Oleh: Riyan Betra Delza
Direktur
FK Institute
Srengenge-Opini. Pada
dasar teoritisnya demokrasi itu adalah, kekuasaan tertinggi dalam sebuah roda
pemerintahan berada di tangan rakyat. Apapun bentuk peraturan dan tujuan dari
sebuah keputusan, kepentingan rakyatlah yang menjadi dasar pijakannya. Seluruh
tata politik, hukum, dan ekonomi diciptakan untuk memenuhi segala kebutuhan dan
kepentingan rakyat. Marcus Cicero, salah satu filsuf klasik terbesar,
menyatakan, bahwa kesejahteraan bersama dari seluruh rakyat adalah hukum yang
tertinggi. Artinya apa, bahwa sejatinya demokrasi adalah sistem yang
menghadiahkan tahta tertinggi suatu pemerintahan yang dipegang langsung oleh
rakyat.
Indonesia
adalah negara yang menganut sistem demokrasi, yang sudah berjalan cukup lama,
dan sepertinya sangat matang walaupun disana sini masih banyak ketimpangan
dalam pengaplikasiannya. Saat ini saja demokrasi di Indonesia bisa dikatakan
sudah tergelincir ke lembah oligarki,
yakni pemerintahan dipegang oleh sekumpulan elit politik yang memiliki basis
kekayaan material yang sangat mapan. Hal ini sangat jelas terlihat dalam
realitas politik di Indonesia. Hal itu terlihat dari banyaknya pemimpin partai
politik, calon pemimmpin daerah sekarang ini mayoritas adalah pengusaha-pengusaha
kaya, yang siap menaikan citra dan pamornya untuk menjadi penguasa dengan
melibas orang-orang yang tak sepemahaman dengannya. Kemudian mereka membeli
kekuasaan dengan kekuatan material yang
mereka miliki.
Berbagai
kasus korupsi yang menjerat para pejabat daerah, baik di eksekutif maupun
legislatif, menunjukkan bagaimana penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan
pribadi dan jaringan oligarkinya bekerja nyata di tingkat lokal. Kekuasaan
tingkat lokal dibagi-bagi di tangan para pengusaha kaya, para birokrat kaya
hasil bisnis politik-rente, maupun jaringan keluarga, sebagaimana terjadi di
beberapa provinsi.
Dalam
budaya perpolitikan Indonesia saat ini, bangunan oligarki dimulai dari menentukan siapa yang akan menjadi calon
pemimpin melalui partai politik, yang mana
partai tersebut adalah milik pemodal yang maha kuasa. lalu yang sudah
berpasrah diri kepada tuan nya tersebut
dicalonkan dan kemudian baru rakyat memilih melalui demokrasi. Sering kali
Politik uang dalam partai menentukan siapa yang menjadi pilihan. Apalagi
fenomena seperti ini masih diperparah dengan hukum yang masih tebang pilih.
Figur-figur kuat dan oligark seolah-olah kebal hukum dan tampak hukum yang
tunduk kepada oligarki.
Prinsip-prinsip
demokrasi dilindas oleh prinsip untung rugi yang kental tertanam di dalam
kapitalisme. Partai sekarang dikuasai para oligarki yang hartawan, misalnya
Partai Golkar oleh Aburizal Bakrie, Nasdem oleh Surya Paloh, Perindo oleh
Harietanoe Soedibjo dan masih banyak lagi, dan sejumlah pengusaha yang menguasai
parlemen (sebagai anggota DPR) hingga 63 persen seperti yang pernah dikemukakan
pakar psikologi politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk.
Partai
dengan penguasaan sumber daya material hendak mempertahankan atau meningkatkan
kekayaannya dalam kontestasi pemilu dan jalannya pemerintahan hasil pemilu.
Aktivis perempuan, Lies Marcoes dalam “Perempuan dan Langkah Afirmatif”
(Kompas, 21/4 2014) menjelaskan, yang terjadi dalam mekanisme rekrutmen caleg
di partai cenderung bersifat instans dan diwarnai nepotisme. NPWP (Nomor Piro
Wani Piro).. Hal ini terutama disebabkan pola basis rekrutmen yang mengandalkan
kekuatan finansial dan kekerabatan untuk mendukung elektabilitas yang tinggi.
Dengan kondisi ini, harapan agenda reformasi parlemen dan lahirnya kebijakan
yang pro kepentingan publik akan berhadapan dengan kepentingan oligarki (elite
politik/fraksi).
Akhirnya,Penguasaan
oligarki terhadap partai membuat pemimpin partai tidak lagi melakukan
“leading”, namun melakukan dominasi, dan peran mereka pun bersifat personal.
Personalisasi dalam politik, yang juga kompatibel dengan individualism
oligarki, kemudian dipadukan dengan populisme oleh sistem pemilihan langsung.
Di satu sisi, publik dibuat seolah-olah sebagai demos yang kratos melalui
direct-one-man-one-vote, padahal umur kratos mereka hanya sekejap ketika mereka
berada di dalam bilik suara. Selebihnya, mereka tidak punya akses sama sekali
terhadap kekuasaan.
Karenanya
untuk memperbaiki sistem demokrasi dengan meminimalisir gerakan oligarki memang
dibutuhkan kerja sama yang amat keras oleh rakyat. Kecerdasan dalam menentukan
arah politik dan tidak alergi politik
juga sangat dibutuhkan setidaknya dengan menolak segala bentuk politik
praktis dalam hal ini seperti Money politik dan lain sebagainya.

No comments:
Post a Comment