“50 RENUNGAN” DARI
RUMI
1.Kematianku
adalah perkawinanku dengan keabadian.
2.Ketika kami mati, jangan cari pusara kami di bumi.
Tetapi, temukan di dalam hati para pecinta.
3.Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa
kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu.
4.Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu
bersama-mu.
5.Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika
aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun terkejut: ternyata “Aku”
adalah suara milik-Mu, gema yang terpantul dari “Dinding-KeIllahian”.
6.Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam
dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun intisarinya tetaplah sama.
7.Karena Cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena
Cinta pula, maka ketiadaan nampak sebagai keberadaan.
8.Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi,
Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui
gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada
“Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang
gelisah.
9.Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam
keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa menari di dalam hatiku,
meski tak seorang pun melihat-Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu.
Dan “ Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari seniku.
10.Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung
laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun, kasih-Nya tidaklah berasal
dari berbagai bentuk yang ada di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang
ada di bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai perwujudan dari
kasih-Nya.
11.Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada
wajah sahabatmu tercinta.
12.Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil
terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, aku pun
terhenyak dan mulai menyadari sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu
dari dalam rumahku sendiri.
13.Demi Allah, ketika kau melihat Jatidirimu sebagai Yang
Maha Indah, maka kau pun akan menyembah dirimu sendiri.
14.Di mana saja kau berada, apa pun keadaanmu, cobalah
selalu menjadi seorang pecinta yang senantiasa dimabuk oleh kasih-Nya. Sekali
kau dikuasai oleh kasih-Nya, maka kau akan hidup menjadi seorang pecinta yang
hidup bagaikan dalam pusara. Dan kau akan tetap hidup hingga hari kebangkitan
itu tiba, lantas kau pun akan dibawa ke dalam surga dan hidup kekal selamanya.
Namun, jika kau belum menjadi seorang pecinta, maka pada hari pembalasan
seluruh pahalamu tidak akan dihitung.
15.Pada Hari Kebangkitan, orang-orang akan berjalan
sempoyongan. Di depan-Mu, mereka akan menggigil dengan wajah pucat karena
ketakutan. Maka, aku akan memeluk kasih-Mu dan berkata kepada mereka: “Mintalah
apa pun; mintalah atas namaku.”
16.Ketika aku mati sebagai manusia, maka para malaikat
akan datang dan mengajakku terbang ke langit tertinggi. Dan ketika aku mati
sebagai malaikat, maka siapa yang akan mendatangiku? Kau tak akan pernah dapat
membayangkannya!
17.Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan
perasaan hampa dan ketakutan. Namun, janganlah tergesa melarikan diri dari
kenyataan pahit ini dengan pergi berdoa atau membaca kitab suci. Lepaskan semua
tindakan mekanis yang berasal ketaksadaran diri. Biarkan keindahan Sang Kekasih
menjelma dalam setiap tindakan kita. Ada beratus jalan untuk berlutut dan
bersujud kepada-Nya.
18.“Mintalah sesuatu kepada-Ku,” begitu Kau berkata suatu
ketika. Aku tertawa dan berkata: “Aku telah cukup bersama-Mu. Tanpa
kehadiran-Mu, seluruh dunia ini hanyalah sebatang kayu yang mengapung dan
terombang-ambing di samudera-Mu.”
19.Tak ada pilihan lain bagi jiwa, selain untuk
mengasihi. Namun, pertama kali jiwa harus merangkak dan merayap di antara kaki
para pecinta. Hanya para pecinta yang dapat lepas dari perangkap dunia dan
akhirat. Hanya hati yang dipenuhi dengan cinta yang dapat menjangkau langit
tertinggi. Bunga mawar kemuliaan hanya dapat bersemi di dalam hati para
pecinta.
20.Ketika sedih, aku bersinar bagaikan bintang pagi.
Ketika patah hati, hakekatku justru tersingkap sendiri. Ketika aku diam dan
tenang seperti bumi, tangisku bagaikan guntur yang menggigilkan surga di langit
tertinggi.
21.Hati manusia selalu terbuka dan dapat menerima
segalanya: semua yang baik dan buruk menjadi bagian dari Sufi.
22.Aku kehilangan duniaku, ketenaranku, dan pikiranku.
Ketika matahari terbit, maka semua bayang-bayang lenyap. Aku berlari mendahului
bayang-bayang tubuhku yang lenyap saat aku berlari. Namun, cahaya matahari itu
berlari mendahuluiku dan memburuku, hingga aku pun terjatuh dan bersujud pasrah
ditelan samudera kilau-Nya yang mempesona.
23.Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada
matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna.
24.Badan ini hanyalah suatu cermin surga. Energinya
membuat para malaikat cemburu. Kemurniannya membuat malaikat Seraphim terkejut.
Dan Iblis yang berdiam di urat-urat syarafmu pun menggigil takut.
25.Kau lebih mahal dibanding surga dan bumi. Apa yang
bisa kukatakan lagi? Kau tak mengetahui bahwa selama ini segala yang berharga
telah menjadi milikmu. Janganlah menjual dirimu dengan harga murah,
sesungguhnya dirimu sangatlah mahal di mata Tuhan.
26.Cintaku pada-Nya adalah hakikat jiwaku. Hidupku adalah
gelora yang selalu merindukan-Nya. Aku hidup seperti seorang gipsi pengembara,
aku tak pernah menetap di tempat yang sama, namun setiap malam aku selalu
bernyanyi dan menari ditemani bintang-bintang di bawah langit yang sama.
27.Meski aku terbakar habis, namun aku tetap tertawa,
karena abuku masih tetap hidup! Aku telah mati ribuan kali: namun abuku selalu
menari dan lahir kembali dengan ribuan wajah baru.
28.Di gurun pasir tanpa batas, aku kehilangan jiwaku, dan
menemukan bunga mawar ini.
29.Aku telah melihat wajah mulia Sang Raja. Dia adalah
mata dan matahari surga. Dia adalah teman seperjalanan dan penyembuh semua
mahluk. Dia adalah jiwa dan alam semesta yang melahirkan jiwa-jiwa. Dia
menganugerahkan kebijaksanaan pada kebijaksanaan, kemurnian pada kemurnian. Dia
adalah tikar sembahyang bagi jiwa orang-orang suci. Setiap atom di tubuhku
berlompatan sambil menangis dan berkata: “Terpujilah Tuhan.”
30.Apapun juga yang mereka katakan atau pikirkan, aku
tetap ada di dalam Kau, karena aku adalah Kau. Tak seorang pun dapat memahami
hal ini, sampai ia mampu melampaui pikirannya.
31.Jika kau dapat bertemu dengan Jatidirimu meski hanya
sekali, maka rahasia dari segala rahasia akan terbuka bagimu. Wajah dari Yang
Maha Tersembunyi, yang ada di luar alam semesta ini, akan nampak pada cermin
persepsimu.
32.Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap.
Setiap perkataan yang manis akan memudar. Namun, janganlah kau berputus asa,
karena mereka semua datang dari sumber yang sama, dari Keabadian. Masukilah
Keabadian itu, maka kau akan melihat segala sesuatu tumbuh dan berkembang,
memberi hidup baru dan kegembiraan baru bagimu.
33.Ayat-ayat Tuhan itu tersimpan di hati langit yang
paling rahasia. Suatu hari, seperti hujan, ayat-ayat Tuhan itu akan jatuh dan
menyebar, sehingga misteri Keilahian akan tumbuh menghijau di seluruh dunia.
34.Jika kau berputar mengelilingi matahari, maka kau pun
akan menjadi matahari. Jika kau berputar mengelilingi seorang Guru, maka kau
pun akan bersatu dengan-Nya. Kau akan menjadi sebutir permata, jika kau menari
mengelilingi-Ku. Dan kau akan berkelip seperti emas, jika kau menari
mengelilingi-Nya.
35.Kau hanya memerlukan aroma anggur, karena makrifat
akan menyala dengan sendirinya dari kesunyian hatimu setelah mencium aroma
anggur itu, seperti juga nyala api akan tersilap dan berkobar dari aroma
anggur! Bayangkan jika kau adalah anggur itu sendiri.
36.Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang
telah patah hati terhadap dunia.
37.Kekasih, beri aku kesempatan untuk selalu mengetahui
bagaimana cara menyambut-Mu, dan sulutkanlah obor di tangan-Mu agar membakar
habis rumah ke-ego-an di dalam diriku.
38.Sembunyikan rahasia-Ku di dalam harta karun jiwamu.
Sembunyikan perasaan ekstase itu di dalam dirimu. Jika kau menemukan Aku, maka
sembunyikan Aku di dalam hatimu. Sadarilah kemabukan ini sebagai Kebenaran
Mutlak!
39.Ingatlah bahwa Nabi Muhammad pernah berkata: “Satu
penglihatan tentang-Nya adalah suatu berkah yang tak terhingga.” Setiap daun
dari suatu pohon membawa suatu firman dari dunia yang tak terlihat. Lihatlah,
tiap-tiap daun yang jatuh ke tanah sebagai suatu berkah dari-Nya. Segala
sesuatu di alam ini senantiasa menari dalam harmoni, bernyanyi tanpa lidah, dan
mendengar tanpa telinga, ya, semua itu adalah berkah yang tak terhingga
dari-Nya.
40.Isi aku dengan anggur dari sunyi-Mu, biarkan anggur
itu merendam pori-poriku, hingga Keindahan dari Yang Maha Agung akan terungkap
bagiku. Inilah arti berkah bagiku!
41.Jika kau mendefinisikan dan membatasi “Aku” dengan
berbagai konsepmu, maka kau akan kelaparan dengan dirimu sendiri. Lalu “Aku”
pun akan jatuh ke dalam suatu kotak yang terbuat dari kata-kata, dan kotak itu
adalah peti mayatmu sendiri.
42.Jatidiri kita adalah Cahaya. Cinta-Ilahi adalah
Matahari-Keagungan. Sinar-Nya adalah firman. Dan mahluk adalah
bayang-bayang-Nya.
43.Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar
dari dunia. Tiadakan dirimu, maka Jatidirimu akan terungkap tanpa kata-kata.
44.Ketika pikiran dilampaui, maka keindahan cinta pun
datang menghampiri, berjalan dengan anggun, serta membawa secangkir anggur di
tangannya. Ketika cinta dilampaui, maka Yang Maha Esa pun datang menghampiri –
Ia adalah Zat yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata dan hanya bisa disebut
sebagai “Itu”.
45.Setiap orang yang tinggal jauh dari sumber-Nya, dari
Jatidirinya, maka ia akan selalu rindu untuk kembali ke masa ketika ia masih
dipersatukan dengan-Nya.
46.Surga dibuat dari asap hati yang terbakar habis. Dan
orang yang diberkahi oleh Tuhan adalah orang yang hatinya telah terbakar habis.
47.Awan-awan berada dalam keheningan meski penuh dengan
berjuta kilat. Cinta akan memberi kelahiran baru bagi para filsuf berkepala
batu. Jiwaku adalah ombak di dalam samudera kemuliaan-Mu. Dan di dalam
keheningan: alam semesta beserta segala isinya tenggelam di dasar samudera
kemuliaan-Mu.
48.Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu
saja ada tamu baru yang datang: kegembiraan, kesedihan, ataupun keburukan; lalu
kesadaran sesaat datang sebagai suatu pengunjung yang tak diduga. Sambut dan
hibur mereka semua, sekalipun mereka semua hanya membawa dukacita. Sambut dan
hibur mereka semua, sekalipun mereka semua dengan kasar menyapu dan
mengosongkan isi rumahmu. Perlakukan setiap tamu dengan hormat, sebab mereka
semua mungkin adalah para utusan Tuhan yang akan mengisi rumahmu dengan
beberapa kesenangan baru. Jika kau bertemu dengan pikiran yang gelap, atau
kedengkian, atau beberapa prasangka yang memalukan, maka tertawalah bersama
mereka dan undanglah mereka masuk ke dalam rumahmu. Berterimakasihlah untuk
setiap tamu yang datang ke rumahmu, sebab mereka telah dikirim oleh-Nya sebagai
pemandumu.
49.Saat kau datang ke dunia ini, suatu tangga telah
ditempatkan di depanmu, dan tangga itu akan mengantarmu kepada-Nya. Dari bumi
ini, kau pun naik menjadi tumbuhan. Dari tumbuhan kau pun naik menjadi hewan.
Setelah itu kau pun naik menjadi manusia – mahluk yang mewarisi pengetahuan
melalui akal dan iman. Lihatlah, tubuhmu merupakan turunan dari debu, tetapi
bagaimana bisa tubuhmu menjadi begitu sempurna? Lalu, mengapa kau takut dengan
kematian? Ketika kau berhasil melampaui bentuk manusia ini, maka tak diragukan
lagi kau akan menjadi malaikat dan membumbung melampaui lapisan-lapisan langit
tertinggi. Tetapi, janganlah berhenti di sana, bahkan badan surgawimu itu akan
tetap tumbuh menjadi tua, lampaui lagi surga itu dan melompatlah ke dalam
“Samudera Kesadaran Yang Maha Luas”. Biarkan dirimu – yang bagaikan setetes air
itu – menjelma menjadi seratus samudera. Tetapi, jangan berpikir bahwa hanya
setetes air itulah yang telah menjelma menjadi samudera, sebab samudera juga
telah menjelma menjadi setetes air.
50.Sssttt! Diamlah! Dengarkan suara dalam dirimu.
Ingatlah firman pertama-Nya: “Kita melampaui setiap kata.”
__________________________
Rumi
– nama lengkapnya, Maulana Jalaluddin
Rumi Muhammad bin Hasin al-Khattabi al-Bakhri – lahir di Balkh (Afghanistan
sekarang) pada tanggal 30 September 1207M. Para Orientalis di Barat mengakui
Rumi sebagai penyair yang terbesar dari semua penyair mistik yang pernah ada
dalam peradaban Islam.
_______________________________
Pencari Data:
Khabib M. Ajiwidodo
(Pimred Srengenge Online)

No comments:
Post a Comment