NAGARAKRETAGAMA
Perpustakaan Nasional
RI, pada tanggal 21 Pebruari 2008 mendapatkan penghargaan dari UNESCO tentang
koleksi Nagara Kretagama atau deskripsi suatu negara pada tahun 1365 masehi,
yang terdaftar dalam The Memory of the World Regional Register for Asia/Pacific.
_____________________________________________
Kakawin Nagarakretagama atau juga disebut dengan nama kakawin Desawarnana atau
juga disebut dengan nama kakawin Desawarnana bisa dikatakan merupakan Kakawin
Jawa Kuna yang paling termasyhur. Kakawin ini adalah yang paling banyak
diteliti pula. Kakawin yang ditulis tahun 1365 ini, pertama kali ditemukan
kembali pada tahun 1894 oleh J.LA Brandes, seorang ilmuwan Belanda yang
mengiringi ekspedisi knil di Lombok. Ia menyelamatkan isi perpustakaan Raja
Lombok di Cakranagara sebelum istana sang raja akan dibakar oleh tentara KNIL.
Kakawin ini menguraikan
keadaan di Kraton Majapahit dalam masa pemerintahan prabu Hayam Wuruk, raja
agung di tanah Jawa dan juga Nusantara. Beliau bertakhta dari tahun 1350
sampai 1389 Masehi, pada masa puncak kerajaan Majapahit, kerajaan terbesar yang
pernah ada di Nusantara.
Negarakertagama
diperkenalkan dalam bahasa Inggris lewat Java in the 14th century, antara
1960-1963, oleh Pigeaud. Dipopulerkan lewat kalangwan, juga dalam bahasa
Inggris, oleh Zoetmulder, pada 1974, sebagai salah satu naskah sastra Jawa Kuno
yang dikumpulkan disana. dan baru pada 1979 untuk pertama kalinyaNagarakertagama
bisa dibaca dalam bahasa Indonesia lewat terjemahan Slamet Mulyana.
Naskah Nagara
Kretagama ditemukan sebanyak 5 (lima) naskah. Pada 7 Juli 1978 di kota
Antapura, Kabupaten Lombok, pulau Bali ditemukan 1 (satu) naskah dengan judul
Desawarnana, tersimpan di Geria Pidada, Karang Asem. Pada tahun 1874 di
Puri Cakranegara, pulau Lombok di temukan 1 (satu) naskah dengan judul Nagara
Kretagama. Selanjutnya, tidak diketahui angka tahun penemuannya, di Geria
Pidada, Klungkung ditemukan turunan rontal Nagara Kretagama 1 (satu) naskah dan
di Geria Carik Sideman ditemukan 2 (dua) naskah turunan Nagara Kretagama juga.
Nagara Kretagama berisi uraian tentang hubungan keluarga raja, para pembesar
negara, jalannya pemerintahan, adat istiadat, candi makam para leluhur. Dan
desa-desa perdikan, keadaan ibu kota, keadaan desa-desa sepanjang jalan keliling
Sang Prabu pada 1359 masehi.
Peran Nagarakretagama
sebagai sumber sejarah kuno Indonesia relatif besar meski ada yang berpendapat
Nagarakretagama dipengaruhi unsur subyektif dalam rangka menyenangkan penguasa
saat itu. Nagarakretagama memiliki nama lain, yakni Desawarnana atau Uraian
tentang Desa-desa, seperti tercantum dalam pupuh 94. Ini karena Raja Hayam
Wuruk sering turun ke bawah untuk menghormati nenek moyangnya dan
masyarakatnya.
Nagarakretagama
merupakan sebuah "karya jurnalistik" terbaik, sementara Mpu Prapanca
dikatakan "wartawan" tersohor dari Kerajaan Majapahit. Namun,
banyak hal yang masih terabaikan hingga kini, misalnya penelitian terhadap
candi-candi dan desa-desa yang disebutkan dalam kitab itu. Mpu Prapanca sendiri
dipandang sebagai pelopor arkeologi Indonesia dan pendahulu historic
archaeology (arkeologi sejarah). Ini karena Prapanca membuat semacam
inventarisasi dan deskripsi mengenai berbagai jenis peninggalan purbakala yang
ada pada zamannya. Prapanca telah melakukan field survey (survei lapangan),
suatu hal yang menguntungkan dunia ilmu pengetahuan
Menurut Budya
Pradipta dalam makalah ”Bedah Naskah Nagarakretagama yang diselenggarakan
Perpustakaan Nasional RI pada 2005, wilayah Majapahit dikelompokkan menjadi
lima golongan, yaitu
1.Jawa meliputi
Nagara Majapahit, Jiwana, Singasari, Wengker, Lasem, Daha, Pajang, Matahun,
Paguhan, Wirabhumi, Mataram, Pawwanawwan, dan Kebalan.
2.Digantara artinya
wilayah lain yaitu daerah yang takluk kepada raja Rajasanagara selain Jawa.
Daerah tersebut adalah Pahang, Melayu, Gurun, dan bakulapura.
3.Nusantara adalah
pulau-pulau lain, yang termasuk Nusantara adalah Daerah melayu, daerah Tanjung
Nagara, dan daerah Semenanjung Malaya. Desantara adalah segala penjuru, seluruh
angkasa, daerah lain, dan negara lain,
4.Desantara adalah
Syangka, Ayodyapura, Dharmanagari, marutama, Rajapura, Anghanagari, Campa,
Kamboja.
5.Dwipantara adalah
kepulauan lain, yang termasuk dwipantara dan mitra adalah Yawana, Cina,
Karnataka, dan Goda.
Di balik kontroversi
ini ada hal menarik: Sunda dan Madura tidaklah disebut sebagai wilayah
kerajaan, padahal teks ini menyebut banyak sekali daerah dari ujung utara pulau
Sumatra, Brunei sampai Papua (dalam teks disebut Wwanin = Onin).
Penulisnya mengakui
Nagarakretagama bukan buku pertama yang ditulisnya. Sebelumnya Prapanca telah
menulis Parwasagara, Bhismasaranantya, Sugataparwa, dan dua kitab lagi yang
belum selesai, yaitu Saba Abda dan Lambang. Namun semua ini sampai sekarang
belum ditemukan atau memang sudah hancur.
Nagarakretagama
artinya adalah "Negara dengan Tradisi (Agama) yang suci. Tetapi
pengarangnya juga menyebutnya Deśawarṇana, yang berarti "Penulisan tentang
Daerah-Daerah". Nagarakretagama digubah oleh
mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi (tahun 1287 Saka di desa Kamalasana di
lereng Gunung. Sewaktu menulis Nagarakretagama, Prapañca masih belum bergelar
mpu karena masih seorang calon pujangga. Ayahnya bernama mpu Nadendra dan
memegang jabatan: Dharmâdhyaksa ring Kasogatan, atau Ketua dalam urusan agama
Budha.
Nagarakrtagama
terdiri dari 98 pupuh. Naskah ini dimulai dengan pemujaan terhadap raja
Wilwatikta yakni raja Majapahit dijaman raja Hayam Wuruk yang disebutkan
sebagai Siwa-Budha yaitu Rajasanagara. Tujuh pupuh berikutnya berisi tentang
raja dan keluarganya, sembilan pupuh kemudian tentang istana dan kota
Majapahit. Dari sinilah sejarawan dan arkeolog merekonstruksi sejarah
Majapahit. Bagian paling panjang merupakan catatan perjalanan Hayam Wuruk ke
Lumajang (23 pupuh) yang dilakukan pada bulan Agustus sampai September 1359.
Sepuluh pupuh diantaranya
menceritakan silsilah singkat raja-raja Singasari dan Majapahit (wangsa
Girindra). Maklum Singasari dan Majapahit merupakan dua kerajaan yang tidak
dapat dipisahkan. Bagian berikutnya menceritakan perburuan raja (10 pupuh),
kisah Gadjah Mada (23 pupuh), dan upacara sraddha bagi ibunda raja (9 pupuh).
Dan tujuh pupuh terakhir menceritakan diri Prapanca sendiri.
Teks ini semula
dikira hanya terwariskan dalam sebuah naskah tunggal yang diselamatkan oleh
J.LA Brandes, seorang ahli Sastra Jawa Belanda, yang ikut menyerbu Istana Raja
Lombok pada tahun 1894. Ketika penyerbuan ini dilaksanakan, para tentara KNIL
membakar istana dan Brandes menyelamatkan isi perpustakaan raja yang berisikan
ratusan naskah lontar. Salah satunya adalah lontar Nagakretagama ini. Semua
naskah dari Lombok ini dikenal dengan nama lontar-lontar Koleksi Lombok yang
sangat termasyhur. Koleksi Lombok disimpan di perpustakaan Universitas Laiden
Belanda.
Naskah
Nagarakretagama disimpan di Leiden dan diberi nomor kode L Or 5.023. Lalu
dengan kunjungan Ratu Juliana, Belanda ke Indonesia pada tahun 1973, naskah ini
diserahkan kepada Republik Indonesia. Konon naskah ini langsung disimpan
oleh Ibu Tien Soeharto di rumahnya, namun ini tidak benar. Naskah disimpan di
Perpustakaan Nasional RI dan diberi Kode NB 9.
PENGARANGNYA
Mpu Prapañca adalah
seorang pujangga sastra Jawa yang hidup pada abad ke-14 pada zaman Majapahit
dan kemungkinan selain bujangga juga merupakan mpu yang paling ternama. Namanya
dikenal oleh semua orang di Indonesia. Hal ini disebabkan karena Prapañca
merupakan penulis Kakawin Nagarakretagama yang termasyhur tersebut.
Diperlukan waktu 614
tahun bagi turunan orang-orang Majapahit, untuk tidak hanya mendapat gambaran
tentang kehidupan di dalam istana, dimana biasanya para pujangga bercokol di
menara gadingnya, melainkan sebuah desawarnana(deskripsi mengenai desa-desa).
Prapanca tidak mendapatkan kebenaran itu dengan gratis, ia harus memisahkan
diri dari rombongan Hayam Wuruk, dalam perjalanan keliling tahun 1359, untuk
melihat kenyataan lain, yang tidak semua penulis masa itu berani melakukan,
apalagi menuliskannya.
Nagarakertagama,
satu-satunya sumber tiada tara tentang keberadaan Majapahit, hanya bisa
dilahirkan oleh sebuah visi yang berani melawan kemapanan, bukan hanya dalam
penulisan sastra, tapi juga kemapanan politik. Dalam analisisnya Slamet
Mulyana mengungkapkan, meski naskah itu merupakan sebuah pujasastra kepada Dyah
Hayam Wuruk Sri Rajasanagara, namun paham politik Prapanca sebenarnya tidak
sejajar dengan Gajah Mada, yang telah menjadi pedoman semenjak pemerintahan
Tribuwana Tunggadewi.
Penciptaan karya
sastra ini sebagai tanda bakti kepada Prabu Hayam Wuruk walaupun dalam menulis
kitab Nagarakretagama Empu Prapanca sudah tidak tinggal lagi didalam keraton
Majapahit.Empu Prapanca tidak lagi menjabat sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan
(Pembesar urusan agama Buddha) tetapi hidup di desa Kamalasana di lereng gunung
sebagai pertapa. Empu Prapanca meninggalkan keraton Majapahit karena mendapat
hinaan berupa celaan terhadap sikap Empu Prapanca oleh Sri Baginda yang
menyebabkan kedudukannya tergeser sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan.
Prabu Hayam Wuruk
percaya kepada fitnah seorang bangsawan terhadap dirinya. Namun demikian empu
Prapanca sama sekali tidak menaruh dendam terhadap sang Prabu bahkan memuja
keagungan Prabu Hayam Wuruk. Konon ketika Raja Lasem berkuasa di Lombok naskah
itu dibawa dari Bali ke Lombok. Atas dasar tersebut diatas dapat disimpulkan
bahwa Emu Prapanca setelah meninggalkan Majapahit menetap di desa Karangasem
Bali.
Desa kamalasana
tempat Empu Prapanca bertapa adalah nama sansekerta dari nama asli Karangasem.
Pada pertengahan tahun 1978 di desa Karangasem Bali ditemukan naskah
Dcsawarnnana yaitu karya sastra karangan Empu Prapanca yang sekarang disimpan
di Griya Pidada Karangasem Bali.
Tiga naskah lagi yang
menyebutkan Kitab Nagarakretagama ditemukan di Griya Pidada Kelungkung, dan
Griya Carik Sidemen. Naskah ini ini sama dengan Kitab Nagarakretagama yang
ditemukan di Puri Cakranegara Lombok. Decawarnnana yang menguraikan tentang
desa desa yang dikunjunginya dalam perjalanan mengiringi Prabu Hayam Wuruk kemudian
Saka Abda, Lambang, Parwa Sagara, Bhismasaranantya dan Sagataparwa.
Dari pupuh 17/8
diketahui bahwa Empu Prapanca adalah keturunan seorang Dharmadyaksa (Pemimpin
kegamaan) pada jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Empu Prapanca menggantikan
kedudukan ayahnya sebagai Dharmadyaksa (pemimpin agama Buddha) tahun 1358
sampai tahun 1361 masehi. Sejak kecil Empu Prapanca suka menghadap Raja dengan
maksud agar Raja mengijinkannya untuk mengikuti perjalanan beliau kemana saja
karena keinginannya untuk merangkai sejarah wilayah Negara dalam kekawin.
Nama Prapanca adalah
nama samaran. Prapanca terdiri dari unsur Pra dan Panca yang artinya pra lima
yaitu Prapanca, Pracacab, Prapongpong, Pracacad dan pracongcong yaitu
cacad badaniah pengarangnya yaitu jika tertawa terbahak bahak, pipinya sembab,
matanya mengeluyu seperti orang ngantuk, cakapnya agak ganjil alias lucu.Nama
prapañca kemungkinan merupakan nama pena dan artinya adalah "bingung.
Nama aslinya Rangkwi
Padelengan Dang Acarya Nadendra yang menjabat sebagai Dharmadyaksa Kasogatan
pada pemerintahan Prabu Hayam wuruk seperti tercantum dalam Piagam Trawulan dan
Piagam sekar. Penggunaan nama samaran Prapanca yang berarti kesedihan
dipakai karena pada waktu menulis Nagarakretagama pengarangnya hidupnya sedang
diliputi oleh kesedihan karena kehilangan kedudukan sebagai Dharmmadyaksa
Kasogatan dan pergi meninggalkan Majapahit untuk hidup di desa dalam kesepian.
Ia takut dikenal orang karena ciri-cirinya sehingga sehingga menggunakan nama
samaran.
Kitab Nagarakretagama
yang ditulisnya pada tahun saka 1287 (September-Oktober 1365) menguraikan
tentang perjalanan keliling Prabu hayam Wuruk ke lumajang pada tahun saka 1281
atau 1359 Masehi dimana Empu Prapanca ikut serta dalam rombongan tersebut
sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan.
ISI
KAKAWIN NAGARAKRETAGAMA
PUPUH
I
1.Om ! Sembah pujiku
orang hina ke bawah telapak kaki Pelindung jagat Siwa-Buda Janma-Batara
senantiasa tenang tenggelam dalam Samadi Sang Sri Prawatanata, pelindung para
miskin, raja adiraja dunia Dewa-Batara, lebih khayal dari yang khayal, tapi
tampak di atas tanah.
2.Merata serta
meresapi segala mahluk, nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa
bagi Kapila, hartawan bagai Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di
dalam cinta birahi, Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin
dunia.
3.Begitulah pujian
pujangga penggubah sejarah raja, Kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata
Milwatikta yang sedang memegang tampuk negara, bagai titisan Dewa-Batara beliau
menyapu duka rakyat semua, tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh
Nusantara.
4.Tahun Saka masa
memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati, selama dalam kandungan di
Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran, gempa bumi, kepul asap, hujan abu,
guruh halilintar menyambar-nyambar, Gunung Kampud gemuruh membunuh durjana,
penjahat musnah dari negara.
5.Itulah tanda bahwa
Batara Girinata menjelma bagai raja besar, terbukti, selama bertahta, seluruh
tanah Jawa tunduk menadah p'rintah, wipra, satria, waisya, sudra, keempat kasta
sempurna dalam pengabdian, durjana berhenti berbuat jahat, takut akan
keberanian Sri Nata.
Pupuh II
1.Sang Sri Rajapatni
yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda, seperti titisan Parama Bagawati
memayungi jagat raya, selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda,
tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budaloka.
2.Ketika Sri
Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung, kembali gembira bersembah bakti
semenjak Baginda mendaki tahta, girang ibunda Tribuwana Wijayatunggadewi
mengemban tahta, bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.
Pupuh
III
1.Beliau bersembah
bakti kepada ibunda Sri Rajapatni, setia mengikuti ajaran Buda, menyekar yang
telah mangkat, ayahanda Baginda Raja yalah Sri Kertawardana-raja, keduanya
teguh beriman Buda demi perdamaian praja.
2.Ayahnya Sri
Baginda-raja bersemayam di Singasari, bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan
bersama, teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara, mahir
mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.
Pupuh IV
1.Puteri Rajadewi
Maharajasa, ternama rupawan, bertahta di Daha, cantik tak bertara, bersandar
nam guna, adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana, Rani Daha dan Rani
Jiwana bagai bidadari kembar.
2.Laki sang rani Sri
Wijayarajasa dari negeri Wengker, rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai
sarjana, setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama, sangat mashurlah
nama beliau di seluruh tanah Jawa.
Pupuh V
1.Adinda Baginda raja
di Wilwatikta, puteri jelita bersemayam di Lasem, puteri jelita Daha, cantik
ternama, Indudewi puteri Wijayarajasa.
2.Dan lagi puteri
bungsu Kertawardana, bertahta di Pajang, cantik tidak bertara, puteri Sri
Narapati Jiwana yang mashur, terkenal sebagai adinda Sri Baginda.
Pupuh
VI
1.Telah dinobatkan
sebagai raja tepat menurut rencana, laki tangkas Rani Lasem bagai raja daerah
Matahun, bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya, Raja dan
Rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
2.Sri Singawardana,
rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira, bergelar raja Paguhan, beliaulah suami
Rani Pajang, mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida, bakti kepada
raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
3.Bhre Lasem
menurunkan puteri jelita Nagarawardani, bersemayam sebagai permaisuri pangeran
Wirabumi, Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana, bagaikan
titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
4.Puteri bungsu Rani
Pajang mem'rintah daerah Pawanuhan, berjuluk Surawardani masih muda indah
laksana gambar, para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara, dan
Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.
Pupuh
VII
1.Melambung kidung
merdu pujian sang Prabu, beliau membunuh musuh-musuh, bagai matahari menghembus
kabut, menghimpun negara di dalam kuasa, girang janma utama bagai bunga
tunjung, musnah durjana bagai kumuda, dari semua desa di wilayah negara pajak
mengalir bagai air.
2.Raja menghapus duka
si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi, menghukum penjahat bagai Dewa Yana,
menimbun harta bagaikan Waruna, para telik masuk menembus segala tempat laksana
Hyang Batara Bayu, menjaga Pura sebagai Dewi Pertiwi, rupanya bagus seperti
bulan.
3.Seolah-olah Sang
Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan Pura, semua para puteri dan istri
sibiran dahi Sri Ratih, namun Sang Permaisuri keturunan Wijayarajasa tetap
paling cantik, paling jelita bagaikan susumna, memang pantas jadi imbangan
Baginda.
4.Berputeralah beliau
puteri mahkota Kusumawardhani, sangat cantik, sangat rupawan jelita mata,
lengkung lampai, bersemayam di Kabalan, sang menantu Sri Wikramawardhana
memegang perdata seluruh negara, sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan,
menggirangkan pandang.
Pupuh
VIII
1.Tersebut keajaiban
kota : tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari Pura, pintu Barat bernama
Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit, pohon brahmastana
berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam, di situlah tempat
tunggu para tanda terus menerus meronda, jaga paseban.
2.Di sebelah Utara
bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir, di sebelah Timur :
panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat, di bagian
Utara, di Selatan pekan, rumah berjejal jauh memanjang, sangat indah, di
Selatan jalan perempat : balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.
3.Balai agung
Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan yang meluas
ke empat arah; bagian Utara paseban pujangga dan menteri, bagian Timur paseban
pendeta Siwa-Buda, yang bertugas membahas upacara pada masa grehana bulan
Palguna demi keselamatan seluruh dunia.
4.Di sebelah Timur
pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil Siwa, di sebelah tempat tinggal
wipra utama, tinggi bertingkat, menghadap panggung korban, bertegak di halaman
sebelah Barat ; di Utara tempat Buda bersusun tiga, puncaknya penuh berukir,
berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
5.Di dalam, sebelah
Selatan Manguntur tersekat pintu, itulah paseban, rumah bagus berjajar mengapit
jalan ke Barat, di sela tanjung berbunga lebat, agak jauh di sebelah Barat Daya
: panggung tempat berkeliaran para perwira, tepat di tengah-tengah halaman
bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
6.Di dalam, di
Selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar Pura yang kedua, dibuat
bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri, semua balai
bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela, para prajurit
silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.
Pupuh
IX
1.Inilah para
penghadap : pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang, Nyu Gading
Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi tanpa upama, Waisangka kapanewon Sinelir,
para perwira Jayengprang Jayagung dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan
dan banyak lagi.
2.Begini keindahan
lapang watangan, luas bagaikan tak berbatas, menteri, bangsawan, pembantu raja
di Jawa, di deret paling muka, Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di
deret yang kedua, di sebelah Utara pintu istana, di Selatan satria dan pujangga.
3.Di bagian Barat,
beberapa balai memanjang sampai mercudesa, penuh sesak pegawai dan pembantu
serta para perwira penjaga ; di bagian Selatan agak jauh : beberapa ruang,
mandapa dan balai tempat tinggal abdi Sri Narapati di Paguhan, bertugas
menghadap.
4.Masuk pintu ke dua,
terbentang halaman istana berseri-seri, rata dan luas, dengan rumah indah
berisi kursi-kursi berhias ; di sebelah Timur menjulang rumah tinggi berhias
lambang kerajaan, itulah balai tempat terima tatamu Sri Nata di Wilwatikta.
Pupuh
X
1.Inilah pembesar
yang sering menghadap di balai Witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan
dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta : mapatih, demung, kanuruhan, rangga,
Tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
2.Semua patih, demung
negara bawahan dan pengalasan, semua pembesar daerah yang berhati tetap dan
teguh, jika datang berkumpul di kepatihan seluruh negara., lima menteri utama
yang mengawal urusan negara.
3.Satria, pendeta,
pujangga, para wipra, jika menghadap berdiri di bawah lindungan asoka di sisi
witana, begitu juga dua dharmadyaksa dan tujuh pembantunya, bergelar arya,
tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.
Pupuh
XI
1.Itulah penghadap
balai witana, tempat takhta yang terhias serba bergas, pantangan masuk ke dalam
Istana Timur, agak jauh dari pintu pertama, ke Istana Selatan tempat
Singawardana, permaisuri, putra dan putrinya, ke Istana Utara tempat
Kertawardana ; ketiganya bagai kahyangan.
2.Semua rumah
bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni, kakinya dari batumerah
pating berunjul, bergambar aneka lukisan, genting atapnya bersemarak serba
meresap pandang menarik perhatian, bunga tanjung, kesara, cempaka dan
lain-lainnya terpencar di halaman.
Pupuh
XII
1.Teratur rapi semua
perumahan sepanjang tepi benteng, Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa
Hyang Brahmaraja, Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka, Barat
tempat Arya, menteri dan sanak kadang adiraja.
2.Di Timur tersekat
lapangan, menjulang istana ajaib, Raja Wengker dan Rani Daha penaka Indra dan
Dewi Saci, berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem, tak jauh di
sebelah Selatan Raja Wilwatikta.
3.Di sebelah Utara
pasar, rumah besar bagus lagi tinggi, di situ menetap patih Daha, adinda
Baginda di Wengker Bhatara Narapati, termashur sebagai tulang punggung praja,
cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
4.Di Timur Laut rumah
patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada, menteri wira, bijaksana, setia bakti
kepada negara, fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,
tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara.
5.Sebelah Selatan
Puri, gedung kejaksaan tinggi bagus ; sebelah Timur perumahan Siwa, sebelah
Barat Buda ; terlangkahi rumah para menteri, para arya dan satria, perbedaan
ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
6.Semua rumah
memancarkan sinar warnanya gilang cemerlang, menandingi bulan dan matahari,
indah tanpa upama ; negara-negara di Nusantara, dengan Daha bagai pemuka,
tunduk menengadah, berlindung di bawah Wilwatikta.
Pupuh
XIII
1.Terperinci demi
pulau negara bawahan, paling dulu M'layu, Jambi, Palembang, Toba dan
Darmasraya, pun ikut juga disebut daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak,
Rokan, Kampar dan Pane, Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak
dan Padang.
2.Lwas dengan Samudra
serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus, itulah negara-negara Melayu yang
t'lah tunduk, negara-negara di pulau Tanjungnegara : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota
Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.
Pupuh
XIV
1.Kadandangan, Landa
Samadang dan Tirem tak terlupakan, Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot
dan juga Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei, Malano tetap
yang terpenting di pulau Tanjungpura.
2.Di Hujung Mendini
Pahang yang disebut paling dahulu, berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta
Trengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah, Jerai,
Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
3.Di sebelah Timur
Jawa seperti yang berikut : Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo
Gajah, Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima,
Seran, Hutan Kendali sekaligus.
4.Pulau Gurun yang
biasa disebut Lombok Merah, dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya,
Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, sampai Udamakatraya dan pulau
lain-lainnya tunduk.
5.Tersebut pula
pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba,
Solot, Muar, lagi pula Wanda(n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor
dan beberapa lagi pulau-pulau lain.
Pupuh
VX
1.Inilah nama negara
asing yang mempunyai hubungan, Siam dengan Ayudyapura, begitupun Darmanagari,
Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari, Campa, Kamboja dan Yawana yalah
negara sahabat.
2.Tentang pulau
Madura, tidak dipandang negara asing, karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi
satu, konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat Jawa dan Madura terpisah
meskipun tidak sangat jauh.
3.Semenjak Nusantara
menadah perintah Sri Baginda, tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti,
terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan, pujangga dan pegawai diperintah
menarik upeti.
Pupuh
XVI
1.Pujangga-pujangga
yang lama berkunjung di nusantara, dilarang mengabaikan urusan negara, mengejar
untung ; seyogyanya jika mengemban perintah ke mana juga menegakkan agama Siwa,
menolak ajaran sesat.
2.Konon kabarnya para
pendeta penganut Sang Sugata, dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata,
dilarang menginjak tanah sebelah Barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan
penganut ajaran Buda.
3.Tanah sebelah Timur
Jawa terutama Gurun, Bali, boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan, bahkan
menurut kabaran mahamuni Empu Barada serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah
teguh.
4.Para pendeta yang
mendapat perintah untuk bekerja, dikirim ke Timur ke Barat, dimana mereka sempat
melakukan persajian seperti perintah Sri Nata ; resap terpandang mata jika
mereka sedang mengajar.
5.Semua negara yang
tunduk setia menganut perintah, dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa
; tapi yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan pimpinan angkatan
laut, yang telah mashur lagi berjasa.
Pupuh
XVII
1.Telah tegak kuasa
Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara, di Sripalatikta tempat beliau
bersemayam menggerakkan roda dunia, tersebar luas nama beliau, semua penduduk
puas girang dan lega ; wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang
menjadi mashur.
2.Sungguh besar kuasa
dan jasa beliau, raja agung wilayah Janggala Kediri ;raja agung dan raja utama
; lepas dari segala duka, mengenyam hidup penuh segala kenikmatan, terpilih
semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri, berkumpul di istana bersama
yang terampas dari negara tetangga.
3.Segenap tanah Jawa
bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda ; ribuan orang berkunjung laksana
bilangan tentara yang mengepung pura ; semua pulau laksana daerah pedusunan
tempat menimbun bahan makanan ; gununga dan rimba hutan penaka taman hiburan
terlintas tak berbahaya.
4.Tiap bulan sehabis
musim hujan beliau biasa pesiar keliling, desa Sima di sebelah Selatan
Jalagiri, di sebelah Timur Pura, ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan
upacara prasetyan, girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan
candi lima.
5.Atau pergilah
beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, biasanya terus menuju
Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai, di Daha terutama di Polaman, ke
Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin, jika sampai di Jenggala singgah di Surabaya
terus menuju Buwun.
6.Tahun Aksatisurya
(1275) sang prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring ; tahun Saka
angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra ; tahun Saka
pintu-gunung-mendengar-indu (1279) ke laut selatan menembus hutan, lega
menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman.
7.Tahun Saka
seekor-naga-menelan bulan (1281) di Badrapada bulan tambah ; Sri Nata pesiar
keliling seluruh negara menuju kota Lumajang, naik kereta diiring semua raja
Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para
pembesar ikut serta.
8.Juga yang menyamar
Prapanca girang turut mengiring paduka Maharaja ; tak tersangkal girang sang
kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin ; dipilih Sri Baginda sebagai
pembesar keBudaan mengganti sang ayah ; semua pendeta Buda umerak membicarakan
tingkah lakunya dulu.
9.Tingkah sang kawi
waktu muda menghadap raja, berkata berdamping, tak lain maksudnya mengambil
hati, agar disuruh ikut beliau kemana juga ; namun belum mampu menikmati alam,
membinanya, mengolah dan menggubah karya kakawin ; begitu warna desa sepanjang
marga terkarang berturut.
10.Mula-mula melalui
Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah, sebelah Timur Tebu hutan
Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci ; Ratnapangkaja serta Kuti Haji
Pangkaja memanjang bersambung-sambungan ; Mandala Panjrak, Pongging serta
Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.
11.Habis berkunjung
pada candi makam Pancasara menginap di Kapulungan ; selanjutnya sang kawi
bermalam di Waru, di Hering tidak jauh dari pantai, yang mengikuti ketetapan
hukum jadi milik kepala asrama Saraya ; tetapi masih tetap dalam tangan lain,
rindu termenung-menung menunggu.
Pupuh
XVIII
1.Seberangkat Sri
Nata dari Kapulungan berdesak abdi berarak, sepanjang jalan penuh kereta,
penumpangnya duduk berimpit-impit, pedati di muka dan di belakang, di tengah
prajurit berjalan kaki, berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah
dan kuda.
2.Tak terhingga
jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya, meleret berkelompok-kelompok,
karena tiap ment'ri lain lambangnya, rakrian sang menteri patih amangkubumi
penatang kerajaan, keretanya beberapa ratus, berkelompok dengan aneka tanda.
3.Segala kereta Sri
Nata Pajang semua bergambar matahari, semua kereta Sri Nata Lasem bergambar
cemerlang banteng putih, kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma mas
mengkilat, kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.
4.Kereta Sri Nata
Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja, beratap kain geringsing, berhias
lukisan mas, bersinar merah indah, semua pegawai, parameswari raja dan juga
rani Sri Sudewi, ringkasnya para wanita berkereta merah, berjalan paling muka.
5.Kereta Sri Nata
berhias mas dan ratna manikam paling belakang, jempana-jempana lainnya bercadar
beledu, meluap gemerlap, rapat rampak prajurit pengiring Janggala Kediri,
Panglarang, Sedah, bhayangkari gem'ruduk berbondong-bondong naik gajah dan
kuda.
6.Pagi-pagi telah
tiba di Pancuran Mungkur, Sri Nata ingin rehat, Sang rakawi menyidat jalan,
menuju Sawungan mengunjungi akrab, larut matahari berangkat lagi tepat waktu
Sri Baginda lalu, ke arah Timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.
7.Dukuh sepi kebudaan
dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang,, berbeda-beda namanya, Gelanggang,
Badung, tidak jauh dari Barungbung, tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh taat
kepada Yanatraya, puas sang dharmadhyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan
minum.
8.Sampai di Kulur,
Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda Nata, hari mulai teduh, surya
terbenam, telah gelap pukul tujuh malam, baginda memberi perintah memasang
tenda di tengah-tengah sawah, sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai
membagi-bagi tempat.
Pupuh
XIX
1.Paginya berangkat
lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam, dari Baya melalui Katang, Kedung
Dawa, Rame, menuju Lampes Times, serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan
pasir lemak-lembut, menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
2.Tersebut dukuh
kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, tanahnya anugerah Sri Baginda
kepada Gajah Mada, teratur rapi, di situlah Baginda menempati pesanggrahan yang
terhias bergas, sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi bakti.
Pupuh
XX
1.Sampai di desa
kasogatan Baginda dijamu makan minum, pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya,
Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, WePeteng,
yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.
2.Begitu pula desa
Tinggilis, Pabayeman ikut berkumpul, termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa
desa perdikan, itulah empat belas desa kasogatan yang berakuwu, sejak dahulu
delapan saja yang menghasilkan makanan.
Pupuh
XXI
1.Fajar menyingsing ;
berangkat lagi Baginda melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare,
Dawohan Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran Kereta berjalan
cepat-cepat menuju Pawiyungan
2.Menuruni lurah,
melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan
Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang Sampai di Kemirahan yang
letaknya di pantai lautan
Pupuh
XXII
1.Di Dampar dan
Patunjungan Sri Baginda bercengkerama menyisir tepi lautan Ke jurusan Timut,
turut pasisir datar, lembut-limbur dilintas kereta Berhenti beliau di tepi
danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga Asyik memandang udang berenang
dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.
2.Terlangkahi
keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan Danau ditinggalkan,
menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan Kasogatan Bajraka termasuk
wilayah Taladwija sejak dulu kala Seperti juga Patunjungan, akibat perang,
belum kembali ke asrama
3.Terlintas tempat
tersebut, ke Timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan Berhenti di Palumbon
berburu sebentar, berangkat setelah surya larut Menyeberangi sungai Rabutlawang
yang kebetulan airnya sedang surut Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan,
lalu bermalam lagi
4.Pada waktu fajar
menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam Malam berganti malam,
Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan Sepeninggalnya beliau menjelang kota
Bacok bersenang-senang di pantai Heran memandang karang tersiram riak gelombang
berpancar seperti hujan
5.Tapi sang rakawi
tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan Dari Sadeng ke Utara
menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet Galagah, Tampaling, beristirahat
di Renes seraya menanti Baginda Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke
Jayakreta-Wanagriya
Pupuh
XXIII
1.Melalui Doni
Bontong, Puruhan, Bacek Pakisaji, Padangan terus ke Secang Terlintas Jati
Gumelar, Silabango Ke Utara ke Dewa Rame dan Dukun.
2.Lalu berangkat lagi
ke Pakembangan Di situ bermalam ; segera berangkat Sampailah beliau ke ujung
lurah Daya Yang segera dituruni sampai jurang.
3.Dari pantai ke
Utara sepanjang jalan Sangat sempit, sukar amat dijalani Lumutnya licin akibat
kena hujan Banyak kereta rusak sebab berlanggar.
Pupuh
XXIV
1.Terlalu lancar lari
kereta melintas Palayangan Dan Bangkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju
Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat Lainnya bergegas berebut jalan
menuju Surabasa
2.Terpalang matahari
terbenam berhenti di padang lalang Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari
pasangan Perjalanan membelok ke Utara melintas Turayan Beramai-ramai
lekas-lekas ingin mencapai Patukangan
Pupuh
XXV
1.Panjang lamun
dikisahkan kelakukan para mentri dan abdi Beramai-ramai Baginda telah sampai di
desa Patukangan Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di Barat Talakrep
Sebelah Utara Pakuwuan pesanggrahan Baginda Nata
2.Semua menteri,
mancanegara hadir di Pakuwuan Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut
menghadap Para Upapatti yang tanpa cela, para pembesar agama Panji Siwa dan
Panji Budha, faham hukum dan putus sastera
Pupuh
XXVI
1.Sang adipati
Suradikara memimpin upacara dan sambutan Diikuti segenap penduduk daerah
wilayah Patukangan Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain
Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan
2.Untuk pemandangan
ada rumah dari ujung memanjang ke lautan Aneka bentuknya, rakit halamannya,
dari jauh bagai pulau Jalannya jembatan goyah kelihatan bergoyang ditempuh
ombak Itulah buatan Sang Arya bagai persiapan menyambut raja.
Pupuh
XXVII
1.Untuk mengurangi
sumuk akibat teriknya matahari Baginda mendekati permaisuri seperti dewa-dewi
Para puteri laksana apsari turun dari kahyangan.
2.Hilangnya
keganjilan berganti pandang penuh heran-cengang Berbagai-bagai permainan
diadakan demi kesukaan
3.Berbuat segala apa
yang membuat gembura penduduk Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang
kagum Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.
Pupuh
XXVIII
1.Selama kunjungan di
desa Patukangan Para menteri dari Bali dan Madura Dari Balumbung, kepercayaan
Baginda Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul
2.Persembahan bulu
bekti bertumpah-limpah Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing
3.Bahan kain yang
diterima bertumpuk timbun Para penonton tercengang-cengang, memandang
4.Tersebut keesokan
hari pagi-pagi Baginda keluar di tengah-tengah rakyat Diiringi para kawi serta
pujangga Menabur harta, membuat gembira rakyat
Pupuh
XXIX
1.Hanya pujangga yang
menyamar Prapanca sedih tanpa upama Berkabung kehilangan kawan kawi-Budha Panji
Kertayasa Teman bersuka-ria, teman karib dalam upacara ‘gama
2.Beliau dipanggil
pulang, sedang mulai menggubah karya megah Kusangka tetap sehat, sanggup
mengantar aku kemana juga
3.Beliau tahu
tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat Rupanya sang pujangga ingin
mewariskan karya megah indah
4.Namun mangkatlah
beliau, ketika aku tiba, tak terduga Itulah lantarannya aku turut berangkat ke
desa Keta Meliwati Tal Tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dan Bungatan Sampai
Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam Paginya berangkat ke Lemah
Abang, segera tiba di Keta. (RedS)

No comments:
Post a Comment