Dari Paguyuban
Srengenge ke Majelis Pustaka dan Informasi
Masuk ke
Muhammadiyah melalui jalur IMM akhir-akhir ini saya rasakan sebagai sebuah
kemudahan tersendiri, dibanding misalkan masuk dari jalur yang lain. Meskipun
ini tidak bisa dijadikan patokan secara umum.
Jalur IMM
adalah jalur akademisi. Dunianya ada di kampus, yang kesehariannya dihadapkan
pada diskursus keilmuan. Jadi, misalkan membuat kegiatan yang berupa kajian,
seminar, atau diskusi keilmuan, adalah hal yang biasa. Karena memang wilayahnya
disitu.
Dulu, waktu
silaturahim ke rumah Pak Handoyo, ketua Ranting Muhammadiyah Sumbersari, kami
para pengurus IMM UIN Malang “tidak direstui” saat hendak melakukan kegiatan
bakti sosial anak jalanan. Padahal apa yang salah? Bukankah ini merupakan
kegiatan yang baik?
“Tempat kalian
di kampus,” kata Pak Handoyo. Memang tidak ada pembatasan dimana kegiatan harus
dijalankan, namun karena IMM, maka fokuskan saja di kampus atau
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kampus. Kalau ingin kegiatan pada ranah
sosial yang lebih luas, bisa lewat Pemuda Muhammadiyah atau Muhammadiyah
nantinya.
Ucapan Pak
Handoyo tersebut tentu tidak bermaksud membatasi gerak kami di IMM, namun
mengingatkan kembali bahwa ber-Muhammadiyah punya banyak jalan, tidak hanya
sampai pada IMM. Sementara IMM, memang Ortom yang khusus dibentuk untuk
mewadahi Mahasiswa.
Tugas utama
Mahasiswa adalah belajar. Kalaupun ada Mahasiswa yang sambil bekerja mencari
uang, pekerjaannya tersebut hanya bersifat sampingan. Pekerjaan utamanya
tetaplah belajar : kuliah, membaca buku, menulis, dsj.
Ini
berkebalikan, jika nanti sudah hidup bermasyarakat. Tugas utamanya adalah
bidang pekerjaan yang ia geluti. Itulah mengapa, saya berfikir andai masuk
Muhammadiyah melalui jalur Amal Usaha misalkan, sementara—sebelum menjadi
pengelola Amal Usaha—tidak aktif atau bahkan tidak mengenal Muhammadiyah sama
sekali.
Memang kerap
kali muncul pro kontra diantara Pimpinan Muhammadiyah sendiri, bahwa karyawan
AUM tersebut seharusnya otomatis menjadi kader Muhammadiyah atau agak dipaksa
untuk mau juga mengurus Muhammadiyah, misalkan di ranting atau cabang tempat ia
tinggal.
Namun ada juga
yang tidak sepakat, bahwa pengelola AUM, tugas utamanya adalah mengelola AUM.
Membesarkan AUM berarti juga ber-Muhammadiyah. Meski kadang-kadang ada juga
pengelola AUM yang menggerundal ketika Muhammadiyah minta dana, padahal AUM itu
ada karena Muhammadiyah.
Lain halnya jika
langsung masuk Muhammadiyah, entah ranting, cabang, atau bahkan daerah. Ber-Muhammadiyah
tentu bukan tugas utama, tugas utamanya mencari nafkah. Ber-Muhammadiyah bisa
nomor dua, tiga, empat atau seterusnya.
Untuk itu,
agar ber-Muhammadiyah sejalan dengan tugas utamanya, kadang program yang
dijalankan adalah yang berkaitan dengan penguatan maisah (pendapatan).
Misalkan dengan menjalankan program ekonomi tertentu. Program semacam itu
penting karena program mendasar.
Untungnya
konteks dakwah Muhammadiyah itu dimensinya luas, tidak sebatas di
Masjid-masjid. Sehingga, mengeloa Amal Usaha, membesarkan bisnis melalui
program majelis, merupakan bagian integral dari Muamalah duniawiyah yang sudah
di shahihkan melalui Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Warga
Muhammadiyah, yang mana urusan Muamalah duniawiyah menjadi elemen penting
disamping Aqidah, Akhlak dan Ibadah.
Pemikiran
itulah yang membuat saya agak berfikir ulang, jika misalkan hendak bergabung
dengan Muhammadiyah. Apa kiranya yang bisa saya perbuat? meskipun ada beberapa
Majelis yang mungkin memberikan ruang bagi saya, seperti Majelis Pendidikan
Kader dan Majelis Pustaka-Informasi. Namun kedua Majelis ini kerap kali
terlantar.
Selain karena
kurang laku, kedua Majelis tersebut kadang memang kurang secara langsung
menyentuh sisi kehidupan warga Muhammadiyah dibandingkan beberapa Majelis lain.
Seperti Majelis PKU yang secara tajam membidangi Amal Usaha bidang Kesehatan.
Majelis Dikdasmen yang mengurusi Sekolah-sekolah Muhammadiyah, Majelis Ekonomi
yang membawahi beberapa Koperasi yang tentu sangat penting diakses dalam rangka
bantuan pendanaan dan investasi.
Atau juga
Majelis Tabligh yang pasti dicari-cari karena Masjid atau Musholla membutuhkan
beberapa penceramah untuk Khotbah Jum’at atau Kajian ke-Islaman. Meski ada juga
Majelis yang memiliki tugas spesifik, seperti Majelis Wakaf yang bertugas
melakukan sertifikasi tanah milik Muhammadiyah agar kedepan tidak bermasalah
dengan hukum.
Tapi mau
bagaimana pun, orang seperti saya memang ruangnya di dua bidang tersebut.
Apalagi kiprah dan pekerjaan impian saya nantinya ada di bidang media dan tulis
menulis, sehingga agak lebih mudah mengartikulasikan diri di bidangnya. Memang
pada akhirnya semua akan kembali pada minat dan kecenderungan masing-masing.
Itulah
mengapa, sekembalinya dari “pengembaraan ilmu” dari Kota sebelah, saya beserta
Khabib M. Ajiwidodo dan Atim Purnama membuat wadah bernama Paguyuban Srengenge,
yang lokusnya di kajian pemikiran dan kepenulisan. Sementara Kang Khabib dan
Kang Atim kala itu—setahu saya—masih di Pemuda Muhammadiyah, sebelum akhirnya
masuk Majelis pasca Musyda 2015 lalu.
Kang Khabib
masuk Majelis Pendidikan Kader PDM Kota dan Kang Atim masuk di Lembaga Dakwah
Khusus PDM Kab. Seperti sudah saya prediksi sebelumnya, sangat kecil
kemungkinan kami masuk diluar Majelis atau Lembaga itu.
Sementara saya
masih fikir-fikir. Kata Kang Atim, saya terlalu banyak mikir. Mau gabung ke
Pemuda mikir dulu, mau masuk ke Majelis juga masih mikir. Bukannya apa-apa,
hanya saja saya masih berfikir, apa gerangan kontribusi yang bisa saya lakukan
jikalau seandainya bergabung. Lagipula, saya orang baru, belum tahu suasananya.
Belum genap setahun kembali ke Blitar. Butuh belajar “membaca” realitas.
Sampai
kemudian, selepas acara bedah buku Muhammadiyah Jawa di LEC Garum, Pak Basori
Adi mengajak saya untuk bergabung ke Majelis Pustaka dan Informasi. Entah
beliau dapat kabar darimana kalau saya memang bekas wartawan, meski wartawan
kelas teri. Atau setidaknya, tahu darimana kalau saya suka menulis.
Mungkin dari
website Paguyuban Srengenge yang baru rilis semingguan, yang dalam waktu enam
bulan berganti nama 3 kali. Namun yang terakhir, www.srengenge.id,
insyallah tidak berganti lagi. []
Blitar, 2
Ramadan 1438 H
A Fahrizal
Aziz

No comments:
Post a Comment