Mantan
Sekretaris Jenderal Rabitah A’lam Islam, Syeikh Harakan, menyatakan Pancasila
yang dijadikan asas tunggal negara Republik Indonesia, pernah dianggap Syirik.
Hal itu membuat Sekjend Organisasi Islam yang berkantor di Mekkah tersebut
enggan menginjakkan kakinya di Indonesia, sekalipun sudah disurati secara
langsung oleh Wakil Presiden Adam Malik.
Hal tersebut
diceritakan oleh Wartawan Senior (Alm) Rosihan Anwar dalam bukunya “Sejarah
Kecil, Petitie Histoire Indonesia Jilid 4” pada halaman 3-6. Kala itu Rosihan
sedang ada kegiatan di Colombo Sri Lanka, dalam agenda penataran wartawan Sri
Lanka sebagai konsultan yang mewakili Unesco, serta memberikan rekomendasi pada
kantor berita Lankapuvath.
Disaat yang
bersamaan tengah digelar Musyawarah menyambut Abad XV Hijriyah di Colombo, yang
dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara. Delegasi Indonesia tidak ada,
namun ada orang Indonesia bernama Idrisno Madjid yang ikut delegasi Jepang yang
diketuai oleh Dr. Saugi Futaki. Kejadian itu berlangsung tahun 1980.
Pada Rosihan
Anwar, Idrisno Madjid menceritakan bahwa sebelum pertemuan di Colombo ini,
sempat ada pertemuan yang digelar di Kuala Lumpur. Disana hadir Sekjend Rabitah
A’lam Islam, Syeikh Harakah. Mengetahui agenda tersebut, Menteri Agama Alamsyah
dan Wakil Presiden Adam Malik mengirimkan surat undangan untuk sekiranya
bersedia singgah ke Jakarta.
Namun Syeikh
Harakan menolak, sebab dari beberapa media massa yang pernah ia baca, bahwa
Indonesia yang mayoritas Muslim itu menerapkan asas tunggal Pancasila.
Menurutnya itu merupakan syirik dan melanggar syariat Islam. Mendengar jawaban
tersebut Buya Hamka dan Sekjed Depag Kafrawi langsung bertolak ke Kuala Lumpur
untuk menemui Syeikh Harakan, sekaligus menjelaskan lebih detail tentang asas
Pancasila tersebut. Namun tetap menolak.
Dr. Saugi
Futaki, selaku perwakilan Islam Jepang, sebelum bertolak ke Colombo sempat
singgah di Jakarta. Disana Dr. Saugi menceritakan kesan-kesan baiknya tentang
Islam di Indonesia. Sehingga, ketika tahu ada kesalah pahaman tentang asas
negara yang dipercaya Syaikh Harakan, Dr. Saugi Futaki beserta Idrisno Madjid
dan Rosihan Anwar ikut serta menjelaskan suasana Islam Indonesia kepada Syeikh
Harakan.
Karena tidak
punya legalitas sebagai peserta Musyawarah, maka Rosihanpun, dibantu Idrisno
Madjid, menghubungi KBRI dan menanyakan siapa delegasi Indonesia yang datang
yang nantinya akan bersama menemui Sekjend Rabitah A’lam Islam. Ternyata tidak
ada. karena itulah langsung datang Instruksi dari Jakarta untuk menunjuk
Saudara Rosihan Anwar sebagai delegasi dari Indonesia.
Sebagai tokoh
senior di dunia kewartawanan di Indonesia, Rosihan pun turut serta menjelaskan
tentang pemberitaan yang selama ini terjadi, bahwa memang ada beberapa pihak
yang menolak asas tunggal Pancasila, namun asas tunggal Pancasila tersebut
tidak dimaksud untuk membatasi Umat Islam dalam menjelankan syariatnya, seperti
Ibadah.
Mendengar
penjelasan dari Rosihan dibantu oleh Dr. Saugi Futaki dan Idrisno Madjid,
Syeikh Harakan pun akhirnya memahami dan bersedia untuk datang ke Indonesia.
Pada acara berikutnya, pada Musyawarah Media Massa Islam se-Dunia, Syeikh
Harakan pun datang memberi sambutan. [red.s]

No comments:
Post a Comment