Konsep Gerakan
Saudagar (?)
Kala
berbincang dengan kader Muhammadiyah dari berbagai daerah, hampir selalu
mengatakan jika ciri khas Muhammadiyah Blitar (Kabupaten) adalah kumpulan para
Saudagar. Apalagi, saya—yang bukan saudagar ini—juga dimasukkan sebuah group WA
Jaringan Saudagar Muhammadiyah.
Awalnya saya
kira group tersebut berisikan para saudagar Muhammadiyah se-Kabupaten Blitar,
ternyata tidak begitu. Mungkin banyak juga yang bukan saudagar, sehingga
mengirim sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan ke-saudagaran. Sementara saya
hanya viewer saja.
Group tersebut
lebih banyak digunakan untuk menawarkan produk-produk hasil produksi warga
Muhammadiyah, atau sekedar mereka yang reseller. Nah, mungkin ini lebih disebut
lapak jual beli, belum disebut jaringan. Karena jaringan berarti terhubung satu
sama lain dan memiliki keterikatan.
Saya tentu
tidak punya ototritas apapun untuk berbicara terkait hal ini, karena saya bukan
saudagar. Barangkali hanya sekedar komentar bebas, selaku bagian dari warga
Muhammadiyah. Namun iklim ke-saudagaran terasa begitu kuat di kalangan
Muhammadiyah sendiri. Sampai-sampai, ketika hendak menerbitkan website
blitarmuID, Pak Basori selaku Ketua MPI PDM Kab. Blitar berharap point besar
pemberitaannya tentang wirausaha.
Pada awal
puasa lalu, MPI bertemu Majelis Ekonomi
untuk membahas sebuah brand usaha khusus warga Muhammadiyah. Saya sebenarnya
diundang, namun karena bertepatan dengan kajian ramadan bersama DPP IMM di
Masjid Attaqwa, saya pun datang belakangan.
Dalam hati
saya bertanya, kenapa MPI yang tupoksinya di kepustakaan dan Informasi sampai
harus ikut membahas soal wirausaha? Apa sekiranya, Majelis Ekonomi, dan mungkin
di support oleh MPKU, MPS, MPM dan LazisMu tidak cukup?
Atau mungkin Majelis
Ekonomi menggandeng para saudagar Muhammadiyah yang siap berkolaborasi? Namun
lagi-lagi itu hanya sekedar pertanyaan, lagipula saya hanya “pembantu umum” di
Majelis-majelis, jadi ya tidak punya hak apapun untuk ikut memberikan
keputusan.
Namun hal
tersebut bisa dimaklumi, karena tokoh-tokoh Muhammadiyah Blitar, terutama Pak
Sis yang memimpin Muhammadiyah Blitar selama tiga periode (satu periode ketika
belum terjadi pemekaran Kota dan Kabupaten) adalah seorang saudagar sukses
dengan berbagai unit usaha. Salah satu yang terkenal ada di bidang peternakan.
Keberhasilan
Pak Sis juga diikuti oleh anak-anaknya, termasuk Pak Hidayat yang kini menjadi
ketua PDM Kab. Blitar. Situasi ini yang agaknya menjadi motivasi tersendiri
bagi sebagian besar warga Muhammadiyah Kabupaten Blitar untuk juga mengikuti
jejak menjadi Saudagar.
Sampai-sampai
dulu beberapa teman berbisik, bahwa satu-satunya program PDM yang kemungkinan
disambut dengan antusias, adalah program pemberdayaan kewirausahaan. Program
lain mungkin diminati, namun tidak sebanyak program wirausaha, dan apalagi
program media dan kepenulisan?
Saya yang
sedang tidak bergelut di bidang wirausaha, kadang kala agak canggung juga.
Misalkan, dulu saya membantu MPI harapannya agar muncul website, muncul tim
penulis, atau bahkan tim Jurnalis. Namun agaknya yang seperti itu tidak begitu
laku.
Namun jika
kita peras lagi arti dari jaringan pengusaha, atau katakanlah saudagar-saudagar
Muhammadiyah di Kabupaten Blitar, sebenarnya tidak bisa juga disebut masif.
Memang ada beberapa saudagar besar dengan omzet diatas rata-rata, yang masuk
kategori kaya atau sangat kaya.
Namun makna
jaringan pengusaha tersebut, agaknya masih belum bisa dilihat secara utuh.
Minimal dari pandangan saya sebagai yang bukan pengusaha ini. Padahal citra itu
sudah kadung melekat di PDM Kab. Blitar. Hal-hal lain diluar itu, tidak begitu
lagi dilihat, termasuk gerakan literasi yang nantinya mungkin akan digagas oleh
MPI.
Mungkin saja,
kader-kader yang non pengusaha akhirnya tidak terlalu bisa beraktualisasi,
karena ciri khas Muhammadiyah Blitar sudah dikunci sebagai kumpulan saudagar.
Sementara, sebagai sebuah sistem atau jaringan, belum juga terlalu nampak.
Bukan tidak
mungkin juga kader-kader dalam bidang lain, misalkan Politik juga kurang bisa
beraktualisasi, juga kader Da’i yang kedepan memiliki tugas ceramah di
Masjid-masjid. Belum lagi yang gawat, jikalau aspek kaderisasi tidak terlalu
juga diminati.
Mungkin akan
minus kader dalam bidang-bidang tertentu, minus kader yang mengelola amal usaha
dikarenakan terkendala profesionalitas, terutama karena latar belakang
pendidikan. Misalkan guru minimal harus s1, sementara kader Muhammadiyah banyak
yang tidak melanjutkan s1 bidang Pendidikan. Akhirnya sangat mungkin pengelola
Lembaga Pendidikan Muhammadiyah kadepan justru bukan kader Muhammadiyah.
Atau misalkan
pengelola rumah sakit, khususnya tenaga perawat. Tenaga perawat tentu harus
lulusan keperawatan. Tidak serta merta karena kader Muhammadiyah, lalu dicomot
jadi perawat di rumah sakit milik Muhammadiyah sendiri. Atau mungkin pula
krisis calon-calon dokter, dan apalagi direktur rumah sakit nantinya juga
dokter.
Masalahnya,
pengelola AUM terkadang powernya lebih kuat ketimbang pengelola Muhammadiyah,
meskipun Muhammadiyah lah yang mendirikan AUM tersebut.
Sementara
iklim dan konsentrasi lebih menguat pada kewirausahaan, sementara sisi lain
minus sekian derajat. Masalahnya, bidang kewirausahaan yang selama ini
digaungkan, juga belum nampak merata.
Setidaknya,
jika dibandingkan dengan gerakan kewirausahaan lain di Blitar, seperti sedulur
UKM Blitar raya yang baru berusia 365 hari, jaringan saudagar di Muhammadiyah
Kab. Blitar belum begitu nampak. []
Blitar, 15
Ramadan 1438 H
A Fahrizal
Aziz

No comments:
Post a Comment