Belakangan orang bisa
dengan mudahnya mendapat sebutan Ulama, atau menyebut dirinya Ulama. Apalagi,
ketika secara institusi berdiri Majelis Ulama. Entah MUI, MIUMI, atau yang
lain. Namun tidak sedikit yang meski mengkaji agama secara mendalam, namun
tidak menggunakan kata Ulama’, seperti ICMI, yang lebih memilih kata
Cendekiawan ketimbang Ulama’.
Sebagaimana kita tahu, Kata
ulama berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim
adalah isim fa'il dari kata dasar:’ilmu. Jadi ‘aalim
adalah orang yang berilmu dan ‘ulama adalah orang-orang yang punya
ilmu.
Namun demikian, dalam
KBBI definisinya dikerdilkan menjadi orang yang ahli dalam hal atau dalam
pengetahuan agama Islam. Sehingga dalam masyarakat, Ulama itu hanya yang
terlihat berdiri di mimbar memberikan ceramah keagamaan. Mereka yang di kampus,
yang jarang (atau memang tidak mau) memberikan pengajian umum, yang meski
kesehariannya mengkaji agama dan mengajarkannya di kampus, luput dari definisi
Ulama’.
Meskipun banyak sekali
tokoh Islam yang mendefinisikan kata Ulama’ ini dalam berbagai pandangan
masing-masing. Hanya saja, sebagaimana dari kata asalnya, Ulama’ memiliki
dimensi keilmuan. Di negara berbahasa arab, Ilmuwan dan Peneliti itu juga
disebut Ulama’, dikarenakan Ulama’ mencakup pengertian di dalamnya, sebagai
orang-orang yang berilmu.
Meski secara khusus ada
perbedaan, misal yang ahli agama disebutnya khabir atau khubara’, lalu Muhtarif
atau muhtarifun, Fanni atau fanniyyun yang merujuk kepada teknokrat, dan Tabib
untuk sebutan dokter atau ahli pengobatan.
Posisi Ulama’ dalam
Islam sangatlah mulia, bahkan Al Qur’an menyebutkan derajat kemuliaan
orang-orang yang berilmu (Ulama’) beberapa derajat dibandingkan orang beriman.
(QS. Al Mujadalah ayat : 11)
Sementara dalam HR. Abu
Daud dan At Tirmidzi, Ulama kata Rasullulah adalah warasathul anbiya
(pewaris para nabi). Maka disini sangat jelas betapa pentingnya posisi Ulama,
sebagai penerus dakwah sekaligus kehidupan Islam.
Jika kita kaji lebih
jauh, Ulama’ terdahulu, mereka memang orang terpilih yang memiliki kemampuan
diatas rata-rata. Sebut saja Imam Syafi’i dan beberapa Ulama lain yang bahkan
sudah hafal Al Qur’an dibawah usia 10 tahun. Selain kecerdasan tersebut, para
Ulama’ terkenal biasanya memiliki kitab yang menjadi pedoman atau rujukan Umat.
Pada point inilah,
banyak orang lupa bahwa peran Ulama selain menyampaikan sesuatu by pass
(langsung) dari Nabi ke Ummatnya, namun juga melakukan ijtihad dalam
berbagai bidang untuk merespon kondisi zaman yang berkembang. Makanya kemudian
para Ulama membuat kitab-kitab yang mempermudah Umat untuk belajar Islam atau
Ilmu.
Ada yang fokus dalam
kerja Ilmiah mengkompilasi hadits seperti para Imam, mulai dari Imam Bukhori
sampai Imam Ahmad dengan Musnad Ahmadnya, kitab-kitab fiqh, pemikiran,
filsafat, sampai Moral dan Pendidikan seperti Kitab Ta’lim al-Muta’allim
karya Syekh Zarnuji.
Menariknya pula, banyak
Ulama’ terdahulu yang meskipun ahli fiqh, namun juga dikenal sebagai ahli
sastra, seperti al-Adib al-Mukhtar Rukn al-Din al-Farghani. Sementara Ulama’
kesohor yang kitabnya begitu luas di Indonesia salah satunya Imam Al Ghazali
dengan kitab Ihya’ Ulumuddin yang fenomenal. Belum lagi khazanah kitab
tafsir yang begitu banyak jumlahnya.
Selain itu, juga ada
beberapa Ulama’ yang ahli ilmu kedokteran, salah satu yang paling populer
adalah Ibnu Sina. Kitabnya
Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine). Buku
yang terbagi atas 3 jilid ini pernah menjadi satu-satunya rujukan dalam
bidang kedokteran di Eropa selama lebih kurang lima abad.
Selain Ibnu Sina, patut
kiranya kita mengingat sumbangsih pemikiran Ibnu Rusyd, yang sangat berjasa
dalam kemajuan eropa modern. Tiga kitabnya, Al Kulliyat fi at-thib dalam
bidang kedokteran, Bidayat al-Mujtahid dalam bidang hukum Islam, dan Tahafut
at tahafut dalam upayanya menengahi ketegangan antara Abu Hamid dan
Pemikiran Aristoteles menjadi karya fenomenal nan berkelas.
Bahkan, Ibnu Rusyd
disebut sebagai komentator terkemuka dari karya-karya Aristoteles, yang
kemudian dibaca luas oleh sarjana barat, yang turut serta merangsang mereka
untuk kebangkitan Ilmu Pengetahuan di eropa.
Yang tak kalah berkelas
juga adalah karya-karya Ibnu Khaldun, yang disebut peletak dasar ilmu-ilmu
sosial dan ekonomi. Baik melalui karya fenomenal berjudul Muqodimah,
kitab Al-‘ibar sampai tujuh jilid, dan karya lainnya yang menyoroti soal
teologi dan fiqh.
Salah satu Ulama’ yang
juga banyak dirujuk di Indonesia adalah Ibnu Taimiyah. Kecerdasannya dalam
berbagai bidang sangat diakui, selain memahami rijalul hadits, serta wawasan
yang luas tentang kutubus sittah dan Al Musnad, Ibnu Taimiyah
juga pandai dalam ilmu hitung. Meski kemudian konsentrasinya lebih diarahkan
pada hal-hal keagamaan, hingga berbuahlah Majmu Fatawa.
Dari sini semestinya
kita tidak sembarangan menyebut orang Ulama’. Apalagi hanya karena sering
menyampaikan ceramah. Ulama tidak hanya sekedar katalisator (penyampai) semata,
namun mereka juga terlibat tradisi ilmiah, dengan merespon situasi, dan
kemudian menulis kitab untuk memberikan pencerahan.
Kitab tersebut bisa
berupa masalah ibadah, atau masalah pemikiran. Bahkan bisa jadi kitab syair dan
sastra. Peran Ulama’ lebih dari sekedar memobilisasi massa, atau memberikan
doktrin kepada Jamaah, melainkan mengajak mereka berfikir lebih cerdas dengan
menulis kitab-kitab yang merepresentasikan pandangan-pandangannya.
Maka, Ulama yang
sesungguhnya justru bersikap lebih tawadu’, bahkan kadang dipanggil
Ulama pun enggan, karena saking tawadu’nya dan merasa takut jika sebutan
itu membuatnya sombong. Meskipun yang bersangkutan memiliki keilmuan tinggi,
dan telah menelurkan karya-karya berupa kitab atau buku yang membantu Umat
memahami banyak hal dalam kehidupan ini.
Makanya, sebelum
menyebut seseorang itu Ulama’, kita perlu tahu bagaimana latar belakangnya,
gaya hidup, khazanah keilmuan, dan karya-karyanya. Karena Islam sangat
memuliakan Ulama’, bahkan Nabi Muhammad SAW menyebutnya pewaris para Nabi.
Jika kita salah
mengikuti Ulama’, yang ternyata hanya senang dengan simbol-simbol ulama, namun
tidak memiliki kapasitas sebagaimana Ulama’, maka kita tidak akan tambah
cerdas, tidak akan mendapatkan kedamaian dari kedalaman ilmu. Karena Ulama’ itu
selain harus kita hormati figurnya, juga harus kita kaji karya-karyanya, agar
kita tercerahkan. [red.s]

No comments:
Post a Comment