Pewacanaan
Muhammadiyah menjadi Partai Politik begitu kencang sekitar tahun 1966, terutama
setelah pembubaran diri (atau dibubarkannya Masyumi). Hal ini karena beberapa
pihak menilai, Muhammadiyah perlu ruang politik agar geraknya tajam lagi,
terutama agar memiliki andil dalam menentukan kebijakan publik.
Sementara NU
sudah lebih dulu menjadi Partai Politik pada tahun 1952 dan bisa ikut Pemilu
1955. Secara mengejutkan, Partai NU masuk tiga besar dibawah PNI dan Masyumi.
Selepasnya NU
dari Masyumi, kekuatan Masyumi memang menurun. Meski menjadi Partai terbesar
kedua kala itu, namun besarnya Masyumi karena disokong oleh beberapa Ormas
Islam Modernis terutama Muhammadiyah, Persis dan Al Irsyad.
Keadaan
tersebut begitu terasa ketika beberapa petinggi Masyumi bersitegang dengan
Presiden Soekarno, yang salah satunya menolak Manipol. Karena sebagian
petingginya terlibat PRRI, maka timbul kemelut di internal Masyumi dan mungkin
juga Ormas penyokongnya seperti Muhammadiyah.
Termasuk yang
paling dibuat bingung adalah Prawoto Mangkusasmito, yang duduk menjadi ketua
Umum. Dalam beberapa catatan, termasuk catatan yang pernah ditulis Ajip Rosidi
dan Prawoto sendiri, internal Masyumi sendiri memang punya insting bahwa
Presiden Soekarno akan membubarkan mereka setelah sebagian petingginya terlibat
PRRI.
Sebelum itu,
maka mereka membubarkan diri. Hal ini untuk menghindari kesan jikalau Masyumi
dibubarkan Soekarno. Meski sejarah pun memiliki versi yang beragam, bahwa
Masyumi memang dibubarkan Soekarno demi menegakkan Manipol, atau ideologi Nasakom-nya.
Karena itu
sekitar tahun 1965 dan 1966 ada keinginan besar untuk merehabilitasi kembali
Masyumi. Ini dirasa perlu karena selepas bubarnya Masyumi, Ormas penyokong
nampak kesulitan dalam akses politik. Sampai-sampai, beberapa tokoh di
Muhammadiyah, salah satunya Djarnawi Hadikusumo berpendapat perlunya
Muhammadiyah menjadi Partai Politik.
Desas desus
jika Muhammadiyah akan menjadi Parpol itu terdengar oleh Prawoto yang juga
tengah mempersiapkan rehabilitasi Masyumi. Bagi Masyumi, posisi Muhammadiyah
sebagai Ormas penyokong sangatlah penting, karena dari segi pengikut,
Muhammadiyah paling banyak dibanding Ormas yang lain.
Artinya apa,
hampir sulit untuk menghidupkan kembali Masyumi tanpa campur tangan
Muhammadiyah. Mungkin bisa, namun secara dukungan tidak akan maksimal.
Sampai-sampai, Prawoto menemui Ketua Umum PP Muhammadiyah waktu itu, K.H Ahmad
Badawi untuk meminta agar Muhammadiyah mendukung rehabilitasi Masyumi.
Dijelaskan
oleh KH. Ahmad Badawi, bahwa Muhammadiyah tidak mungkin menjadi Partai Politik,
karena terkendala oleh putusan Tanwir Bandung 1966. Namun demikian beberapa
tokoh Muhammadiyah masih banyak menyuarakan hal tersebut.
Namun entah
apa yang terjadi, sepertinya memang terjadi dead lock dan belum bulatnya
kesepakatan untuk rehabilitasi kembali Masyumi, sampai dibentuklah Panitia
Tujuh pada tanggal 7 Mei 1967 yang diketuai oleh KH. Faqih Usman (yang nantinya
menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah).
Panitia tujuh
ini dibentuk oleh Badan Koordinasi Amal Muslimin (1965), salah satu wadah
bersama Ormas Islam yang menginginkan terbentuknya Partai Politik pasca
Masyumi. Maka didirikanlah Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) pada 17 Agustus
1967. Namun Pemerintah mengisyaratkan tidak bolehnya mantan Pengurus Masyumi
menjadi pimpinan Parmusi.
Berdirinya
Parmusi sekaligus menggagalkan upaya untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai
Partai Politik. Meski sebagian besar pendiri Parmusi jugalah tokoh Muhammadiyah,
bahkan ketuanya, Djarnawi Hadikusumo dan Sekretaris Umum, Drs. Lukman Harun
adalah tokoh Muhammadiyah.
Namun tak
berselang lama, rezim Soekarno lengser dan berganti rezim Soeharto. Parmusi
untuk pertama kalinya mengikuti pemilu 1971 dan berada di posisi ketiga setelah
Golkar dan Partai NU. Meski sudah berhasil mengungguli PNI yang notabene
pemenang pemilu 1955, namun pemilu 1971 dianggap kurang demokratis lagi.
Pada tahun
1975 rezim orde baru melalui kekuatannya di Parlemen kemudian melakukan fusi
parpol dalam dua unsur. Unsur agama dan nasionalis. Golkar, dikarenakan bukan
Parpol maka tidak terkena fusi tersebut. Golongan agama di gabungkan ke PPP,
termasuk Partai NU, Parmusi dan Partai Syarikat Islam. Golongan nasionalis
digabungkan ke PDI.
Selanjutnya,
pemilu era orde baru menjadi panggung Golkar seutuhnya. Untung, karena Muhammadiyah
tidak menjadi Parpol, maka tidak tersedot ke PPP
sebagaimana NU. Hubungan Muhammadiyah dan Golkar tergolong baik, apalagi selama
kepemimpinan AR Fachrudin. []
Blitar, 18
Ramadan 1438 H
A Fahrizal
Aziz
Sumber bacaan
:
Buku karya
Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama : Sejarah NU 1952-1967
Buku karya
S.U. Bajasut dan Lukman Hakiem, Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto
Mangkusasmito Ketua Umum Terakhir Masyumi
Buku Karya
Amien Rais, Moralitas Politik di Muhammadiyah
Wikipedia
Nu Online
dll

No comments:
Post a Comment