Merawat IPM
dan IMM
Tentu menjadi
kegelisahan tersendiri ketika organisasi sepi peminat, apalagi jika perkaderan
macet, stagnan sampai beberapa generasi. Terkhusus di Muhammadiyah, sepertinya
berorganisasi memang memunculkan banyak kepentingan. Kepentingan tidak selalu
berkonotasi negatif, ada juga yang positif.
Awal mula
berjumpa dengan Kang Atim dan Kang Khabib dahulu, salah satu perbincangan
utamanya adalah bagaimana IMM Blitar bisa eksis. Sampai terbersit keinginan
untuk membuat kegiatan atau program yang sekiranya populer di kalangan
Mahasiswa, atau masyarakat Blitar secara umum, meski sedikit melenceng dari
tujuan.
Rasa peduli
yang tinggi itu kadang-kadang membuat saya heran sendiri, terutama ketika IMM
Blitar sempat vacum sebelum akhirnya Sukma Ulinuha bersedia menjadi Ketua dan
Pergerakan IMM berdenyut kembali.
Yang membuat
heran ialah, Kang Atim dan Kang Khabib yang notabene bukan lagi pengurus IMM,
sampai harus berfikir keras bagaimana agar IMM tetap eksis. Sampai-sampai saya
pernah “dilamar” untuk menjadi Ketua sementara. Selain itu, nama Dian Yuli
(sekarang ketua PDNA Kab. Blitar) juga pernah diharap menjadi ketua, terutama
untuk mengisi kevakuman.
Beberapa kali
pertemuan dilakukan, untuk menanyai siapa yang bersedia menjadi ketua IMM
Blitar. Yang saya ingat waktu itu di Kebonrojo dan Kedai Telkom. Sementara
diskusi di WA soal ini juga terus bergulir. Namun belum juga memberikan hasil,
sampai kemudian entah karena apa, Sukma Ulinuha bersedia. Idealnya memang
begitu, ketika Ketua tidak aktif, Sekretaris lah yang menggantikan, dan Sukma
waktu itu berposisi sebagai sekretaris.
Mau bagaimana
pun, bagi saya, gerakan intelektual memang harus digalakkan. Meski banyak orang
berkata bahwa kegiatan seperti itu tidak terlalu laku, atau mungkin justru akan
ditertawakan.
Namun kata
“intelektual” disini bukan berarti sok pinter, sok jenius, dll. Meskipun IMM
bertujuan mengusahakan terbentuknya akademisi Muslim. Artinya lebih pada
kegiatan akademiknya. Kegiatan akademik hanya dimiliki oleh Mahasiswa,
disesuaikan dengan disipilin ilmunya.
Intelektual,
sebagaimana yang pernah diutarakan Filsuf Italia Antonio Gramsci, adalah
sesuatu yang dimiliki oleh semua orang, apapun latar belakangnya. Maka Gramsci
membangi antara Intelektual Tradisional dan Organik. Istilah ini agak berat,
namun di era serba canggih ini bisa dilacak definisinya melalui internet.
Artinya,
intelektualisme itu bukan saja milik kalangan tertentu, tapi semua orang
memiliki potensi yang sama. Memang akan lebih gesit jika yang menjalankan
adalah organisasi mahasiswa seperti IMM, karena aktivitas utamanya adalah
belajar, kuliah, membaca buku, menulis, dlsb.
Hal itu
kemudian disepakati, sampai akhirnya Kang Atim dan Kang Khabib yang tidak lagi
berada di struktural IMM, tetap membantu merawat iklim tersebut melalui
Paguyuban Srengenge. Setidaknya, kata “membaca” dan “menulis” itu terus
didengungkan, dan sedikit banyak itu akan menciptakan suasana bathin
tersendiri, bahwa kegiatan intelektual masih ada yang peduli.
Tapi bukan
berarti menafikan yang lain, bukan berarti yang tertarik dengan kegiatan
baca-tulis, tidak tertarik pada kegiatan lain. Harusnya itu saling melengkapi.
Apalagi di IMM, mau diakui atau tidak, kesempatan mendapatkan kader baru, yang
benar-benar baru, itu terbuka lebar.
Mungkin kader
baru bisa muncul dari Amal Usaha, namun yang masuk ke Amal Usaha tujuan
utamanya untuk bekerja, kecuali jika sebelumnya sudah menjadi kader. Yang
sebelumnya tak tersentuh Muhammadiyah, mungkin akan sedikit tahu Muhammadiyah,
namun jangan berharap akan mau mengurus Muhammadiyah, sebagaimana kader yang
hatinya tertanam rasa cinta pada Muhammadiyah.
Mereka yang
masuk ke IMM, meski hanya satu atau dua orang, namun memiliki kesadaran yang
tinggi, tentu lebih baik daripada berduyun-duyun karena adanya program populis
yang bersifat sementara, namun hilang satu per satu ditengah jalan karena tidak
sesuai dengan harapan.
Waktu saya
kemudian memutuskan bantu-bantu Pak Widjianto Dirja di Majelis Pendidikan Kader
(MPK) PDM Kab. Blitar, tentu setelah melalui perenungan panjang. Apalagi,
ketika Pak Wid bilang bahwa tugas MPK sebenarnya tidak terlalu teknis, tapi
lebih bersifat koordinatif dengan bidang perkaderan Organisasi Otonom.
Setelah saya
fikir-fikir, yang perlu dan mendesak untuk lekas diperhatikan adalah IPM dan
IMM. Karena dari dua ortom inilah, awal mula pembibitan kader, tunas-tunas
bermunculan.
Hanya saja,
saya tidak terlalu punya wawasan tentang IPM, karena tidak pernah aktif di IPM.
Karena itu, akses ke IPM sangat terbatas. Saya hanya punya sedikit wawasan
tentang IMM, karena pernah aktif di struktural IMM dari tahun 2010-2014, dari
komisariat sampai cabang.
Maka penting
kiranya IMM untuk istiqomah memperjuangkan gerakan Intelektual, entah berupa
kajian pemikiran, diskusi terbuka, atau mungkin menulis dan melakukan
penelitian. Karena setelah tidak lagi di IMM, belum tentu aktivitas tersebut
bisa dijalankan.
Ya, meskipun
barangkali kegiatan semacam itu tidak terlalu menarik, membosankan, dan kurang
mendatangkan materi. Tapi Intelektualisme itu adalah jiwa utama mahasiswa.
Mungkin sedikit yang aktif dan mengikuti kegiatan semacam itu, dan sedikit yang
mengapresiasinya. Namun lebih baik ada daripada tidak sama sekali.
Saya kekeh
dengan gerakan Intelektual, meskipun tidak laku, meskipun tidak populer,
meskipun ditertawakan orang. Lagian kita tidak perlu memedulikan yang sinis,
fokus saja pada yang masih menghargai hal-hal positif yang kita jalankan.
Nah, beberapa
waktu yang lalu, malam-malam ketika hendak meminjam bendera Muhammadiyah di
Rumah Pak Zaenal Arifin untuk acara Baitul Arqom Ramadan keeseokan harinya, Pak
Zaenal bertanya tentang materi apa yang akan dibawakan Pak Basuki Babussalam.
Tentu saya
jawab materi yang berkaitan dengan bagaimana warga Muhammadiyah seharusnya
memandang politik, sementara Pak Zaenal sendiri akan bertindak sebagai
moderator.
Tiba-tiba,
beliau membuka lemari dan menyodorkan sebuah buku berjudul “Moralitas Politik
Muhammadiyah” karya Pak Amien Rais.
“Coba ini
dibaca kalau nanti hendak membuat tulisan tentang Muhammadiyah dan Politik,
intinya Muhammadiyah itu menerapkan High Politik. Tidak selalu terlibat politik
praktis, tapi mewarnai kebijakan publik yang ada,” jelas Pak Zaenal.
Mungkin itu
hanya peristiwa biasa layaknya seorang Bapak memberikan buku kepada juniornya
di Muhammadiyah. Tapi bagi saya itu jadi dukungan tersendiri, mungkin Pak
Zaenal percaya jika buku itu dipinjamkan ke saya, maka akan saya baca dan
kemudian akan saya jadikan referensi tulisan.
Rasa percaya
tersebut tentu tidak akan diberikan jika kita tidak berbuat apa-apa. Berarti
apa yang kita perbuat, entah lewat IMM, Paguyuban Srengenge, atau mungkin
website BlitarmuID sedikit banyak sudah dilihat keberadaannya. Ternyata ada
gunanya juga.
Tapi memang
harus perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dan telaten. Karena gerakan semacam
ini rawan kejenuhan, kebosanan, dan belum tentu dihargai orang. Karena kita
sedang memposisikan diri sebagai penggerak. Mudah memulai, tapi sulit
merawatnya. Fastabiqul Khairot. []
Blitar, 10
Ramadan 1438 H
A Fahrizal
Aziz

No comments:
Post a Comment