Untuk
mewarnai jagat literasi, Penerbit Progresif kembali menerbitkan buku. Kali ini
adalah buku “Literasi Sampai Mati (Jalan Progresif Membaca, Menulis, dan
Demokrasi Partisipatoris)” yang ditulis oleh Nurani Soyomukti, penulis asal
kota kecil Trenggalek.
Buku
ini ingin mengajak pembaca menjalani tradisi literasi, terutama tradisi membaca
dan menulis, serta berperan dalam dunia sosial dan politik yang berbasiskan
kecerdasan literasi. Keunikan buku ini, menurut Eko editor Penerbit Progresif,
adalah terletak pada isinya yang provokatif melalui cerita dan kisah hidup
penulis yang diuraikan dalam buku ini.
Menurut
si editor, dalam buku ini kita bisa melihat bagaimana dinamika literasi dalam
diri penulis berkembang. Pertaubatan dari aktivis radikal yang memegang pikiran
ideologis yang kaku, hingga kemudian ikut masuk sistem demokrasi yang
menurutnya lebih rasional untuk diperjuangkan. “Sepertinya ia kemudian
menawarkan pilihan: Apa jika bukan demokrasi lewat pemilu? Demokrasi komunis
dan Khilafah yang tidak menginginkan demokrasi itu sendiri?”, demikian tulis
editor.
Ditambahkan
oleh catatan editor bahwa penulis
menguraikan berbagai evolusi pemikiran bersamaan perubahan-perubahan peran.
Sebagai sebuah buku yang dimaksudkan untuk memotret aspek literasi, buku ini
cukup berhasil dalam menyuguhkan bagaimana pentingnya tradisi membaca dan
menulis sebagai budaya yang harus dijaga. Keterlibatan penulis dalam aksi-aksi
literasi sejak sekolah hingga ia pulang kampung tetap menjadi kisah utama buku
ini. Mulai dari pertama kali “jatuh cinta” pada buku, hingga menjadi penulis
banyak judul buku dan memetik peran sosial yang cukup partisipatif dari
kedalamannya menerjuni danau Literasi.
“Pesan
dalam buku ini adalah: Membaca dan menulis adalah jalan progresif yang harus
dilalui oleh siapapun yang ingin menjadi subjek indenden dalam kehidupan. Jalan
membaca buku dan menulis adalah jalan menjadi manusia yang ingin mendapatkan
pencerahan dan kontrol terhadap dunianya, bukan objek penindasan sistem budaya
yang hanya menyuruh orang untuk meniru semata”, tulis editor. (Red.EN)

No comments:
Post a Comment