Kita mungkin pernah menonton
film KCB (Ketika Cinta Bertasbih), atau serial televisi berjudul “Astagfirullah”
yang lagu soundtracknya dibawakan oleh Opick. Juga sebuah film terkenal
berjudul Ramadhan dan Ramona. Namun barangkali kita kurang begitu tertarik
dengan siapa sutradaranya.
Atau, dengan lagu-lagu
religius yang sering dibawakan oleh Bimbo dan sederet lagu religi lain yang
pernah dibawakan penyanyi papan atas Indonesia, seperti Alm. Chrisye, yang
pernah menyanyikan lagu berjudul “ketika tangan dan kaki berkata” tak lama
sebelum ia meninggal.
Dibalik karya-karya
fenomenal tersebut, ada tangan-tangan seni tokoh Muhammadiyah. Film KCB disutradarai
oleh Alm. Chaerul Umam, yang juga pernah menjadi ketua Lembaga Seni, Budaya dan
Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah.
Jika merunut lebih jauh
lagi, Chaerul Umam merupakan sutradara didikan Teater Muslim yang didirikan
oleh Mohammad Diponegoro (bukan Pangeran Diponegoro). Meski pernah juga
bergabung dengan bengkel teater yang diasuh Alm. WS. Rendra.
Nama Mohammad Diponegoro ini
mungkin juga asing, bahkan dikalangan warga Muhammadiyah sendiri.
Padahal Mas Dipo—panggilan
akrabnya—adalah kader Muhammadiyah yang lama berkantor di Muhammadiyah. Saya
sendiri kurang tahu pasti apa posisi strukturalnya di Muhammadiyah, namun besar
kemungkinan Mas Dipo adalah pengelola Majalah Suara Muhammadiyah.
Dikala mudanya, sastrawan
Ajip Rosidi beberapa kali menemui Mas Dipo. Jika ingin bertemu dengan Mas Dipo,
tempat yang kemungkinan dituju adalah kantor Muhammadiyah Cik Ditiro
Yogyakarta, karena Mas Dipo berkantor disana.
Selain bergiat di Teater,
Mas Dipo juga pernah menulis sandiwara untuk radio BBC Australia. Karya lainnya
adalah cerita pendek, dan karya fenomenalnya, yang masih dikenang hingga saat
ini, adalah penerjemahan Al Qur’an secara puitis.
Hal yang sama juga pernah
dilakukan oleh HB. Jassin, namun mendapatkan pertentangan keras dari ketua MUI
kala itu, KH. Hasan Basri dan Menteri Agama, Munawir Sjadzali. Karena dinilai
mempermainkan Al Quran.
Puitis bukan berarti
romantik-melodramatik. Puitis artinya, punya nilai sastra yang tinggi. Mas Dipo
berpendapat bahwa bahasa Al Qur’an itu adalah bahasa arab yang puitis dan
sastrawi, makanya mengandung beragam tafsir.
Sayangnya terjemahan Al
Qur’an dalam bahasa Indonesia kini, adalah terjemahan lugas. Padahal banyak
surat dalam Al Qur’an memiliki rima. Semisal QS. Al Ikhlas dan An Nas. Dalam
setiap kalimatnya, kedua surat ini diakhiri dengan huruf yang sama. Dalam dunia
puisi, surat ini memiliki kuatrin a-a-a-a. Itu baru dari segi bentuk, belum
dari segi maknawi, terutama ayat-ayat mutasyabihat.
Sayangnya tidak sampai semua
Al Qur’an diterjemahkan. Hanya sampai pada Juz Amma, konon itupun belum lengkap
semua. Menerjemahkan Al Quran secara puitis tentu bukan kerja ringan,
dibutuhkan wawasan kebahasaan yang luas.
Sementara lagu-lagu Bimbo
liriknya digubah oleh Taufiq Ismail. Nama Taufiq Ismail tentu sangat dikenal.
Apalagi nama “Ismail” cukup familiar dalam dunia seni, karena merupakan nama Ismail
Marzuki, seniman dan komposer yang namanya diabadikan menjadi sebuah tempat
bernama Taman Ismail Marzuki (TIM).
Taufiq Ismail memang banyak
membuat sajak, termasuk menjadi salah satu pendiri Majalah Sastra Horison,
salah satu majalah sastra paling terkemuka di Indonesia. Meski kini sudah
beralih ke Online. Ia pun juga pernah menjadi ketua LSBO, atau yang dulu masih
bernama Majelis Kebudayaan, PP Muhammadiyah.
***
Nama yang paling familiar
tentu Buya Hamka. Buya Hamka adalah sosok multidimensi. Dikalangan sastrawan,
Hamka cukup dipertimbangkan. Dua novel legendarisnya, “tenggelamnya kapal van
der wijck” dan “dibawah lindungan ka’bah” merupakan dua karya kritis di eranya.
Kritik paling tajam ia
tujukan pada budaya, dimana pernikahan antar suku yang berbeda, serta kelas
sosial yang berbeda yang dianggap tabu. Padahal Islam tidak melihat manusia
berdasar suku apalagi kelas sosial.
Dua novel tersebut
menceritakan kepiluan yang mendalam dari orang-orang yang saling mencintai,
namun tidak bisa bersatu karena terhalang adat budaya.
Karya sastra tersebut,
melengkapi khazanah keilmuan Buya Hamka, disamping sebagai dai, mufassir, dan
tokoh pergerakan. Sosok seperti Buya Hamka ini tentu sangat langka saat ini.
Selain tokoh-tokoh
struktural diatas, tentu ada beberapa yang karyanya bersinggungan secara
langsung maupun tak langsung dengan Muhammadiyah. Seperti Laskar Pelangi, yang
mana penulisnya pernah belajar di SD Muhammadiyah Gantong, dan menjadikan kisah
semasa SD itu menjadi poin cerita.
Yang juga sangat fenomenal
adalah Prof. Dr. Abdul Hadi WM. Sastrawan papan atas Indonesia, tokoh
Muhammadiyah asal Madura, yang banyak menulis tentang kesepian, kematian, dan
waktu.
Karena terlalu kompleksnya sosok
ini, barangkali saya akan membuat tulisan khusus tentang beliau, tentu setelah
mempelajari karya-karyanya.
Terima kasih sudah membaca.
Blitar, 20 Mei 2017
A Fahrizal Aziz




No comments:
Post a Comment