(Sekilas
Mengingat Hubungan Muhammadiyah dan Pemerintah)
Awal mula
kepemimpinan Jokowi-JK ditandai dengan perubahan nomenklatur Kementrian,
termasuk dimunculkannya satu Kemenko baru, yang saat ini dijabat oleh Puan
Maharani, yaitu Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan).
Kemenko ini
sebelumnya memang tidak ada. Karena biasanya cukup dibawahi tiga Menko, namun
khusus era Jokowi-JK, dengan alasan memperkuat Revolusi Mental, maka dibuatkan
Kemenko PMK.
Kemetrian
Pendidikan pun dipecah menjadi dua, yaitu Kemendikdasmen dan Kemenristek Dikti.
Sebelumnya Kemendikbud membawahi semua level lembaga Pendidikan, mulai dari SD
hingga Perguruan Tinggi. Sekarang Perguruan Tinggi dimerger jadi satu dengan
Kemenristek, dan jadilah Kemeristek Dikti yang menterinya dijabat Prof. M.
Nasir.
Sementara
posisi Kemendikdasmen yang sebelumnya dijabat Anies Baswedan, kini beralih ke
Muhadjir Effendy. Meski begitu, entah karena apa, nomenklatur dibawah
Kementrian yang dipimpin Pak Muhadjir masih bernama Kemendikbud.
Masuknya Pak
Muhadjir dalam kabinet kerja Jokowi-JK tidak terlalu memicu perdebatan,
meskipun secara instingtif kita menyadari betapa terpolanya suara warga
Muhammadiyah pada Pilpres 2014 silam. Terlebih partai yang secara historis dekat
dengan Muhammadiyah, mengusung calon wakil Presiden.
Namun
Muhammadiyah, sebagai institusi, memang tidak pernah terpola dalam kubu
tertentu. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah selalu mampu membina hubungan yang
cair dengan penguasa, bahkan pada dua rezim otoriter, yaitu rezim Soekarno dan
Soeharto.
Memang kita
akan mengira jika hubungan Muhammadiyah dengan Pemerintahan Soeharto sempat
memanas ketika Amien Rais memimpin aksi demonstrasi 98. Namun sebelum itu,
hubungan Muhammadiyah begitu cair. Bahkan, tiga pos kementrian, yaitu
Kementrian Agama, Pendidikan, dan Kesehatan, jarang lepas dari Muhammadiyah.
Hubungan Pak
Harto dengan Pak AR Fachrudin yang kala itu sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah,
juga sangat cair. Pak Harto sangat menghormati Pak AR, sampai beberapa kali
meminta Pak AR menjadi Menteri Agama, namun Pak AR menolak, dengan alasan ingin
fokus mengurus Muhammadiyah.
Hubungan
Muhammadiyah dengan PDIP juga terbilang baik. Di era Megawati, Posisi Menteri
Pendidikan dijabat oleh Prof. Malik Fadjar, yang juga mantan rektor UMM. Salah
satu Anggota Dewan Pertimbangan Agung (sekarang semacam Dewan Pertimbangan
Presiden atau Wantimpres) adalah Buya Syafii Maarif, yang kala itu juga Ketua
Umum PP Muhammadiyah.
Sekarang di
era Jokowi-JK, Prof. Malik Fadjar menjadi salah satu anggota Wantimpres yang
konon wakil dari Muhammadiyah, sementara wakil dari NU sebelumnya adalah Alm.
KH. Hasyim Muzadi.
Suami
Megawati, Alm. Taufik Kiemas juga memeiliki kedekatan ideologis dengan
Muhammadiyah, karena beliau putra aktivis Masyumi, sebuah Ormas dan Parpol yang
dibubarkan oleh mertuanya sendiri, yaitu Soekarno. Bahkan Pak TK—begitu Buya
sering menyapa—menjadi donatur utama ketika renovasi kembali Madrasah Mua’limin
Yogyakarta, pasca rusak akhibat gempa 27 mei 2006.
Kedekatan
beberapa tokoh Muhammadiyah dengan PDIP, tentu bukan tanpa alasan, jika mau
mengaca pada sejarah. Bagaimanapun, Soekarno pernah menjadi anggota
Muhammadiyah, mertuanya dari Fatmawati, adalah Pengurus Muhammadiyah bengkulu.
Itu berarti, Kakek Megawati adalah aktivis Muhammadiyah.
Maka sangat
disayangkan jika Megawati, yang menahkodai Parpol besar ditanah air, sepenuhnya
“dilepaskan” dari Muhammadiyah. Beberapa tokoh Muhammadiyah yang dekat dengan
PDIP, tentu tidak sesederhana karena faktor jabatan. Namun ada hal yang lebih
besar dari itu, yang berkaitan dengan Umat dan Kebangsaan.
Memang, secara
artikulatif, hubungan Muhammadiyah dengan Pemerintahan SBY tidak begitu
harmonis. Bahkan SBY tidak pernah bisa hadir dalam setiap event besar
Muhammadiyah, seperti Tanwir dan Muktamar. Meski sempat memberikan sambutan
melalui teleconference pada Muktamar di Yogyakarta, 2010 silam.
Dipilihnya
tokoh Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy sebagai Mendikbud, tentu bukan dasar
pertimbangan dangkal, apalagi hanya faktor bagi-bagi kekuasaan. Muhammadiyah
telah beramal sedemikian rupa demi meringankan beban negara, terutama dari sisi
Pendidikan. Sudah banyak anak bangsa yang dididik oleh Muhammadiyah, dan kini
berkontribusi di berbagai bidang.
Jika kedekatan
Muhammadiyah dengan penguasa hanya diartikan sebatas gengsi kekuasaan, itu
jelas keliru. Muhammadiyah jauh lebih tua dari parpol manapun, bahkan dari
Indonesia sebagai negara (1945) atau sebagai sebuah bangsa (1928).
Pak Muhadjir,
dengan pengetahuan dan pengalamannya selama di Muhammadiyah, masuk untuk
membantu Pemerintahan, meringankan beban negara. Apalagi disaat negara menghadapi
persoalan yang kian kompleks.
Mari kita
doakan semoga Pak Muhadjir bisa menjalankan amanah dengan baik, dan bisa
mengurai masalah pendidikan yang tak kunjung usai. Tentu ini merupakan bagian
dari cara Muhammadiyah untuk berdakwah secara insitusional. Wallohu’alam
Blitar, 18 Mei
2017
A Fahrizal
Aziz

No comments:
Post a Comment