TEMAN SETIA
Oleh: Mustakim*
Aku berkenalan dengannya pada awal
tahun 2006. Teman baik yang selalu mendukungku. Tak butuh waktu lama
beradaptasi, perkenalanku dengannya mengantarkan kami pada sebuah hubungan yang
spesial.
Ada satu hal darinya yang sangat menarik
perhatianku. Sesuatu yang mungkin tidak bisa aku dapatkan dari teman-teman lain
yang aku kenal sebelumnya. Totalitas dalam kesetiaan. Hal inilah yang
menjadikannya berpredikat sahabat setia di dalam hatiku. Sesuatu yang belum
pernah kuungkap kepada siapapun sebelumnya, termasuk kepadanya.
Awal perkenalan kami cukup singkat.
Saat itu yang aku tahu dia sudah tinggal di Blitar sejak tahun 2002. Aku
berkenalan dengannya melalui salah seorang anggota PDM Kota Blitar yang bernama
bapak Lukiarto. Di rumahnya yang beralamat di kelurahan Tlumpu, disanalah
pertama kali aku bertatap muka dengannya. Pandangan pertama begitu menggoda,
begitulah barangkali gambaran dari pertemuan pertama kami. Pertemuan yang
menarik hatiku untuk segera menyukainya.
Kesetiaannya pada pertemanan kami
sungguh besar. Dia abaikan segala hal, termasuk dirinya sendiri untuk sekedar
menemani atau mendukungku. Pernah suatu ketika, saat kondisinya tak begitu
sehat, aku memintanya menemaniku pada suatu acara kajian. Dia mengantarku
kemudian menunggu di halaman tempat kajian hingga selesai dan mengantarkan aku
kembali ke rumah. Saat itu, karena suatu hal, seteguk minum pun aku tak
memberinya. Keterlaluan, mungkin begitulah pendapat orang tentang sikapku kepadanya.
Tetapi begitulah adanya. Dia begitu setia dan membantu dengan segala kemampuan
padaku, sementara aku tidak terlalu memperhatikan keberadaannya. Hubungan yang
tidak seimbang. Sekaligus hubungan yang tidak pernah dikeluhkan olehnya.
Kini, sepuluh tahun lebih
pertemanan kami. Aku melihat fisiknya sudah tak semenarik waktu pertama
berjumpa dulu, penampilannya pun tampak acak-acakan. Mungkin juga salahku
sebagai teman. Kebaikannya yang sangat besar padaku tidak mendapatkan balasan
yang setimpal dariku. Dalam hal ini aku sadar, Aku bukanlah teman yang baik
baginya.
Hari ini aku sempatkan
menungguinya, meluangkan waktu khusus untuknya. Termasuk harus kutinggalkan
sejenak pekerjaan, karena aku tak ingin menyesal di waktu kemudian seandainya
dia tak dapat terselamatkan. Kondisinya benar-benar buruk. Butuh perawatan yang
baik agar dia bisa beraktifitas seperti biasanya. Saat menungguinya dalam
perawatan, teringat kembali segala kebaikan yang pernah dibuatnya untukku juga
kepada keluargaku. Pernah suatu ketika kami bersama dalam perjalanan ke pantai
Tambakrejo di Blitar selatan. Dalam suasana hujan, dia bersama aku juga istri
dan tiga anakku menempuh jalan yang menanjak naik dan turun. Kami bersama basah
kuyup sebab kebetulan tidak membawa jas hujan. Karena jalan utama macet saat
pulang, kami memutuskan melalui jalan setapak jalur timur. Jalan licin belum
beraspal. Berkali-kali dia terpeleset, walau tak sampai terjatuh.
"Pak,
perawatannya sudah selesai". Suara seseorang memutus lamunanku.
"Bagaimana
kondisinya, mas?" Tanyaku pada orang yang memberitahuku. Dari
wajahnya dia tampak lebih muda dariku. Maka kupakai sebutan mas untuknya.
"Ini
sudah agak parah pak. Kelihatannya bapak juga agak terlambat membawa kesininya.
Masih bisa digunakan beraktifitas, asal tidak dengan beban yang berat".
Jawabnya memberi penjelasan.
Setelah mengucapkan terima kasih
dan membayar biaya sesuai angka yang tertera di kwitansi. Segera kubawa pulang
teman setiaku. Aku berharap 'turis mancanegara' yang jadi sahabat setia ini
kembali menemani hari-hariku. Meski dalam hati kecil aku berharap bisa memiliki
teman setia yang lebih muda darinya.
Terima kasih teman setiaku, mari
kita lanjutkan mengukir kisah hidup bersama. Mengarungi waktu demi waktu,
melintasi jalan lurus dan berliku, tanjakan dan turunan. Dalam panas dan hujan,
siang dan malam, saat ini engkau yang kuandalkan, Yamaha Nouvo 5MX.
__________________
*Mustakim
adalah ketua LSBO** Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Blitar
**LSBO = Lembaga Seni Budaya dan Olahraga


No comments:
Post a Comment