Orang
beragama menyakini sesuatu yang dinilai berkah atau tidak berkah. Biasanya
dilihat dari sumbernya. Uang hasil korupsi, berapapun besar jumlahnya, dinilai
tidak berkah. Makanya orang beragama lebih memilih nilai keberkahan, ketimbang nominalnya.
Pemikiran
ini kadang juga muncul dalam memperoleh jabatan. Misalkan menjadi pegawai
negeri, ada oknum nakal yang mengharuskan membayar sejumlah uang. Sebagian
orang yang tahu, memilih tidak menjadi pegawai, karena takut gajinya tidak
berkah, karena jabatannya didapat dari “jalur belakang”.
Kenapa orang
harus berfikir sesuatu berkah atau tidak berkah?
Kita percaya
keberkahan itu mendatangkan manfaat lebih luas, juga kedamaian bathin.
Seseorang mungkin hanya bekerja ala kadarnya, dengan gaji yang cukup, untuk
tidak disebut berlebih. Ada juga yang karena suatu hal, mampu menumpuk harta
berlimpah, sampai bingung bagaimana cara menghabiskannya.
Misalkan,
pernah ada pejabat negara, yang konon harga jam tangannya saja 2 milliar. Anda
bisa bayangkan, jam tangan seperti apa sampai semahal itu? Fungsinya tetap sama
dengan jam tangan harga 60.000-an, hanya saja, desainnya lebih bagus, dilapisi
emas 24 karat, tahan air, tahan banting, dan punya nilai prestise yang tinggi.
Kita lantas
berfikir, uang 2 milliar itu jika didistribusikan untuk kemakmuran, bisa lebih
bermanfaat, ketimbang menjadi asesoris tubuh. Setidaknya, dengan uang 2
milliar, bisa untuk biaya kuliah s1 sebanyak 20 orang.
Di Jawa, ada
istilah Mulya dan Mukti. Mulya artinya makmur, kaya, tercukupi, kebutuhan dan
keinginan pribadi terpenuhi. Namun menyisakan gap antar si kaya dan miskin. Ada
kelas antara bangsawan dan jelata.
Sementara
Mukti, mungkin dari segi ekonomi biasa-biasa saja, akan tetapi memiliki
kemanfaatan untuk orang banyak. Dalam budaya keraton, orang Mukti
mendedikasikan diri sebagai abdi dalem, sebagai pelayan rakyat. Gaji mereka tak
seberapa, namun bermanfaat bagi banyak orang.
Hal tersebut
juga sejalan dengan keberkahan usia. Usia yang berkah, bukan berarti usianya
panjang. Tapi selama hidup, ia memberikan manfaat yang mendalam, sehingga
meskipun usianya tidak panjang, jejak kemanfaatannya masih terasa sampai
kapanpun.
Selain itu,
keberkahan diyakini lebih bernilai di hadapan Tuhan. Seberapapun dana yang
berhasil ia kuasahi selama hidup, entah miliaran sampai triliunan, jika tidak
berkah tidak akan memiliki nilai, justru pertanggung jawabannya sangat berat.
Itulah
kenapa, orang beragama menyakini konsep berkah, sebagai patokan dalam hidup.
Untuk apa punya ini itu, kalau tidak berkah. []
Blitar, 30
Maret 2017

No comments:
Post a Comment