Memilih
Muhammadiyah
Saya bergabung
dengan Muhammadiyah, secara administratif, pertama kali melalui IMM (Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah) akhir tahun 2009. Itu berarti, kurang lebih tujuh tahun
berselang. Satu-satunya bukti administatif yang saya miliki hanya kartu anggota
IMM.
Namun sejak
Aliyah, saya sudah mulai membaca buku-buku karya tokoh Muhammadiyah. Yang
pertama kali—karena dulu jurusan Bahasa—adalah novel-novel karya Buya Hamka.
Meski belum tahu pasti jika Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah. Baru kemudian
membaca buku karya Buya Syafii Maarif yang berjudul “Peta Bumi Intelektualisme
Islam di Indonesia”.
Buku-buku Buya
Maarif begitu mengena, meski susah payah saya memahami karena keterbatasan
wawasan mengingat kala itu saya masih pelajar aliyah. Dengan bahasa yang lincah
dan dibumbui beragam metafor, Buya Maarif membuat saya penasaran untuk
menelisik lebih lanjut biografinya, sampai kemudian tertulis bahwa beliau
adalah Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Buya Maarif
sepertinya tidak saja melahap banyak buku ilmiah, melainkan juga buku-buku
karya sastra. Baru setelah kuliah, dan mengikuti esai-esainya yang secara
periodik muncul di rubrik resonansi Harian Republika, saya tahu jika Buya
Maarif adalah pengagum Mohammad (Allama) Iqbal, sastrawan besar asal Pakistan.
***
Karena masuk
melalui jalur IMM, suguhan paling terasa adalah kajian-kajian akademik lintas
pemikiran. Mungkin karena sejak mengikuti Darul Arqom Dasar, sisi ketertarikan
saya dalam dunia wacana begitu menguat, sehingga hampir setiap materi selalu
mengajukan pertanyaan.
Hal ini
ternyata menggembirakan Instruktur yang bertugas kala itu, bahwa mereka
kedatangan kader yang banyak bertanya, meski barangkali juga akan menimbulkan
kekhawatiran tersendiri, seandainya ekspektasi saya di IMM tidak terpenuhi.
Sejak Aliyah
saya memang sudah tertarik dengan Muhammadiyah, meski dibesarkan dalam kultur
“Islam Tradisionalis”. Namun entah bagaimana saya mendefinisikanya,
kadang-kadang susah melepaskan bacaan “Usholli” tiap kali hendak memulai Sholat,
meski tidak ada keharusan bahwa itu sepenuhnya harus saya rubah.
Pilihan
Muhammadiyah bukan didasarkan atas perbandingan apapun, tidak juga karena saya
merasa Muhammadiyah lebih dari yang lain, namun ini lebih karena kecocokan.
Apalagi jika yang saya cari adalah keuntungan, entah keuntungan sosial maupun
material, bukan IMM atau Muhammadiyah yang menawarkan keduanya.
Makanya saya
tidak mau fanatik, tidak mau terlibat dalam debat urat saraf tentang mana yang
benar dan salah, mana dalil yang shahih dan dhoif. Sudah ada ahlinya, dan saya
meyakini apa yang saat ini telah saya pilih. Soal fiqh, memang akan banyak
versi, sampai kapanpun.
Tinggal
bagaimana kemudian mengartikulasikan kehadiran diri di Muhammadiyah. Bagaimana
“berbuat sesuatu” dari hal-hal yang sederhana. Itulah yang membedakan antara
belajar Muhammadiyah, dengan ber-Muhammadiyah. Belajar Muhammadiyah mungkin
cukup dengan membaca buku, mendengarkan ceramah, atau diskusi.
Ber-Muhammadiyah
perlu berbuat, perlu masuk, tenggelam, terhanyut. Karena inilah ladang
ber-amal. []
Blitar, 1
Ramadan 1438 H
A Fahrizal
Aziz

No comments:
Post a Comment