Ilustrasi dari Google
Oleh : Kiai Nurbani Yusuf
Komunisme dan Atheisme sering dipadankan, padahal keduanya jauh
berbeda. Meski sebagian kecil menganggap satu kesatuan utuh setelah melalui
proses pernikahan. Pada mulanya komunisme adalah perlawanan terhadap
kapitalisasi. Kelompok borju yang berkuasa atas ekonomi sosial dan politik
sekaligus. Kelompok elite yang berjumlah sedikit tapi banyak memiliki. Komunis
adalah sintesis dari masyarakat terbelah: borju dan proletar. Menghapus kasta
juga kelas sosial masyarakat. Tujuannya sama: Mensejahterakan banyak orang.
Pada awalnya komunis me adalah soal menolong orang kecil tertindas yang
di-marjinalkan dan diambil seluruh haknya. Bukan bersangkut pada soal agama
tertentu.
Para pemilik pabrik, perusahaan dan pengumpul modal. Bekerja
sama dengan penguasa korup. Menjarah kekayaan, memiskinkan dan menghisap
seperti lintah. Kesenjangan melebar. Lahir ketidakadilan dan penindasan. Yang
kaya semakin kaya yang miskin tak bisa bernapas. Ilustrasi masyarakat borju
yang menindas. Rakus juga serakah. Tak ada yang membenarkan tapi siapa hendak
menghadang.
Komunisme menawarkan kehidupan yang lebih mengedepankan kesamaan
meski melawan sunatullah. Keadilan Komulatif berbeda dengan keadilan
distributif. Masyarakat komunal adalah impian utopis para penganjur marxian
yang tak pernah wujud. Bahkan revolusi yang mereka inginkan juga patah.
Bagi Eropa dan negara-negara kapitalis lainnya, gagasan masyarakat komunis yang menghapus kelas sosial terutama kelas borju tentu mencemaskan. Harus dilawan dengan segala cara termasuk melarang komunis berkembang. Komunisme jelas membuat onar. Sebagai ideologi, komunis terlalu berpihak kepada rakyat miskin dan itu dosa besar.
Belakangan komunis berkembang menjadi ideologi politik.
Penganjur marxian tak ingin komunisme berhenti di kelas kuliah. Dan politik
menjadi salah cara ampuh untuk realisasi. Beberapa negara tertarik dan
memenangkan secara ideologi. Sebut saja Rusia dan Republik Tiongkok meski
keduanya mengambil jalan berbeda. Komunis telah menjadi ideologi negara meski
telah dimodifikasi. Setidaknya keduanya adalah model negara komunis moderen
yang berhasil menggagas ide komunis menjadi praksis.
Bagaimanapun komunisme adalah solusi ditengah kebuntuan. Mimpi
indah di saat gagasan tentang hidup adil dan makmur tak kunjung datang.
Kekuasaan rakyat dapat ditegakkan. Aspirasi di dengar. Tak ada lagi orang pamer
kekayaan di saat hidup susah. Cita-cita Komunisme sederhana: tak ada lagi
kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Itu saja tak lebih.
Akan halnya Atheisme adalah gagasan lain. Pertama kali dikembangkan oleh Feurbach dan Nirtche. Para penganjur marxian hidup saat agama melakukan reduksi dan intimidasi. Gereja menjadi lembaga paling menakutkan. Dihuni para rahib dan pendeta korup. Banyak ilmuwan dibui dan disiksa dan tidak sedikit yang dibunuh dengan cara disalib.
Para pemimpin agama melakukan indoktrinasi kebenaran yang
katanya dari langit, tidak boleh dibantah apalagi dilawan. Dari kondisi semacam
itulah kemudian lahir stigma: agama adalah candu. Tuhan telah mati. Dan banyak
lainnya. Sekumpulan konsep dari rasa jengkel dan frustrasi. Kepada otoritas
gereja dan seluruh penghuninya. Jadi pernyataan Marx dan kawan kawan bukan buat
kita, umat Islam. Tapi untuk sekumpulan pemimpin agama korup yang menjadikan
agama sebagai topeng mengejar maksud.
Tidak selamanya komunis selalu atheis dan atheis selalu komunis.
Jadi apakah mungkin komunisme disandingkan dengan agama, mengingat keduanya
punya tujuan mulia yang sama ... ah tidak tahulah ... ".
Wallahu a'lam ...
@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
Komunitas Padhang Makhsyar

No comments:
Post a Comment