tua banyak menggunakan atau
menyelipkan kata-kata bahasa belanda dalam percakapan sehari-hari. Diantara
yang masih saya ingat dengan baik adalah kata “zonder”. Kata ini kurang lebih
artinya tanpa, tidak atau tidak pernah. Untuk menaruh menaruh dalam konteks,
contohnya adalah begini. Seseorang pergi dari kampung halaman dalam waktu cukup
lama. Selama itu dia tidak pernah mengirim kabar sama sekali kepada
keluarganya, baik surat atau telepon. Maka terhadap fakta seperti ini,
orang-orang tua di kampung halaman saya di pedesaan Lamongan akan mengatakan
kurang lebih begini: “kok betah ya, pergi
bertahun-tahun zonder kirim kabar ke keluarga”.
Tentu, jika kita mau
menelisik lebih jauh, akan lebih banyak lagi kata-kata dalam bahasa Indonesia
yang diserap dari Belanda. Kata “kulkas” untuk menyebuit lemari es, juga
berasal dari bahasa Belanda “koelkast”. Bandingkan dengan benda yang sama dalam
bahasa Malaysia. Untuk lemari es, masyarakat Malaysia menyebutnya dengan “peti
sejuk”. Barangkali untuk saat ini, sudah tidak banyak anak-anak muda yang
mengetahui kata untuk “terminal” yang digunakan oleh orang-orang tua kita
dahulu. Mereka sering mengatakan “stanplat” untuk menyebut terminal, yang itu
juga berasal dari bahasa Belanda.
Kunjungan ke
Amsterdam memberikan kesadaran kepada saya akan dinamika hubungan bahasa dan
kebudayaan yang ditinggalkan oleh Belanda kepada Indonesia. Memang, ketika kita
melihat kenyataan ini ada dua sisi yang bisa kita rasakan. Sisi positif dalam
bentuk pengaruh Belandadi bidang tata kota, pengaturan pengairan dan
arsitektur. Sementara, disisi lai, kita tidak bisa melupakan penjajahan dan
pengisapan kekayaan Indonesia oleh belanda sekian lama. Sehingga kekayaan
Belanda pada masa penjajahan dulu, sebagian besar pastilah diambil dari
Indonesia. Jadi, jika demikian, sepertinya sudah sangat wajar, jika Belanda
memberikan korting kepada kita untuk banyak hal di hari ini. Anda setuju?
_____________________
*Pradana Boy ZTF adalah Dosen
Universitas Muhammadiyah Malang, Pengasuh Baitul Hikmah Malang dan Presidium
JIMM





No comments:
Post a Comment