Sejak dahulu aku
takjub dengan orang-orang asia timur yang masih menggunakan sumpit untuk makan.
Tidak hanya mie, namun juga nasi. Bagaimana bisa anak kecil sudah sebegitu
lihainya makan dengan sumpit. Aku beberapa kali mencobanya saat makan pangsit.
Namun tetap belum bisa kalau harus makan nasi dengan sumpit.
Tentu ini lebih
dari sekedar sumpitnya, tapi tradisi yang sudah lama mengakar dan terus
dilestarikan, meskipun sudah ada sendok, garpu, dan pisau yang mungkin lebih
mudah, apalagi jika makan daging.
Daratan asia timur
memang terkenal dalam hal menjaga tradisi. Pegangan atas filosofi hidupnya
kuat. Meskipun digempur oleh arus globalisasi dan industrialisasi. Perihal cara
makan adalah tradisi yang terbilang sederhana, dibandingkan tradisi atau
kebudayaan lain yang lebih luas.
Di Jepang misalkan,
mulai dari busana, tata cara berkenalan dengan orang, menjamu, sampai musik
benar-benar diatur sedemikian rupa. Sering kita melihat tradisi menundukkan
kepala ketika bertemu orang dalam berbagai kesempatan, sebuah tradisi untuk
menghormati orang lain. Bahkan karya musiknya, hampir selalu perpaduan antara
alat musik modern barat dengan tradisional jepang. Sehingga menciptakan ciri
khas tersendiri.
Negara dengan
kultur semacam itu akan susah digempur oleh pengaruh asing, bahkan bisa menjadi
trend baru. Di Indonesia, dikotomi antara keduanya begitu kuat. Karena
menyadari ternyata kita sudah lama meninggalkan budaya sendiri, sampai dibuat
berbagai program yang dilabel “jadul”.
Seminggu sekali
setidaknya guru atau siswa ke sekolah dengan pakaian jadul. Di Jawa timur dan
tengah, busana jadul dilekatkan dengan blangkon, kemben, beskap, jarik, dll.
Menamai jadul itu berarti sama halnya membuat garis antar generasi. Jepang
tidak mungkin menyebut kimono sebagai pakaian jadul. Kimono adalah busana khas
Jepang, sampai kapanpun.
Termasuk ketika
mereka masih makan pakai sumpit. Meski makan sumpit sudah dilakukan sejak
ratusan tahun silam, namun itu bukan sesuatu yang jadul. Tradisi menguatkan dan
membentuk identitasnya sampai kapanpun.
Kita, karena
habis-habisan digempur oleh trend barat, sehingga yang senyatanya milik kita
dianggap jadul. Kita yang digempur trend membuat tradisi itu berubah. Cara
berpakaian, sampai cara berperilaku.
Tapi jangan
khawatir, menurut Radar Panca Dahana, budaya itu bukan produk. Budaya itu
nilai. Melestarikan budaya tidak mesti membuat kita harus menggunakan blangkon,
beskap, dsb. Tapi bagaimana menggali kembali nilai etik dan filosofi hidup
kita.
Karena sebuah
negara, apalagi Indonesia, dibangun oleh itu. []
Blitar, 24 Januari
2017

No comments:
Post a Comment