JALAN CINTA PARA PEJUANG !
Dengan membaca judulnya saja sudah mampu
menggerakkan tangan untuk meraihnya, merangsang bibir untuk membacanya, dan
otak juga selalu siap untuk mencari maknanya. Ya, judulnya adalah Jalan Cinta Para Pejuang!,
Sebuah
buku yang menyadarkan kita mengenai hakikat cinta dan untuk menjadi tuan atas
kata cinta itu sendiri. Novel ini mengajak kita menelisik makna sejati cinta
sebagaimana dihayati para pejuang. Cinta yang diterjemahkan sebagai kata kerja.
Cinta yg ditaklukkan, bukan justru kita yang takluk oleh cinta (atau hawa nafsu
yang mengatasnamakan cinta).
Cinta adalah fitrah. Akan tetapi cinta bukanlah
gejolak hati yang datang sendiri dengan melihat paras ayu atau wajah tampan.
Miris rasanya melihat para aktivis dakwah masih ada yang terjebak fenomena
virus merah jambu. Harusnya ketika perasaan itu datang, sebisa mungkin
dikendalikan, jangan malah dimanjakan. Sebab, di jalan cinta para pejuang, kita
bertanggung jawab atas perasaan kita.
Inilah jalan cinta para pejuang, cinta yang
mengobarkan semangat jihad di bawah panji islam. Cinta yang mampu mengubah
pecundang menjadi pahlawan, cinta yang mengubah sosok pemuda yang lembek
menjadi seorang yang gagah dan berani menatap masa depannya. Inilah jalan cinta
para pejuang. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan
atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan. Mencintai tak harus
memiliki, karena memang sejatinya kita tak pernah memiliki apapun di dunia ini,
semua kepunyaan Allah. Mencintai berarti pengorbanan untuk orang yang kita
cintai. Cinta yang memberi. cinta yang berlandaskan asas kokoh dengan niat,
gairah dan kebersihan nurani.
kisah-kisah cinta para ksatria islam terdahulu, para
sahabat Nabi, di dalam buku ini akan menyadarkan kita bahwa cinta agung itu
pernah ada. Ketika cinta kepada Dia, sang Maha Cinta adalah segalanya. Lalu
cinta kepada Rasulullah adalah juga bentuk ketaatan, meloncati rasa suka dan
tidak suka. Hingga kita tersadar bahwa mencintai mahluk-Nya hanyalah
pengejawantahan dari cinta kepada Nya.
di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu disengaja malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiaaban, menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang
(Salim A. Fillah)
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu disengaja malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiaaban, menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang
(Salim A. Fillah)
Bab I,
penulis mengenalkan kita tentang ‘cinta’ ala-ala cah nom masa kini. Penulis memulainya dengan
‘Langkah pertama: Dari Dulu Beginilah Cinta’. Penulis menceritakan kisah
tentang Layla Majnun dimana si Qais yang terlalu mencintai Layla hingga ia
gila. Dan juga tentang Romeo and Juliet yang berakhir dengan kematian keduanya.
Banyak orang bilang, Dua kisah tersebut dikatakan kisah teromantis sepanjag
masa karena diceritakan keduanya bahagia di surga. Benarkah? jawabannya dapat
dibaca di bagian akhir dari Langkah pertama. Akhir dari langkah pertama penulis
meminjam teori segitiga cinta dari Sternberg yang meminta kita untuk komitmen di
jalan cinta para pejuang ini.
Bab 2,
penulis mencoba menjelaskan kepada kita seperti apa dunia saat ini. Judul
babnya, “Dunia Kita Hari ini”. Salim A Fillah menjelaskan dengan
gamlang kondisi dunia barat saat ini yang mulai bangkit, beberapa nilai mulai
dikedepankan. Disana ada tantangan buat peniti jalan cinta para pejuang. Ini
tentang cinta, agama dan permusuhan. Agama bukanlah sumber konflik
dan konflik agama selalu terjadi. Bagaimana jika agama kita
diserang? dengan mengutip kata-kata orang betawi, penulis berpesan “musuh jangan dicari, kalau ketemu jangan lari. Lu jual, gue beli.”
Bab 3,
membahas bagaimana cara mencintai, ia dibagi menjadi empat tapak. Tapak pertama
tentang Visi, Salim A Fillah mengajak kita menggantungkan sebuah visi itu
setinggi langit jangan pernah takut dengan apa yang kita pikirkan dan kita
inginkan untuk cinta. Ia bercerita tentang cinta itu membutuhkan suatu daya emosional kita dala mencintai, harus
ada greget untuk bekerja dalam cinta. Ketiga adalah
tentang Nurani, inilah yang membedakan cinta di jalan cinta para pejuang dengan
‘cinta-cinta’ yang lain. Nurani adalah mata. Ia akan melihat dan menunjukan
bagaimana mencintai dengan baik dan benar. Dan tapak terakhir adalah Disiplin.
Karena cinta adalah adalah sebuah pekerjaan kepada yang kita cintai, maka ia
haruslah disiplin. Penulis menuliskan biarlah cinta berhenti dititik
ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci.
Tentang cinta di buku Jalan Cinta Para
Pejuang ini, tidak akan
menyesatkan kita pada cinta yang membawa petaka.
__________________
Diresensi Oleh:
Khabib M. Ajiwidodo
(Seorang Imam Rumah Tangga, aktif di Pemuda Muhammadiyah Kota Blitar sekaligus Pimpinan Redaksi Srengenge Online)


No comments:
Post a Comment