PEMIKIRAN
HASAN HANAFI (bag.2)
Hasan Hanafi adalah
tokoh pemikir modern dan penggerak dalam dunia islam. Ia mempunyai berbagai
pemikiran yang reformis dan revolusioner dalam pembaharu pemikiran-pemikiran
islam. Ide-ide pemikiran ini berada pada berbagai bidang, tetapi hanya beberapa
pemikiran beliau yang sangat fenomenal dan sangat berpengaruh hingga sekarang.
Beberapa inti
pemikiran beliau adalah tentang Kiri Islam yaitu bentuk perlawanan “politik”
dalam memperbaiki kehidupan masyarakat dalam menghadapi kenyataan. Teori ini
ingin menghapus adanya sekat-sekat yang ada dalam realitas masyarakat seperti
tuan dengan hambanya, atasan dengan bawahannya, si kaya dan si miskin, dll.
Inti pemikiran
yang kedua yaitu dengan tentang Hermeneutika Al-Quran. Pemikiran mengkritik
tentang model penafsiran klasik yang hanya berkutat menafsirkan yang
berhubungan dengan teosentris saja tanpa ada pengaruh terhadap realita
kehidupan. Ia juga memberikan model-model penafsiran yang berhubungan keadaan
sekarang.
Pemikiran yang
ketiga adalah tentang oksidentalisme, dimana ia orang pertama yang mencetuskan
tentang term oksidentalisme. Pemikiran ini muncul sebagai reaksi dia terhadap
hegemoni bangsa barat yang selalu mendominasi setiap unsur kehidupan.
Mungkin ini
adalah gambaran sekilas tentang pemikiran hasan hanafi yang dapat kami
sampaikan. Tentunya banyak sekali pemikiran dari Hasan Hanafi yang belum sempat
terbahas. pembahasan di atas hanyalah sebagian kecil dari hasil pemikirannnya.
Turas Dan Tajdid Dan
Penyatuan Ilmu Ilmu
Turas adalah segala sesatu yang sampai kepada kita dari masa
lalu dalam peradaban yang dominant, sehingga merupakan masalah yang diwarisi
sekaligus mesalah penerima yang hadir dalam berbagai tingkatan. Turas merupakan
titik awal sebagai tangungjawab kebudayaan dan bangsa. Tajdid adalah penafsiran
ulang atas turas sesauai dengan kebutuhan kebutuhan zaman , karena yag lama
mendahului yang baru. Turas adalah peranatara sedangkan tajdid adalah tujuan.
Jadi turas dan tajdid berusaha menegaskan persoalan persoalan
perubahan social scara alamiah dan dalam kerangka sejarah, yang dimulai dengan
asas dan syarat sebelum yang di bangun dan di syariati.
Turas dan tajdid mencerminkan proses peradaban yaitu
pengungkapan sejarah, sebagai kebutuhan yang sangat mendesak dan tuntunan
revolusioner dalam kesadaran kentemporer kita. Turas dan tajdid mengkaji
tentang jati diri dengan cara menukik ke dalam masa kinidengan menjawab
pertanyaan siapa kita.?
walaupun turas telah memberi kita empat ilmu rasional yang
luar biasa yaitu kalam, filsafat, tasawauf dan ushul fikih, hanya saja tujuan
akhir turas dan tajdid adalah penyatuan ilmu ilmu dalam satu ilmu yang sinonim
dengan peradaban itu sendiri. Sebab semua ilmu itu berusaha untuk memahami dan
merubah wahyu menjadi teori seperti ada dalam kalam dan filsafat.
Penyatuan ilmu-ilmu merupakan peresolan yang mungkin, karena
setiap ilmu menunjuk kepada ilmu-ilmu lain dengan komparasi dan seringkali
dengan falsifikasi dan kritik. Dalam ilmu kalam misalnya terdapat kritik aras
filsafat, khusunya menganai hal hal yang berkaitan dengan falak-falak, makna
makna akal akal. Kadang kadang sebagian kajian fikih dan ushul fiqih tercakup
dalam satu poin bersama dalam kajian kajian bahasa, qiasa dan ijtihad.
Penyatuan ilmu-ilmu merupakan suatu yang mungkin dengan cara mengambil semua yang diberikan oleh ilmu ilmu tradisional dan apa yang memnuhi tuntutan tuntutan zaman. Misalnya pengukuhan kebebasan dalam ilmu tauhid akal, amal dan musyawarah.
Jika turas telah memberi kita ilmu ilmu rasional, yang
mengeksprsikan puncfak tertinggi pencapainnya yaitu rasionalisasi nash dan
analisi wahyu jika tajdidi dengan kemampuannya merubah ilmu ilmu trasisional
ini menjadi ilmi ilmu kemanusiaan, maka zaman sekarang ingin mealangkah jauh
lebih maju yaitu merubah ilmu ilmu kemanusiaan sebagai warisan ilmu ilmu
tradisional menajdi idiologi. Itulah tujuan tertinggi turas dan tajdid.
Dalam Al-Yasar al-Islami (Kiri Islam) tersebut, Hassan Hanafi
mendiskusikan bebarapa isu penting berkaitan dengan kebangkitan Islam. Secara
singkat dapat dikatakan, Kiri Islam bertopang pada tiga pilar dalam rangka
mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam (revolusi Tauhid) dan kesatuan
umat. Pilar pertama adalah revitalisasi khazanah Islam klasik. Hassan Hanafi
menekankan perlunya rasionalisme untuk merevitalisasi khazanah Islam.
Rasionalisme merupakan keniscayaan bagi kemajuan dan kesejahteraan Muslim,
disamping untuk memecahkan situasi kekinian di dalam dunia Islam. Pilar kedua
adalah perlunya menentang peradaban Barat. Ia memperingatkan pembacanya akan bahaya
imperialisme kultural Barat yang cenderung membasmi kebudayaan bangsa-bangsa
yang, secara kesejarahan, kaya. Ia mengusulkan "Oksidentlisme"
sebagai jawaban "Orientalisme" dalam rangka mengakhiri mitos
peradaban Barat. Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia Islam. Untuk
analisis ini, ia mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks (nash),
dan mengusulkan suatu metode tertentu, agar realitas dunia Islam dapat
berbicara bagi dirinya sendiri. Menurut Hassan Hanafi, dunia Islam sedang menghadapi
tiga ancaman, yaitu imperialisme, zionisme dan kapitalisme (dari luar) serta
kemiskinan, ketertindasan dan keterbelakangan (dari dalam). Kiri Islam berfokus
pada problem-problem era ini. (Red.S)

No comments:
Post a Comment