Gambar diambil dari google
H.
Agus Salim merupakan salah seorang bapak bangsa. dia adalah diplomat yang
cerdik, ahli debat, kritis dan ulama besar. Agus Salim juga pernah kehilangan
iman dan susah payah merebutnya kembali hingga menemukan islam yang pas untuk
Indonesia. Islam yang tidak terikat adat kebiasaan, tapi dapat menggerakan
bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Ia juga berkawan baik dengan para
pemimpin Islam seperti HOS Cokroaminoto (Sarekat Islam) dan KH. Ahmad Dahlan
(Muhammadiyah), dan para pimpinan Nasionalis Seperti Soekarno, Hatta, Syahrir,
dls.
***
Ketika
masih muda, dia pernah bertanya kepada seorang ulama, "apakah Adam dan Hawa memiliki pusar?". Ulama itu
menjawab,"ada, karena mereka juga
manusia."... "kalau punya
pusar, sebagaimana halnya kita, itu tandanya mereka dilahirkan oleh seorang
ibu." ... Ulama itu tiada dapat
menimpali.
***
Pada
tahun 1906 sampai dengan 1911, Agus Salim bekerja di konsulat Belanda di
Jeddah, Arab Saudi, sekaligus memperdalam islam dan berhaji. Pada tahun 1912 sampai
dengan 1915, Agus Salim mendirikan Hollandsch - Inlandsche School (HIS) swasta
di Koto Gadang. Dan pada sekitar tahun 1915, Agus Salim menjadi pengurus besar
Central Serekat Islam.
***
Pada
tahun 1921 sampai dengan 1924, Agus Salim menjadi anggota Volksraad (Dewan
Rakyat) sebagai wakil Serekat Islam. Pada tanggal 19 desember 1948, agus Salim
ditawan Belanda bersama Sukarno dan Hatta, disingkan ke Berastagi, Parapat,
Bangka, dan baru kembali ke ibu kota Yogyakarta pada tanggal 6 juli 1949.
Pada
waktu di Volksraad, Agus Salim berpidato dalam bahasa Melayu. Ia ditegur ketua
parlemen dan diminta berpidato dalam bahasa Belanda. Tapi Agus Salim, yang
sebenarnya lancar bahasa Belanda, berpendapat ia berhak memakai bahasa Melayu.
Dalam pidatonya, dia menyebutkan kata "ekonomi". Lawannya Bergmeyer,
mengejeknya, "apa kata 'ekonomi'
dalam bahasa Melayu?", Salim menjawab, "coba, tuan sebutkan dulu apa kata 'ekonomi' dalalam bahasa
Belanda, nanti saya sebutkan dalam bahasa Melayu." Bergmeyer terdiam
karena kata "ekonomi" tidak ada dalam bahasa Belanda.
***
Gambar diambil dari google
Dalam
suatu pertemuan Serekat Islam, Musso mengejek Agus Salim dan H. O. S.
Tjokroaminoto dari atas podium. Dia bertanya kepada peserta, "orang yang berjenggot itu seperti apa,
saudara?", hadirin menjawab, "kambing". Muso bertanya lagi, "orang yang berkumis itu seperti apa,
saudara?", hadirin menjawab, "kucing". Tiba giliran Agus
Salim naik mimbar. Ia berkata "tadi
kurang lengkap, saudara. Yang tidak berkumis dan tidak berjenggot itu seperti
apa?" Salim menjawab sendiri, "anjing". ... Musso memang
tidak berjenggot dan tidak berkumis.
***
Gambar diambil dari google
Pernah
pula dalam sebuah acara diplomatik di London,
waktu itu Ia menggunakan peci hitam yang menutupi rambutnya yang putih
sambil merokok. bau khas yang keluar dari rokoknya, membautnya menjadi pusat
perhatian. "Apa itu yang anda hisap,
tuan?" ujar salah Pangeran Philip yang pertanyaannya sudah mewakili
rasa penasaran sebagian besar tamu undangan.
‘’Ini, yang mulia,
adalah alasan mengapa Barat ingin menguasai dunia," ujarnya. Padahal dia hanya sedang
menghisap rokok kretek yang memang menghasilkan aroma khas pada asapnya. Aroma
itu berasal dari cengkeh, rempah yang diburu oleh bangsa barat pada masa
kolonial.
***
Pada
tahun 1921, dalam sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (sekarang disebut PP
Muhammadiyah), H. Agus salim menyampaikan gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah
sebagai partai politik. Pidatonya tentang gagasannya tersebut sempat memukaukan
para sidang. Namun KH. Ahmad Dahlan tampaknya
tidak sepakat dengan gagasan Haji Agus
Salim, sampai-sampai pendiri Muhammadiyah itu berdiri sambil memukul meja dan
mengajukan dua pertanyaan. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama
Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam? ...
Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab
pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab
mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya
“Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan KH. Ahmad
Dahlan itu.
***
Dalam
suatu jamuan makan, semua orang memakai sendok dan garpu. Hanya Agus Salim yang
memakai tangan. Sewaktu ditanya mengapa demikian, Salim menjawab, "karena saya tahu bahwa tangan saya
bersih, sedangkan saya tidak tahu apakah sendok dan garpu itu bersih.
***
Saat pertama kali menginjakkan kakinya di Amerika Serikat,
Haji Agus Salim langsung diserbu wartawan. Beberapa wartawan muda iseng
menanyakan pendapat Agus Salim tentang kesan pertamanya berada di negeri Paman
Sam tersebut. Mendapat pertanyaan seperti itu, Agus Salim hanya tersenyum. Ia
kemudian menjawab dengan guyonan.
"Rok-roknya
memang bagus sekali, tetapi menurut pendapat saya betis-betis di bawah rok itu
malah lebih bagus." jawab Agus Salim.
***
Gambar diambil dari google
Bung Karno
dan H. Agus Salim, sering berpolemik panjang lebar soal poligami. Pada beberapa
tulisannya, Bung Karno tampak tidak setuju lelaki berpoligami karena
dianggapnya sebagai perendahan harkat dan martabat kaum perempuan. Sebaliknya
Agus Salim setuju karena pengertian beliau yang mendalam mengenai hal ini.
Namun, beberapa tahun kemudian, Bung Karno ternyata mengambil banyak istri banyak
sementara Agus Salim tetap beristri satu.
***
Pada 1927, Agus Salim mendapat undangan mengikuti kongres Islam di
Mekah. Waktu itu pemerintah kolonial Belanda mempersulitnya untuk memperoleh
paspor. Setelah berupaya keras, akhirnya ia berhasil memperoleh paspor itu di
Surabaya.
Sayangnya, ketika itu kapal yang akan ke Arab Saudi, kapal Kongsi
Tiga, sudah akan berangkat dari Jakarta. Agus Salim tidak akan dapat mengejar
kapal itu, karena perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memakan waktu cukup lama.
Mengetahui hal itu, HOS Cokroaminoto mengirim telegram kepada
perwakilan Kongsi Tiga di Jakarta. Isinya: Jika kapal itu berangkat tanpa Agus
Salim, tahun depan tidak akan ada seorang pun jamaah haji yang akan berangkat
dengan kapal Kongsi Tiga. Kapten kapal pun terpaksa menunda keberangkatan
selama 2×24 jam.
Ketika Agus Salim tiba, ia disambut dengan upacara kehormatan oleh
awak kapal. Mereka berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pintu masuk. Ketika
Agus Salim lewat, mereka memberinya hormat.
Setelah di kapal, Agus Salim bertanya kepada sang kapten, “Mengapa
saya disambut dengan cara seperti itu? Bukankah saya hanya orang biasa?”
Dengan agak jengkel si kapten menjawab, “Kapal ini tidak akan
menunda keberangkatannya selama 2×24 jam hanya untuk menunggu orang biasa!”
***
Tidak ada yang meragukan bahwa H. Agus
Salim adalah seorang diplomat yang hebat. Sulit ada yang menyaingi dalam hal
berdebat. Sekalipun suatu kali ternyata beliau pernah kalah akal dengan seorang
kusir andong.
Ceritanya, ketika suatu pagi beliau
sehabis shalat di Bandara Kemayoran, Haji Agus Salim naik dokar. Ketika itu
kudanya kentut. Kata Haji Agus Salim kepada kusirnya, “Pak, kudanya masuk angin”. ... “Bukan masuk angin, tapi keluar angin”,
jawab kusir. Haji Agus Salim keok dengan
jawaban itu. (Red. S)
Agus salim dan Keluarganya. Gambar diambil dari google
BEGITULAH H. AGUS SALIM, DIBALIK
SOSOKNYA YANG TEGAS, NAMUN MASIH ADA SISI LUCU YANG MENGIRINGI PERJALANAN
HIDUPNYA
________________________
Diolah
dari berbagai sumber




No comments:
Post a Comment