Tidak semua bersetuju dengan gejar doktor
honoris causa di bidang theosefi yang diberikan Univ Muhammadiyah Jakarta untuk
Soekarno Presiden pertama sekaligus proklamator kemerdekaan itu. Silang
sengkarut di tubuh Pimpinan Persyarikatan tak bisa dihindari, perdebatan dan
diskusi terus berlangsung, perpecahan tinggal menunggu waktu. Semua dengan
hujjah masing-masing, saling melemahkan untuk mendapat persetujuan.
Konstelasi politik saat itu memang memanas,
pertarungan ideologi nasionalis-komunis dan agama begitu kuat terasa. Dan
imbasnya tentu ke MUHAMMADIYAH. Sementara NU telah demikian cepat mengambil
keputusan berijtihad: berkoalisi dalam nasakom. Sementara Muhammadiyah berada
di garis luar kumparan arus deras. Kadang menepi, kadang menengah. Meski tak
hanyut arus.
Bagaimanapun peran ulama dan tokoh-tokoh MUHAMMADIYAH dengan segala kekurangannya adalah model yang membesarkan Persyarikatan, masing-masing punya kontribusi penting dan kita ditagih bijak menyikapi. Tak sedikit yang menyalahkan sikap Ki Bagus HADIKOESOEMO yang menerima penghapusan : tujuh kata dalam sila Ketuhanan, sebagai kekalahan terbesar politik Islam. Beliau pernah dihujat luar biasa dan dianggap kalah, sebagian yang lain menganggap terlalu lugu untuk berhadapan dengan Mr AA Maramis dan kaum nasionalis sekuler lainnya. Tapi beliau adalah ulama waskita yang paham masa depan bangsa ini.
Pun dengan tokoh-tokoh yang lain tak luput
dari kurang: Pak AR dibilang lembek. Pak Amien dibilang keras lagi kaku. Buya
Syafi'i di cap liberal. Bang Din disebut selebriti. Pak Haidar disebut
melankolis. Itulah pelangi di Persyarikatan. Semua menjadi indah ketika kita
berbeda.
Kiai Nurbani Yusuf (penulis artikel Pelangi di Persyarikatan)
Politik memang soal ijtihad dan masing-masing punya ke-arifan untuk bersikap,
tak perlu saling menghujat apalagi mengkomparasi untuk sesuatu yang tidak
sebanding. Pemberian gelar 'Waliyul-Amri' bukan berarti menjilat. Menghapus
tujuh kata dalam sila Ketuhanan bukan berarti menafikkan kewajiban menjalankan
syariat Islam. Atau dianggap sebagai kekalahan politik umat Islam.
Lantas siapa berhak mengaku paling benar dan
berhak menyandang paling MUHAMADIYAH. Kita tak punya ukuran kuantitatif. Sebab
kita tak sedang bicara tentang hitung pasti. Setiap kita punya ukuran
kebenaran. Dan kita punya cita rasa berbeda. Bisa saja kita berada pada meja
makan yang sama tapi nikmat makanan tak bisa sama. Ini soal cita rasa dan hati
bening.
Setiap orang boleh mengklaim apapun pada rasa
yang di senangi. Pada akhirnya semua akan berada pada titik di mana ia harus
mengalah untuk sesuatu yang diyakini benar tapi direduksi.
Ada ketua majelis yang tak mampu meski hanya sekedar rapat sekali se periode tapi paling pintar mengkritik dan membuat alibi. Atau pengurus harian tapi tak juga mengerti tugas harian yang disandangnya tapi sibuk mencari salah. Ada yang rajin urunan tapi tak pernah hadir saat di undang rapat. Ada yang rajin rapat tapi menghilang saat hari H, bahkan ada yang hanya berniat bekerja untuk mendapat upah dan abai pada keluh Persyarikatan, Inilah pelangi di Persyarikatan kita. Semua orang boleh menampilkan wajah apapun. Semua harus kita sikapi dengan arif, tidak mengedepankan ego apalagi menang-menang an. Saatnya kita tersenyum dan melihat nya sebagai suatu keindahan.
Tidak ada yang salah,
bukankah Muhammadiyah adalah organisasi sosial, keanggotaan-nya sukarela
kepengurusan-nya pun tak ada upah apalagi fasilitas, bahkan kerap harus urunan.
Lantas untuk apa saling menghakimi apalagi menjauhi hanya kebetulan tidak
sepandangan. Tugas kita hanyalah menjaga harmoni, agar di setiap perbedaan
tetap indah di dengar dan di pandang, agar kapal Persyarikatan tetap di tengah
haluan. Hingga labuh di Tanjung Harapan ... insya Allah
@nurbaniyusuf
Guru di UMM dan Penggiat Komunitas Padhang Makhsyar
Guru di UMM dan Penggiat Komunitas Padhang Makhsyar


No comments:
Post a Comment