Mau tidak mau kita
perlu tahu dimana sebenarnya posisi kita, agar kita bisa bergerak dengan
leluasa, agar memiliki kedaulatan penuh atasnya. Semisal ikan yang tahu bahwa
wilayahnya berada di air, atau burung yang paham jika ia bisa memiliki ruang bebas
di angkasa, yang tak mungkin diusik gajah apalagi kudanil. Kecuali kalau ada
kuda terbang, sebagaimana dongeng yang pernah kita dengar.
Sejak masuk
Sekolah Menengah Atas, sebenarnya kita sudah mulai dipetakan. Meski tidak
benar-benar serius. Misalkan, ada yang memiliki kecenderungan di IPA, IPS,
Bahasa, Agama, atau Kejuruan lain yang lebih spesifik. Namun tidak semua
menghayati, atau memang belum cukup waktu untuk benar-benar menemukan
“posisi”nya.
Misalnya, sangat
mungkin alumni SMK Jurusan peternakan, kemudian mengambil kuliah bidang bahasa,
dan kemudian menjadi wartawan. Atau anak IPA, yang kemudian mengambil studi
sosiologi, dan kemudian menjadi ahli ilmu sosial.
Bahkan perubahan
posisi sangat mungkin terjadi, meski sudah belajar ilmu spesifik selama di
Perguruan Tinggi. Seperti, alumnus jurusan pendidikan yang kemudian justru
terjun menjadi politisi, atau pengusaha, dan bahkan tidak punya jam mengajar
klasikal di sekolah.
Bisa juga, sarjana
ilmu politik yang kemudian terjun menjadi artis atau penyanyi, karena bakat dan
hobinya yang sangat kuat di bidang tersebut, dan dipertemukan dengan nasib yang
baik.
Kita pun menyadari
juga bahwa “posisi” memang tidak hanya ditentukan oleh latar belakang akademik,
namun juga bakat dan minat. Bakat dan minat dua hal yang berbeda, karena tidak
semua minat harus memiliki bakat. Begitu pun sebaliknya, tidak semua yang
berbakat pun memiliki minat, apalagi menjadikan bakatnya sebagai sebuah profesi.
Banyak orang yang
akhirnya menemukan posisinya di kehidupan, posisi tersebut membuatnya lebih
mudah memetakan peran. Tidak selalu posisi yang tinggi atau elit, namun
totalitas dalam bidang tertentu, seperti dalam bidang keamanan.
Meski terlihat
sepele, toh tidak semua mampu memerankan diri menjadi pengatur keamanan, menata
parkir, sampai menyeberangkan jalan. Dalam sebuah kegiatan, orang yang sudah
memiliki keahlian, atau pengalaman di bidangnya, akan lebih mudah memetakan
peran.
Mereka yang
kemudian memiliki pemahaman dan pengalaman di bidang hukum, maka akan lebih mudah
memposisikan diri untuk misalkan, mengurus perijinan, sampai melakukan hubungan
dengan para birokrat.
Lebih luas lagi,
posisi memberikan kita kemungkinan berkontribusi dalam bidang yang sesuai
dengan kemampuan kita. Maka perlunya kita memiliki posisi, entah berdasar bakat
yang kita miliki, kemampuan khusus, latar belakang keahlian pendidikan, atau
minat yang kita tekuni sehingga menjadi sebuah ciri keahlian.
Jika dalam
masyarakat orang kebingungan menemukan posisinya, lalu dalam bidang apakah ia
hendak berkontribusi, maka sudah saatnya untuk lebih serius memikirkan apa dan
dimana sebenarnya posisi yang tepat. []
20 Mei 2017

No comments:
Post a Comment