Workshop
MPI 2017
Saat
menyatakan ketersediaan membantu Majelis Pustaka dan Informasi, memang sudah
ada bayangan ini-itu, program apa dan bagaimana menjalankannya. Itu karena saya
punya sedikit pengalaman di bidang pengelolaan media, meskipun masih harus
banyak belajar.
Waktu di IMM,
selama dua periode di Komisariat, saya berada di bidang Keilmuan. Bidang yang
sekaligus bertugas mengelola blog komisariat. Ketika di Himpunan Mahasiswa
Jurusan, saya juga berada di bidang Penerbitan dan Kepenulisan, yang kemudian
berganti nama menjadi Bidang Litbang. Programnya tak jauh berbeda.
Periode
pertama di IMM Cabang Malang, saya menjadi Sekretaris Bidang Media. Meski
menjadi sekretaris, namun hampir semua program bidang, saya yang menjalankan,
karena Ketua Bidang waktu itu tidak aktif dan akhirnya resign karena
harus kuliah lanjutan keluar negeri.
Sebelumnya,
saya di bidang dakwah. Kala itu memang ada tiga bidang yang ditawarkan tim
formatur, satunya bidang Keilmuan. Bidang Keilmuan, untuk IMM Cabang Malang,
adalah bidang yang bergengsi. Apalagi citra IMM Malang sebagai satu dari tiga
cabang yang unggul secara keilmuan, setelah Ciputat dan Yogyakarta.
Saya kemudian
memilih bidang dakwah, sekaligus nostalgia di masa Aliyah ketika saya menjadi
pengurus Rohis (Kerohanian Islam), yang salah satu kegiatannya adalah
meramaikan Masjid. Namun karena berbagai pertimbangan, saya kemudian bertukar
posisi, alias di resuffle, ke sekretaris bidang Media.
Pengalaman
selama berada di media, sebenarnya fokus saya di bagian tulis menulis. Mulai
dari penulisan kontent, liputan khusus, wawancara, sampai menulis berita. Tidak
punya pemahaman dalam bidang pengadaan media, apalagi harus “bekerja sendirian”
karena ditinggal ketua bidang. Meski akhirnya tetap ada jalan keluar, termasuk
dengan dibuatnya website IMM Malang yang waktu itu beralamat di www.imm-malang.or.id
(sekarang www.imm-malang.org).
***
Saya tentu
harus membawa energi anak muda, begitu kata Pak Basori. Meski awalnya banyak
yang menebak-nebak, berapa usia saya, dan sudah punya anak berapa? Sekilas
memang seperti seumuran dengan Kang Atim, atau Kang Khabib. Padahal saya masih
junior. Jangankan dibandingkan dengan Kang Atim, saat saya baru beberapa bulan
menjadi kader komisariat IMM di Malang, Kang Khabib sudah menjadi Ketua IMM
Cabang Kediri.
Tapi, selain
soal waktu, sebenarnya tidak terlalu ada perbedaan antara kader muda dan
senior. Apalagi warga Muhammadiyah adalah kalangan modernis, artinya punya
keterbukaan dalam berbagai hal, termasuk dalam teknologi. Jadi, tidak
berlebihan jika nantinya MPI menggagas program pembuatan website, meski sempat
muncul kekhawatiran, apa iya nanti warga Muhammadiyah akan membaca website
tersebut?
Beruntungnya
respon MPI begitu baik, setelah beberapa kali melakukan rapat. Dan lagipula,
saya juga paham, bahwa dari semua anggota MPI, mungkin hanya saya yang punya
cukup waktu luang dan bidang yang sejalan.
Pak Basori
selaku Ketua MPI misalkan, harus membagi waktu antara tugas menjadi kepala
sekolah, pengurus cabang sekaligus pengurus MPI, belum lagi kesibukan lain.
Sementara anggota yang lain, seperti Pak Bukhori dan Pak Romadhon, juga
disibukkan dengan tugas mengajar dan lainnya.
Saya, meski
juga mengurus ini-itu, tapi masih satu jalur. Dalam konteks kepenulisan, saya
tengah membangun Komunitas Penulis di Blitar. Sekarang sudah ada, terutama
dalam bidang sastra. Di tambah Paguyuban Srengenge, ditambah MPI, ditambah lagi
sebagai Blogger dan Kontributor media. Sepertinya banyak juga aktivitas yang
saya geluti. Tapi itu masih satu jalur, satu minat.
Nah, kadang
saya membayangkan yang baru masuk dunia media, dan harus bertugas di bidang
tersebut. Ini sama halnya ketika saya tiba-tiba, mau tak mau, dimasukkan
Majelis Wakaf dan harus mengupayakan sertifikat tanah yang letaknya di puluhan
titik. Bisa jempalitan dibuatnya.
Maka waktu itu
perlu adanya Workshop Pengelolaan Website/Media. Tentu harus sama-sama belajar,
begitu pun dengan saya. Lupakan sejenak tentang hal-hal ideal. Bahwa website
harus yang begini, bahwa pengelola harus yang begitu. idealnya memang begini
dan begitu, tapi ini sedang memulai. Harus perlahan-lahan.
Setidaknya,
meski masih belum sempurna dan progresif, namun angan dan impian itu sudah ada,
matahari sudah mulai terbit di MPI, Majelis yang sejak lama terlantar dan tak
diminati. Tentu dengan semangat kerja teman-teman dari MPI, beserta keterbukaan
Pak Basori yang mau menerima beberapa konsep yang kami ajukan pada beliau.
Saat itu,
mungkin untuk pertama kalinya, MPI mengadakan sebuah acara yang terbilang
besar, dengan tema yang benar-benar baru ; yaitu seputar website. Barangkali
juga terprovokasi oleh Pwmu.co yang begitu produktif menerbitkan tulisan,
dibawah binaan Pak Nadjib Hamid yang seolah tiada lelah berkarya untuk
Muhammadiyah.
Tugas
selanjutnya, bagaimana membesarkan BlitarmuID, disamping bagaimana membangun
kesadaran warga Muhammadiyah untuk tidak saja menjadi konsumen media, tapi juga
produsen, yang memproduksi beritanya sendiri, gagasanya sendiri, pemikirannya
sendiri, dan karyanya sendiri.
Peran semua
pihak sangat dibutuhkan. Selamat berkarya, dan mari berkolaborasi. []
Blitar, 3
Ramadan 1438 H

No comments:
Post a Comment