ANAKKU DIPOTRET MALAIKAT
(Resensi Novel Karya Adnan Katino)
Anakku Dipotret Malaikat, Adalah judul yang dipilih Adnan Katino - (Beliau adalah
Penulis Novel yang selalu bertemakan kritik sosial dan motivasi, pada tahun 2009 ia pernah diundang PC. IMM
Kediri untuk mengisi acara pelatihan menulis sekaligus membedah novelnya yang
pertama “Menggapai Matahari”) - untuk
menggambarkan keseluruhan isi cerita dalam novel ini. Menurut beliau, hanya
malaikat yang mampu memotret secara detil setiap jeritan hati dan rintihan
mereka, anak-anak ibu pertiwi. Yang tidak semuanya merasakan kemerdekaan negeri
ini. Bahkan tak dapat kita pungkiri, hampir setiap hari mata dan telinga kita
disuguhi berbagai informasi, kenyataan yang harusnya tidak terjadi di negeri
ini, ironi.
Mereka, adalah anak-anak ibu pertiwi
yang harus menjalani nasib perih akibat ulah para oknum di negeri ini. Cerita
dimulai dengan Asih, gadis desa yang baik, lugu, dan cantik. Namun kini
kecantikannya pudar, bukan karena ketdakmampuannya merawat diri. Asih harus
hidup terlunta-lunta di jalanan ibu kota, membawa beban berat janin dalam
perutnya, dan yang lebih membuatnya menderita adalah bahwa janin itu ada
sebagai wujud segala dendam yang menumpuk di hatinya.
Asih adalah korban kebiadaban Mamat,
lelaki yang dulu dicintainya sepenuh hati, diharapkan untuk menjadi suami,
ditunggu setiap purnama tampak berseri. Namun, Mamat yang awalnya hanya pamit
untuk merantau sementara berubah tabiatnya sepulang dari ibukota. Bahasa
lisannya tak lagi sopan layaknya orang desa, sikapnya tak lagi terjaga, bahkan
ia merenggut kehormatan gadis yang dicintainya tanpa rasa berdosa. Parahnya,
Asih yang terlanjur mengandung akibat perbuatan laknat itu tak mampu menahan
malu. Ia bertekad menyusul Mamat ke ibukota, menuntut tanggung jawab.
Tapi apa? Susah payah dicarinya
alamat, saat bertemu kenyataan jauh lebih menyayat. Mamat sedang bersama wanita
lain yang setengah telanjang. Terbayang betapa sakit hati Asih menatap
kenyataan, dendam dan perih dihatinya tak mampu membawanya pulang. Ia membenci
janin yang tumbuh dalam tubuhnya. Bahkan jika ia mati, ia tak sudi mati bersama
sang jabang bayi. Karena itulah, ia rela menanggung beban berat ditubuhnya
hingga sembilan bulan. Setelah itu ia bertekad menjemput kematian, jika
kematian enggan mengambil nyawanya.
Bayi itu lahir diantara tumpukan
sampah ibukota. Ditengah hujan deras dan lelah yang mendera tubuhnya. Dan belum
genap satu jam terpisah dari tubuh sang induk, bayi itu harus rela
ditinggalkan. Menyapa dunia dalam ketidakberdayaan, diantara tumpukan sampah.
Sementara sang ibu, memenuhi janjinya.
Pagi masih belum sempurna terbuka saat orang-orang menemukan jasad seorang
wanita muda tewas setelah jatuh dari lantai tiga salah satu mall di Jakarta.
Sementara bayi itu, tidak dibiarkan
mati begitu saja. Tuhan membuatnya tetap hidup setelah ditemukan pemulung
sampah dan anak gadisnya. Mereka merawat bayi itu sepenuh jiwa, meski kehidupan
jelas tak berpihak pada mereka. Nama bayi itu: Nasib, sesuai nasib yang
membawanya lahir ke dunia seolah secara tiba-tiba, dan nasib juga yang
membuatnya bertahan meski tanpa orang tua. Mereka bukan keluarga yang sempurna,
bahkan sudah merasa mewah jika bisa memenuhi kebutuhan hidup yang seadanya.
Serba kekurangan, jarang makan, hingga diusir pemilik emperan.
Cerita terus berlanjut, bagaimana
Nasib bertahan hidup. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menemui
orang-orang dewasa yang tampak baik awalnya, namun sejatinya tidak lebih
berbahaya daripada ular berbisa. Nasib terus menekuni nasibnya untuk hidup.
Menemui keganjilan-keganjilan dan ironi kehidupan di negeri yang kata orang
adalah cermin surgawi.
Hingga suatu hari, saat hujan kembali
mengguyur bumi, ia dibawa paksa oleh dua orang tak dikenal. Mereka sampai di
sebuah rumah mewah. Dan disitulah, Nasib melihat tubuhnya disayat-sayat
kemudian dibiarkan begitu saja. Ia masuk ke dimensi kehidupan lain.
Cerita belum usai. Di kehidupan yang
baru, Nasib disambut bak tamu agung di istana penantian. Satu demi satu,
orang-orang yang dia kenal baik dan mendahuluinya mati bisa ia temui disini.
Kakak perempuan yang pernah merawatnya sejak bayi, anak pemulung di awal
cerita. Seorang wanita yang kata kakaknya selalu mengikuti kemanapun Nasib
pergi sambil menangis, dan banyak orang yang tak ia kenal namun tapak begitu
antusias menyambutnya. Termasuk para pendiri negeri ini, yang dengan senang
hati memasukkan Nasib dalam perkumpulan para pejuang dan pahlawan negeri. Nasib
bertemu dengan Buya. Yang dalam imajinasiku beliau adalah Buya Hamka, ulama
besar sekaligus budayawan Muhammadiyah
itu , serta Salah satu pahlawan nasional kita.
Selanjutnya, Buya mengajak Nasib
mengelilingi Indonesia. Hanya dengan memejamkan mata sesaat mereka sudah sampai
ditempat yang diinginkan. Tentu saja itu mungkin dan mudah. Karena kini mereka
tidak lagi bermateri. Nasib menjajal semua fasilitas yang sempat diinginkannya
ketika masih hidup di dunia. Ia menikmati naik kereta eksekutif, naik ke gedung
tinggi, jalan-jalan dari satu tempat ke tempat lain. Senang? Satu sisi hati
Nasib merasakannya. Tapi rasa senang itu tidak berlangsung lama. Karena sesaat
kemudian Buya menunjukkan fakta betapa buruk kondisi negara ini sebenarnya.
Nasib muak melihat kondektur kereta api yang mudah disuap. Ia marah melihat
penjara para koruptor kosong karena penghuninya bisa melenggang bebas keluar
jalan-jalan. Nasib ingin menangis melihat para pemegang uang dapat bebas
menggunakan fasilitas mewah meski di dalam tempat bernama penjara.
Dan air matanya tak bisa berhenti
mengalir, ketika melihat persidangan seorang nenek yang harus menerima hukuman
akibat mencuri tiga gelondong kakao dari kebun sebuah perusahaan. Iya, hanya
tiga buah!!
Nasib juga miris melihat rombongan
jamaah haji yang tega memaki ibu-ibu pengemissetelah beliau terserempet bis
yang mereka tumpangi. Dimana esensi talbiyah yang beberapa menit sebelumnya?
Buya menerangkan kepada Nasib bahwa mereka yang berangkat haji tidak sekali dua
kali. Mereka lebih mengutamakan gengsi, tidak kasihan pada mereka yang ingin
menunaikan haji pertama kali. Mereka membiarkan antri pendaftaran haji mengular
hingga puluhan tahun.
Bukankah akan lebih baik jika mereka
menunakian haji sekali saja, untuk menunaikan kewajiban? Selebihnya kan mereka
bisa umrah setiap waktu. Maka orang-orang yang ingin menunaikan kewajiban haji
untuk pertama kali tidak perlu mengantri panjang hingga puluhan tahun, bukan?
Perjalanan Nasib bersama Buya terus
berlanjut. Mereka sempat mampir ke gedung DPR, dimana seharusnya para wakil
rakyat berjuang menyuarakan aspirasi rakyat. Namun sekali lagi, Nasib harus
meluaskan hati untuk menerima kenyataan bahwa banyak diantara mereka yang
memilih tidur saat rapat. Alih-alih memikirkan pengentasan kemiskinan, mereka
malah berdebat soal perlu tidaknya membangun gedung baru. Sementara gedung yang
mereka tempati saat ini masih bisa dinilai sangat layak. Perilaku sebagian penguasa bangsa ini, begitu kentara
ingin membuat kaya diri sendiri. Mereka tidak ingat lagi janji yang ditebar
manis saat pemilu. Tidak ingat bagaimana mereka merayu rakyat untuk memilih.
Yang lebih mereka ingat adalah berapa rupiah yang harus mereka keluarkan untuk
duduk di singgasana impian, lalu ketika sudah berhasil disana, mereka berfikir
keras bagaimana mengembalikan dana yang sudah dikorbankan atau bagaimana
mendapat keuntungan dari posisi sekarang.
Lalu, dimana sebenarnya esensi
kemerdekaan? Jika para penguasa tidak mampu menaklukkan diri sendiri dari rasa
ingin menguasai duniawi. Lalu jutaan rakyat negeri ini menjadi tidak lebih
berarti dari sepiring nasi yang ingin mereka nikmati.
Nasib kehabisan kata. Ia bingung,
kemana harusnya mencari teladan kehidupan? Jika para tokoh yang ada sekarang,
tidak layak dijadikan panutan? Tidak pemerintah, polisi, kondektur, bahkan
jamaah haji. Sebagian dari mereka sudah kehilangan naluri manusiawi.
Nilai-nilai luhur kehidupan perlahan tapi pasti telah luntur dari bangsa ini.
Koruptor yang menelan aset negara hingga trilyunan masih dapat melenggang bebas
menikmati berbagai fasilitas. Sementara rakyat kecil yang kedapatan mencuri
tiga buah kakao harus berhadapan dengan hukum yang siap menumpahkan amunisi di kepalanya.
Dimana letak keadilan sebenarnya?
Novel ini ditutup dengan penuturan
indah Buya. Bahwa memang tidak selayaknya kita menjadikan potret buruk mereka
sebagai panutan. Mereka bukan siapa-siapa. Lalu Buya mengenalkan Nasib pada
kehidupan para sahabat Rasulullah. Yang menjunjung tinggi hukum Allah dan
RasulNya. Buya mengenalkan Nasib pada Abu Dzar Al Ghifari, yang berani
menebaskan pedang ke leher mereka para penggemplang pajak. Abu Dzar yang
berhasil menjadi juru dakwah bagi kaumnya, yaitu kaum yang sebelumnya terkenal
kejam dan kasar sebagai penguasa padang pasir, sebagian besar dari mereka dengan sukarela menyatakan diri masuk
islam berkat penjelasan Abu Dzar. Dari tangan dan lisannya Islam meluas dan
semakin bersinar di bumi jazirah. Sangat kontras dengan kondisi iman sebagian
manusia yang hidup pada zaman sekarang.
Di novel ini kita juga bisa menemukan nama Pramono Anung, Gayus
Tambunan, Susno Duaji, Chandra M.Hamzah, Adner Sirait, Ibrahim, Aulia Pohan,
Bibit Slamet Rianto, dan banyak tokoh bangsa ini dalam sebuah alur cerita yang
sayang dilewatkan. (Mas Bib / Red. S)
________________________
diresensi oleh:
Khabib M. Ajiwidodo
(Aktivis Pemuda Muhammadiyah Kota Blitar)
&
Red.S

No comments:
Post a Comment