Tiap orang
memiliki candunya masing-masing, tergantung dimana letak candunya. Selama ini
kata candu banyak dilekatkan kepada penyalahguna narkoba, perokok, atau minimal
pengopi. Ketiganya disebut bikin kecanduan, sehingga susah untuk ditinggalkan, barang
sehari sekalipun.
Candu sendiri
mulanya adalah nama getah dari Papevir somniferum yang bisa mengurangi
rasa nyeri. Juga untuk menamai cairan kental bewarna hitam sebagai campuran
rokok, biasanya itu endapan kopi. Dalam KBBI, candu diartikan segala hal yang
bisa menyebabkan ketagihan.
Kenyataannya,
yang menyebabkan ketagihan tidak hanya narkoba, rokok, atau kopi. Meski
ketiganya mungkin punya candu paling ekstrem dibandingkan yang lain. Bagaimana
juga misalkan, jika seseorang kencanduan membaca. Terasa ada yang ganjil, jika
sehari saja tidak membaca.
Jadi tidak
semua candu itu berdampak secara medis, ada juga yang berdampak psikologis.
Para penikmat buku tak ada bedanya dengan perokok. Keduanya sama-sama candu,
hanya berbeda pada aktivitas candunya.
Perokok
membelanjakan uang untuk membeli rokok, dihisab, lalu habis. Sementara tukang baca
membelanjakan uang untuk membeli buku, dibaca, selanjutnya disimpan atau
disumbangkan ke perpustakaan.
Jikalau candu
berhubungan dengan kebahagiaan, misalkan dengan merokok atau minum kopi bisa
merubah mood, maka itu juga berlaku pada orang yang candu olahraga. Ternyata
ada orang yang merasa dirinya ganjil, jika tidak olahraga sehari saja. Meskipun
olahraga ringan.
Di era sosial
media, muncul tiga candu baru : pamer, mengeluh, dan berkomentar. Pamer tempat
yang ia kunjungi, apa yang ia makan, gaji bulanan, dll. Semua difoto lalu di
upload. Juga keluhan demi keluhan yang tiada habis-habisnya, bahkan sendal
jepit putus saja dikeluhkan.
Belum lagi
yang candu berkomentar. Apapun di komentari, dari urusan negara sampai dapur
tetangga. Mendadak dia ahli dalam berbagai bidang, dengan komentar ala kadarnya
dan tidak ilmiah sama sekali.
Mau bagaimana
pun, candu tetaplah candu. Bahkan orang yang kecanduan membaca, bisa juga
negatif. Apalah arti banyak membaca kalau itu untuk diri sendiri, tidak mau
berbagi, atau dilain hal, tidak menjadikannya pembeda antara yang lain dalam
aspek perilakunya. Apalah arti membaca, kalau ia menjadi sombong dan merasa
pintar sendiri.
Jadi tidak
perlu sampai candu, ada kalanya itu dibutuhkan, ada kalanya memang tidak harus
dikerjakan, karena ada hal lain yang perlu dikerjakan. Apa yang dibaca tidak
boleh dipenjarakan dalam otak, tapi harus dilepaskan ke kehidupan. Entah dalam
bentuk perpsepi atau aksi. Begitulah semestinya.
Ternyata candu
memiliki banyak variasinya, namun candu tetaplah hal yang perlu dihindari. []
10 Mei 2017
A Fahrizal Aziz

No comments:
Post a Comment