TAN
Ibrahim yang kemudian di beri gelar “Datuk” (Datuk
Ibrahim) atau lebih terkenal dengan nama Tan Malaka (Nama pena) mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat di
asal kelahiranya, dan melanjutkan sekolah guru pribumi (Inlandsche
Kweekschool voor Onderwijzers) di Bukit Tinggi, Setelah menyelesaikan
pendidikan Kweekschool ia melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada
1913. Nilainya yang cukup memuaskan dan hubungannya yang bagus dengan gurunya
menjadikan mereka bersimpati pada Tan Malaka. Mereka rela mengumpulkan Rp. 50
tiap bulan untuk membantu Tan Malaka dalam studi lanjutnya di Belanda (Tan
Malaka,2008: 34).
Selama mengenyam pendidikan inilah Tan Malaka mulai
berkenalan dengan buku-buku filsafat karya pemikaran Jerman, Nietzche dan
buku-buku tentang revolusi Prancis dan Amerika. Tan Malaka juga sangat
bersimpati dengan pergerakan yang dilakukan kaum buruh komunis Rusia yang
terjadi pada bulan oktober 1917, dan mulai berkenalan dengan buku-buku yang
berkaitkan dengan Revolusi Rusia, seperti Het Kapital karya Marx, Engels, dan Kautsky (Poeze, 2000:71).
Kemudian Tan Malaka kembali ke Indonesia dan menjadi
guru bagi anak-anak kaum buruh di perkebunan Sumatera, tepatnya di Deli dari
Desember 1919 sampai Juni 1921. Pengalamannya bergaul dengan kaum proletar inilah
yang makin memantapkan Tan bergerak dalam bidang pendidikan. Dari Deli ia
menuju Semarang pada Juli 1921, tujuannya adalah untuk mendirikan perguruan
yang sesuai dengan keperluan dan jiwa rakyat Murba (Musyawarah rakyat banyak) masa itu. Rakyat Murba adalah sebutan Tan
Malaka untuk kaum proletar. Di Semarang inilah Tan Malaka dekat dengan Vereniging
van Spoorden Tram Personel (VSTP) atau Serikat Buruh Kereta Api yang
waktu itu diketuai oleh Semaun, yang kemudian mengetuai Partai Komunis
Indonesia (PKI). Sebelumnya PKI bernama Indische Sociaal Democratische Partai
(ISDP) yang didirikan kaum sosialis revolusioner Belanda pada 1914. Ketika di
Semarang itulah Tan dekat dengan Sarekat Islam (SI) HOS Tjokroaminoto. Setibanya Tan Malaka di Semarang,
Semaun mengadakan rapat istimewa anggota SI Semarang untuk mengusulkan
mendirikan perguruan yang dicita-citakan olehnya (Tan Malaka, 2008: 93-94).
Sekolah rakyat yang didirikan, biasanya juga disebut
sekolah Tan Malaka, segera mendapat tempat dihati rakyat, disamping bayaran
yang murah sekolah tersebut sesuai dengan keadaan jiwa rakyat jelata yang
sedang tertindas. Sehingga dimana-mana didirikan sekolah model Tan Malaka,
bersamaan dengan kemajuan sekolah rakyat tersebut, dalam wilaya politik sedang
berkecamuk perbedaan dalam serikat Islam antara kelompok SI dan PKI.
Menurut sejarahwan Anhar Gonggong, Tan Malaka adalah
tokoh yang dekat dengan HOS Tjokroaminoto (guru para pendiri bangsa). Tan memiliki keyakinan yang
sama bahwa Islam adalah potensi besar untuk membawa kaum bumiputra menuju
kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan pembentukan SI-merah oleh Tan Malaka,
karena ia tidak ingin Islam dipertentangkan dengan komunisme. Karena
pemikirannya ini, dan juga ketidak sepahamannya untuk melakukan revolusi PKI
tahun 1926 menyebabkannya harus didepak dari PKI.
Bagi Tan pemberontakan yang direncanakan PKI kelompok Prambanan bukan saat yang tepat.
Digambarkan oleh Tan Malaka dalam
buku aksi massa. moment perubahan aksi masa menjadi pemberontakan bersenjata timbul dengan
sendirinya, sebagai hasil dari berbagai maca keadaan, bukan direncanakan
terlebih dahulu. Hal tersebut disebabkan oleh karena masa hanya berjuang untuk
kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi. Karena mereka
ditinggal oleh masa, sebab dari awal mereka telah memisahkan diri dari masa
(Malaka. 2000:95).
Penggalan pidato Tan Malaka pada Kongres Komunis
Internasional keempat pada tanggal 12 Nopember 1922 dapat menjelaskan bagaimana
sikap Tan Malaka sebagai tokoh komunis terhadap Islam. Pada pidato tersebut, ia
menentang thesis Lenin yang diadopsi pada kongres kedua, yang menekankan
perlunya sebuah “Perjuangan Melawan Pan Islamisme”. Di sini Tan Malaka
mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Berikut penggalan
pidato Tan Malaka:
“Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan
berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda di mana kita telah bekerja
sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat
besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara
tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak
tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang
timbul secara spontan dan sangat revolusioner.”
Dalam Pidatonya, Tan Malaka menyampaikan usulan pada
komintren mengenai pentingnya kerjasama kaum komunis dengan gerakan Pan
Islamisme di negara-negara jajahan. Menurutnya Pan Islamisme bukanlah sebuah
gerakan keagamaan, melainkan sebuah gerakan perjuangan
kemerdekaan melawan kekuasaan imprialisme. Tan juga
mengingatkan
bahwa kaum muslim yang saat itu berjumlah 250 juta orang dapat
menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat dirangkul dalam perjuangan melawan
kekuasaan imperialism di dunia, terutama di tanah jajahan (Malaka,
2000:313-316).
Dilain kesempatan ketika terjadi konflik dalam tubuh
serekat Islam, seorang bertanya pada Tan Malaka, apakah dia seorang komunis
yang anti agama (atheis)? Tan Malaka menjawab dengan bahasa Belanda :
”Als ik voor God sta, ben
ik Moslim, maar als ik voor de mensen sta, ben ik geenn moelim, omdat heeft
gezegd date er onder de mensen vele duivels zijn”
(jika saya berdiri
dihadapan Tuhan, saya adalah seorang muslim, tetapi jika saya berhadapan
di depan manusia, saya bukan muslim sebab bukankah Tuhan pernah mengatakan
bahwa diantara manusia itu banyak setannya)
(Poeze,2000:315)
Banyak petinggi Komintern (Komunis Internasional) yang kemudian memusuhinya.
Perbedaaan pandangan Tan dan para petinggi komintern lain. Mayoritas tokoh
Komintern menilai gerakan Islam sebagai pengehalang dan juga sisa-sisa
feodalisme yang harus dibasmi, sedangkan Tan Malaka sangat tidak setujuh. Terlepas
dari keyakinan yang dipegang oleh Tan Malaka, Menurut Mohammad Yamin,
dalam karya tulisnya menyebutkan "Tan Malaka Bapak
Republik Indonesia". memberi komentar: "Tak
ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat
sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina
sebelum revolusi Philippina pecah…." Hal ini diamini bila kita
bandingkan ketika Tan Malaka dengan bukunya yang berjudul Near de
Republiek Indonesia yang pertama kali menggagas berdirinya republik
Indonesia pada April 1925 di Kowoloon Cina, mendahului karya Moh. Hatta dengan Mencapai
Indonesia Merdeka pada 1930 di Belanda dan Soekarno di tahun 1932
dengan Kearah Indonesia Merdeka (Kutoyo, 2000:213).
Tan
Dalam Pengasingan (1922-1942)
Tan Malaka menjadi korban politik pembuangan yang
dilakukan Belanda dengan tuduhan mengganggu keamanan dan ketertiban umum, di
Belanda Tan Malaka di sambut Partai Komunis Belanda (CPH). Tan Malaka di
jadikan juru kampanye sekaligus dicalonkan sebagai anggota Parlemen Belanda
(Prabowo, 2002:17). Ditahun yang sama Tan Malaka menjadi duta Komintren wilaya
Asia Tenggara pada Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV di Moskow.
Selanjutnya pengembaraan dan pelarian Tan Malaka dari kejaran polisi rahasia
kaum Kolonial dari satu negara ke negara lainnya. Ia pun sempat bertemu
berbagai tokoh pergerakan di Asia seprti Dr. Sun Yat Sen yang dinilainya
sebagai borjuis kecil dan Manuel Quezon, Presidan Pertama Republik Filipina
yang membela Tan Malaka saat di tangkap Inggris, saat Tan Malaka bersembunyi di
Filipina sebagai wartawan.
Walau menetap dinegeri orang totalitas perjuangan Tan
Malaka pada masalah-masalah pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan
Indonesia. Pada esensinya pemikiran-pemikaran dan perjuangan Tan Malaka
terpusat kepada tujuan bagaimana memerdekaan bangsanya sekaligus merombak
secara total seluruh tatanan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Jauh sebelum
Sukarno menulis Indonesia menggugat pada tahun 1932 yang berisi arti penting
kemerdekaan bagi bangsa Indonesia ataupun Hatta dengan Kearah Indonesia Merdeka
pada 1930, Tan Malaka sudah menulis pamplet berjudul Naar De Republik (Menujuh
Republik Indonesia) sebagai konsepsi menujuh kemerdekaan Indonesia yang terbit
pertama kali di Kowloon Cina, April 1925 semasa pengasinganya.
Pada Juni 1927 Tan Malaka mendirikan Partai Republik
Indonesia (PARI) di Bangkok, Thailand. Dan PARI menolak berkoordinasi dengan
Komintren (Poeze, 1988:356). Bersama Soebakat dan Djamaluddin Tamin
mengumumkan PARI bahwa partai ini independen dari Kominter maupun PKI.
Perjuangan PARI berdasarkan pamflat Near de Republiek Indonesia sebagai gerakan bawah tanah untuk memimpin jalanya
Revolusi Indonesia menggantikan peran PKI. Namun PARI sebagai gerakan kiri di
Indonesia dan sebagai grakan Revolusi tidak bias berkembang di Indonesia
setelah dua tokoh kepercayaan Tan Malaka tertangkap.
Keberadaan PARI yang di bentuk Tan Malaka dan sifat
independen yang di ambil PARI, menjadikan Tan Malaka tidak hanya sebagai musuh
dan ancaman bagi pemerintahan kolonian namun juga menjadi musuh utama PKI
dibawah pimpinan Muso. Selanjutnya sejak tahun 1927 sampai 1932 kegitan
politik Tan Malaka semakin terhambat. Tan Malaka lebih sering berada dalam
pengejaran intel Imprealisme Belanda, Inggris dan Amerika.
Setelah 20 tahun dalam pelarian di luar negeri Tan
Malaka kembali ke Indonesia pada tahun 1942 pada masa Jepang mendaratkan diri
dan berkuasa di Indonesia. Sekembali ke Indonesia Tan Malaka sempat menuliskan
karya pentingnya di balik kehidupan serba kekurangan yang ia alami, yakni
MADILOG (Materialisme Dialektika dan Logika) yang dimulai sejak 15 Juli 1942
sampai 30 Maret 1943. Buku yang mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa
Indonesia cara berfikir ilmiah, dan meninggalkan cara hidup yang dogmatis.
Selama pendudukan Jepang Tan Malaka sering menjalin kontak dengan tokoh pemuda
seperti Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Maruto, Pandu Kartawiguna dan
lain-lain.
Sampai menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, memang
Tan Malaka tidak terlalu ambil bagian secara langsung dalam antusias medan
euforia kemerdekaan dan ini diakuinya sebagai penyesalan terbesar dalam
hidupnya (Fa’al 2005 :135-137). Perjuang Tan Malaka di mulai setelah kedatangan
kembali Belanda dan sekutu yang ingin kembali merongrong kekuasaan di
Indonesia.
Tan Malaka adalah satu dari sedikit anak bangsa yang
konsisten memegang prinsip ideologis yang ia yakini hingga akhir hayatnya.
Setelah kisah hidupnya dibungkam oleh Orde Baru, termasuk karya-karyanya
dilarang beredar, pada pascareformasi nama Tan Malaka bergaung kembali. Tan
Malaka pada masa perjuangan kemerdekaan sering disebut-sebut dari mulut ke
mulut, namun sulit untuk mengetahui persis keberadaannya, hingga relatif orang
hanya dapat mengetahui dari karya-karyanya. Hal itu karena Tan Malaka lebih
banyak menyamar dengan berganti-ganti nama dan berpindah tempat, sebagai
konsekuensi dari gerakannya yang tidak mau kompromi dengan penjajah -padahal
sebagian dari pejuang kemerdekaan melakukan kompromi juga konsekuensi dari
gagasan-gagasan provokatif revolusionernya yang telah ia tuangkan dalam
karya-karyanya yang dibaca secara sembunyi-sembunyi (Tempo, 17 Agustus 2008:
26). Dalam otobiografi pendek yang ia
tulis dalam Dari Penjara ke Penjara terlihat juga bahwa ia betul-betul membumi
dan membaur dengan rakyat, buruh, kelas pekerja, dan mereka yang selama ini
diperjuangkan oleh Tan Malaka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tan
Malaka adalah potret intelektual organik, intelektual yang terlibat langsung
dalam perjuangannya, tidak sekadar berwacana melalui tulisan saja. Ia
betul-betul menyelami kehidupan kaum proletar yang diperjuangkannya, menjadi
bagian darinya dengan menjadi buruh, pekerja keras, tukang ketik, dan lainnya.
Sekilas
MADILOG
Dalam wawancara majalah detik oleh keponakan Tan
Malaka, Zulkifi Kamarudin (Majalah Detik, 2014: 99), mengenai keislaman Tan
Malaka, menyatakan Tan Khatam dan hafal Al-Qur’an karena sejak kecil belajar
mengaji di surau dari cerita Nenek-nenek mereka mengenai sosok Tan Malaka.
Sebagaimana banyak litelatur, kebudayaan Minangkabau sangat kental dengan
nuansa Islami. Hal ini dibuktikan dengan semboyan adat minang yaitu; “adat
basandi syariat, syariat basandi kitabullah” (adat bersendikan syara’
dan syara’ bersendikan kitabullah). Tan Malaka menggambarkan keadaan
keluarganya dengan menulis:
”sumber yang saya peroleh untuk pasal ini (agama
Islam) adalah sumber hidup. Seperti sudah saya lintaskan dahulu, saya lahir
dalam keluarga Islam yang taat. Ketika sejarah Islam di Indonesia bisa
dikatakan masih pagi, diantara keluarga tadi sudah lahir seorang alim ulama,
yang sampai sekarang dianggap keramat. Ibu-Bapak saya keduanya taat, takut pada
Allah, dan menjalankan sabda Nabi. (Tan Malaka, 2010: 381-382).”
Pemikiran Tan Malaka secara konsisten, didasarkan pada
filsafat dan pandangan hidup Madilog yang merupakan landasan dasar dan harus
disadari oleh kaum proletar Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Madilog hadir, berangkat dari keprihatinan Tan Malaka kepada kaum proletarian
yang terlalu tenggelam dengan dunia takhayul dan mistis yang menjadikan mereka
tidak realistik dan tak punya nyali untuk bergerak melawan imperalisme. Kaum
proletarian hanya bergantung, enggan berubah dan terkesan menunggu datangnya
Ratu Adil yang akan membebaskan mereka pada keterpurukan, yang mana cerita itu
belum tentu benar adanya (takhayul). Dalam filsafat pemikirannya, Tan Malaka
menyebut masalah pelik ini sebagai logika mistika. Untuk mengatasi
hal tersebut, Tan Malaka menyodorkan tiga hal sebagai senjata penangkalnya, yakni Materialisme,
Dialektika dan Logika disingkat MADILOG
(Ma) Materialisme, menekankan pada
keterarahan perhatian manusia pada kenyataan, bukan kepada khayalan dan takhayul.
Logikanya sederhana, dari pada kita sibuk mencari penyebab tentang segala
kejadian di alam gaib, lebih baik kita mencari kenyataan bendawi sendiri. Dalam
mengkaji realitas, maka diperlukan ilmu pengetahuan yang berbasis pendekatan
ilmiah. Dengan begitu, paraproletar Indonesia akan berpikiran maju dan dapat
keluar dari keterpurukan. Namun, materialisme akan dapat optimal apabila
disertai oleh dialektika.
(Di) Dialektika, menjelaskan bahwa realitas
tidak dilihat sebagai sejumlah unsur terisolasi yang sekali jadi lalu tak
pernah berubah. Dialektika mengatakan bahwa segala sesuatu bergerak maju
melalui langkah-langkah yang saling bertentangan. Khususnya ia menyebutkan dua
hokum dialektika: hukum penyangkalan dari penyangkalan dan hukum peralihan dari
pertambahan kuantitatif ke perubahan kualitatif dan kesatuan antara yang
bertentangan.
(Log) Logika, oleh Tan Malaka secara eksplisit membandingkan dan
menggantikan logika mistis menjadi logika realitas. Dari madilog, Tan Malaka
menunjukkan betapa lebih mampu Madilog daripada logika gaib dalam menjelaskan
segala kenyataan penting yang kita hadapi. Seperti perkembangan alam raya,
evolusi organisme, sejarah manusia dan lain sebagainya (Suseno, 2000).
Menurut Tan Malaka, seorang pemimpin haruslah seorang
yang cerdas dan mampu memimpin suatu pergerakan revolusioner. Ia dapat
memberikan pertimbangan dan memperkirakan arah perjuangan yang akan berjalan.
Di samping itu, seorang pemimpin haruslah dapat menyelami kemauan rakyat dan
dapat mengubah kemauan masa menjadi perbuatan masa. Namun untuk menggerakkan
suatu masa haruslah memiliki suatu partai revolusioner. Partai inilah yang
nantinya akan mempertemukan orang-orang yang memiliki persamaan pandangan dalam
revolusi. Untuk mencapai kemenangan revolusi, harus memperhatikan dua syarat
berikut : pertama, kondisi objektif, yaitu suatu tingkatan sistemproduksi yang
tertentu dari masyarakat dan taraf tertentu dari kesengsaraan rakyat. Sedangkan
yang kedua adalah kondisi subjektif, yaitu kesediaan rakyat untuk membuat
sebuah partai revolusioner yang berdisiplin dan mengakar dalam masa rakyat
(Rambe, 2003: 201).
Tan Malaka adalah model seorang intelektual organik
dalam istilahnya Gramsci, intelektual yang tidak sekadar piawai
bermain teori, namun juga mampu membumi dan bergerak di akar rumput. Ia tidak
sekadar menuangkan gagasannya dalam buku, pamflet, dan karya tulis lainnya
sebagai media perjuangan, namun ia juga turut bergerak dan berjuang secara
fisik dengan bergerilya, mengagitasi dan memimpin gerakan perlawanan melawan
penjajah.
_________________
Penulis:
Khabib Mulya Ajiwidodo
Aktivis, penikmat buku-buku Tan Malaka, Pimpinan Redaksi Srengenge Online





No comments:
Post a Comment