Ahmad Syafii Maarif
(ASM) merupakan salah satu Intelektual yang produktif di Indonesia. Rekam jejak
pendidikannya terbilang mengagumkan, sekaligus terjal dan berliku. Meski kini
batang usianya sudah diatas 80 tahun, namun setidaknya dua kali dalam seminggu,
tulisannya muncul di rubrik resonansi Republika.
Selain menjadi
kolomnis tetap di koran Republika, ASM juga telah menulis beberapa buku dan
memberikan berbagai kuliah Umum di dalam maupun luar negeri. Buku-buku tersebut
antara lain, Islam dan Masalah Kenegaraan (LP3ES), Dinamika Islam
(Shalahudin Press), Percik-percik Pemikiran Iqbal, sampai Gilad
Atzmon. Beberapa kumpulan tulisannya pun juga pernah ditetbitkan, antara
lain berjudul Menerobos Kemelut dan Peta Bumi Intelektualisme Islam
di Indonesia.
Meskipun begitu,
jalan ASM untuk meraih pendidikan sangatlah berliku. Karena tak memiliki cukup
biaya untuk kuliah, dia pun sempat beberapa kali berhenti untuk menyambung
hidup, sampai akhirnya berhasil melanjutkan kuliah sarjana muda, dan lulus di
usia 29 tahun.
Tekadnya untuk terus
sekolah tidak padam, meskipun dirundung oleh kesulitan ekonomi, apalagi setelah
menikah. Sampai kemudian ia berhasil melanjutkan studi doktoral di IKIP Yogya
dan lulus tahun 1968, saat usianya sudah menginjak angka 33 tahun.
Meski sudah bekerja
menjadi pegawai dan wartawan di Majalah Suara Muhammadiyah, insting ASM untuk
melanjutkan studi pun terus berlanjut. Beberapa kursus singkat pernah
dilakoninya, sampai kemudian berhasil mendapatkan beasiswa MA ke NIU (Northern
Illinonis University), DeKalb, Illinonis, USA dalam bidang sejarah.
Namun kuliahnya
hanya bertahan sampai semester dua karena harus kembali ke Padang menjemput
anak dan istrinya. Kala itu anaknya sedang sakit, dan istrinya tidak sanggup
merawat sendirian. Ada rasa trauma karena meninggalnya anak pertama.
Gagal saat kuliah
di NIU ternyata tak menyurutkan niatnya untuk kuliah lagi. Sampai akhirnya ASM
berhasil memperoleh beasiswa s2 ke Ohio University, dan melanjutkan Ph.D ke
Chicago University dibawah bimbingan Prof. Dr. Fazlur Rahman.
ASM pun kembali ke
Indonesia sekitar tahun 1993, disinilah produktifitas dan kiprahnya sebagai
Intelektual di Indonesia semakin melejit. Selain rajin menulis, mengisi kuliah
umum, dan menghadiri berbagai konferensi, ASM juga aktif di PP Muhammadiyah.
Mulai dari Anggota Bid. Tabligh, Bendahara, Wakil Ketua, sampai Ketua Umum
menggantikan Prof. Dr. Amien Rais.
Gagasannya dalam
berbagai bidang pun mulai diperhitungkan, terutama perihal kebangsaan. Sampai
kemudian ia ditunjuk sebagai DPA (Dewan Pertimbangan Agung) Presiden era B.J
Habibie, Gus Dur, dan Megawati. ASM dinilai tajam ketika mengkritik, namun
demikian, intensitas pergaulannya begitu luas.
Selain sebagai
tokoh Muhammadiyah, ASM juga akrab dengan tokoh lintas ideologi seperti NU.
Kedekatannya dengan Gus Dur dan KH. Hasyim Muzadi menjadi salah satu keuntungan
tersendiri ketika harus menyelesaikan pergolakan di akar rumput antara NU dan
Muhammadiyah pasca dilengserkannya Gus Dur oleh MPR yang dipimpin Amien Rais.
Selain itu ASM juga
dikenal akrab dengan tokoh lintas agama dan menyuarakan kerukunan antar Umat
Beragama. Ia bersahabat dengan tokoh lintas Agama seperti Romo Magnis Suseno,
Romo Beny Setia, tokoh Buddha Sudamek dan sederet tokoh lintas agama lainnya.
Karena kiprah dan
gagasannya itupula yang membuat sutradara Damien Dematra membuat film yang
diadaptasi dari novel “Si anak kampung” yang merupakan kisah kecil Ahmad Syafii
Maarif. ASM pun menjadi segelintir tokoh yang di filmkan kisah hidupnya.
Selain menulis buku
dalam kajian Islam dan Kebangsaan, juga disamping menulis opini ke berbagai
koran di tanah air, ASM juga pernah menulis otobiografi yang berjudul Memoar
Seorang Anak Kampung, yang sebelumnya berjudul Titik Titik kisar di
Perjalananku. Pada buku inilah ASM menceritakan kisah hidupnya sendiri.
Meski sudah lama
pensiun dari struktur kepegawaian, namun gagasan-gagasannya terus mengalir
deras hingga kini. Setidaknya dua opini ia lahirkan setiap minggunya. Kini ASM
banyak menyoroti tentang kondisi Umat Islam yang tak kunjung membaik. Perang
yang terjadi di Timur Tengah, yang telah menelan banyak korban, membuatnya
gelisah tentang nasib Umat Islam dikemudian hari. [red.s]

No comments:
Post a Comment