![]() |
Pendiri
Muhammadiyah adalah seorang Kyai. Meski bukan Kyai yang mendirikan Pesantren,
melainkan Kyai Khetip dari Abdi dalem keraton. Artinya, Kyai Ahmad Dahlan
adalah Kyai-nya penguasa kerajaan Islam Mataram.
Secara
struktur, tentu sangat sulit bagi Kyai keraton untuk melawan arus. Apalagi di
tengah budaya Jawa yang sangat kental kala itu. Kyai Dahlan berani berpendapat
yang berbeda, bahkan menyalahkan arah kiblat Masjid Gede. Itu bukan sesuatu
yang lazim. Hanya orang-orang pemberani, yang bisa melakukan hal itu.
Dari latar
pendidikan pun, Kyai Dahlan memang tidak bisa disebut akademisi. Tidak pernah
menempuh pendidikan formal, juga gelar akademik. Berbeda dengan pendiri Budi
Utomo, Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Mungkin
sekarang orang mengira jika Muhammadiyah, terutama pucuk kepemimpinannya, lebih
banyak kaum akademisi, ketimbang Kyai. Bahkan lambat laun citra “kepemimpinan
Kyai” makin memudar, meskipun pendirinya sendiri, sampai Ketua Umum pada
beberapa generasinya, adalah seorang Kyai.
Bahkan,
meskipun Muhammadiyah juga memiliki pesantren atau sekolah Islam, tapi sangat
jarang pendiri/pengelolanya yang disebut Kyai. Citra sebagai akademisi
cenderung lebih kuat.
Sejak berdiri
tahun 1912, tercatat ada 15 Tokoh yang pernah menjadi ketua Umum. Dari 15 tokoh
tersebut, hanya ada 5 yang tidak dikenal luas sebagai Kyai. Seperti Ki Bagus
Hadikusumo, yang mejabat antara tahun 1944-1953, dan merupakan Ketua Umum PP
Muhammadiyah kelima.
“Ki” merupakan
sebutan khusus bagi tokoh Jawa. Selain itu Kiprah Ki Bagus Hadikusumo lebih
banyak dalam hal kenegaraan, seperti menjadi Anggota BPUPKI dan PPKI.
Kiprah lainnya
adalah di bidang seni, terutama dalam bidang sastra. Baik sastra Jawa, Melayu,
bahkan Belanda.
Setelah itu,
Muhammadiyah memang tidak dipimpin seorang Kyai. Namun bergelar Buya, yaitu
Buya A.R Sutan Mansur. Buya merupakan gelar kehormatan dari suku Minang. Meski
demikian, rekam jejaknya sebagai guru, terutama di Sumatra Thawalib, juga
posisinya sebagai Majelis Tabligh Pusat, dalam kultur Jawa aktivitas itu
identik dengan Kyai.
Gelar Kyai
sendiri memang gelar khusus di Jawa. Awalnya bukan disematkan pada orang,
melainkan pada barang-barang yang di sakralkan. Lalu paradigma itu kemudian
beralih, gelar Kyai disematkan kepada orang yang tekun belajar agama, dan
mengajarkannya. Terutama di Pesantren-pesantren.
Setelah Buya
A.R Sutan Mansur, Muhammadiyah dipimpin oleh Kyai. Mulai dari KH. M. Yunus, KH.
Ahmad Badawi, KH. Faqih Usman, KH. AR Fachrudin, dan KH. Ahmad Azhar Basyir.
Baru pada tahun 1995, Muhammadiyah dipimpin oleh Akademisi-Intelektual yang
bergelar Profesor, yaitu Prof. Dr. H. Amien Rais.
Menurut Haedar
Nashir, ketika dipimpin Amien Rais, gerakan Intelektual di Muhammadiyah semakin
masif. Bahkan dalam beberapa struktur kepengurusan, bermunculan banyak Profesor
dan Doktor. Citra kepemimpian akademisi mulai terbentuk disini.
Meskipun
sejumlah pengamat menilai, bahwa bibit intelektualisme dalam diri Muhammadiyah
sudah ada sejak era KH. Ahmad Dahlan. Salah satunya melalui keterbukaan
berfikir, juga gerakan dakwah sosial yang kala itu nyaris tidak tersentuh
kelompok Islam yang lain.
Ketika
dipimpin Amien Rais, Muhammadiyah pun juga semakin tajam mengkritisi rezim.
Gerakan politiknya semakin masif. Meskipun sebelumnya, Muhammadiyah termasuk
memiliki hubungan baik dengan Presiden Soeharto. Ciri kuat kepemimpinan
akademisi yang diperlihatkan Amien Rais, adalah keberaniannya melemparkan
kritik kepada rezim dengan argumentasi yang kuat.
Meskipun Amien
Rais tidak sampai satu periode memimpin Muhammadiyah karena menjadi Ketua MPR
RI. Posisinya kemudian digantikan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Maarif.
Selain meneruskan sisa-sisa kepengurusan Amien Rais, Syafii Maarif pun akhirnya
juga terpilih menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2000-2005.
Syafii Maarif
memang bergelar Buya, sebagaimana A.R Sutan Mansur, karena sama-sama dari
Sumatra Barat. Di wikipedia, juga ditulis KH. Meskipun aktivitas Ahmad Syafii
Maarif lebih banyak di dunia kampus, sebagai dosen dan akademisi. Barangkali
gelar Kyai yang disematkan ke Buya oleh kontributor wikipedia dikarenakan
posisinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Era
kepemimpinan Ahmad Syafii Maarif termasuk era yang sulit bagi Muhammadiyah.
Setelah lengsernya Presiden Soeharto, dua kepemimpinan berikutnya tidak
bertahan lama. Yaitu era B.J Habibie dan Gus Dur.
Bahkan, pasca
dilengserkannya Gus Dur oleh MPR. Dimana kala itu MPR diketuai oleh Amien Rais
yang notabene tokoh Muhammadiyah, terjadi konflik akar rumput antara NU, terutama
Gusdurian, dengan warga Muhammadiyah. Bahkan beberapa sekolah Muhammadiyah
rusak dan dibakar.
Namun
kedekatannya dengan Ketua PBNU kala itu, KH. Hasyim Muzadi dan Megawati
Soekarno Putri yang akhirnya menggantikan Gus Dur sebagai Presiden, membuat
konflik tidak berlangsung lama. Energi kepemimpinan Buya pun lebih banyak
digunakan untuk memulihkan stabilitas sosial pasca konflik.
Namun pada era
Buya Syafii Maarif inilah gerakan Intelektual di Muhammadiyah seolah mengalami
masa puncaknya. Lahirnya Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah yang dimentori
oleh Moeslim Abdurrahman. Beberapa kadernya pun kemudian bertebaran sekolah
keluar negeri, sehingga Muhammadiyah kemudian “panen master dan doktor”.
Meski JIMM
pada awalnya disebut merupakan gerakan liberal dan lain sebagainya, namun pada
era itulah jumlah kader Muhammadiyah yang sekolah keluar negeri makin
meningkat. Baik ke Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Kanada, dlsb.
Pada era itu,
hampir berbagai opini di media massa dipenuhi oleh tulisan kader-kader
Muhammadiyah. Kini, beberapa kader telah kembali dan menjadi lokomotif gerakan
intelektual, sosial, maupun filantropi.
Berikutnya,
Ketua Umum beralih ke Prof. Dr. H. Din Syamsudin, MA. Meski dalam beberapa
tulisan ada gelar KH yang disematkan, namun background Din Syamsudin lebih
kepada akademisi, jika merujuk pada gelar akademiknya.
Mungkin karena
beliau pernah menjadi Ketua MUI, dan karena rata-rata Ulama di MUI bergelar
Kyai, Maka gelar KH pun juga lantas disematkan kepadanya.
Din Syamsudin
termasuk ketua yang sangat aktif dalam berbagai forum dunia, sebagaimana Prof.
Dr. Amien Rais dan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Din Syamsudin juga
alumnus Amerika, tepatnya di University Of California Los Angeles (UCLA).
Beliau memimpin Muhammadiyah selama dua periode, 2005-2015.
Ketua kemudian
berganti ke Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. Sebelumnya, Haedar Nashir adalah
Pimpinan Redaksi Suara Muhammadiyah, dan pernah menjadi Sekretaris Umum ketika
era Ahmad Syafii Maarif.
Haedar Nashir
memiliki darah Kyai. Ayahnya adalah seorang Ajengan, sebutan untuk tokoh agama
seperti Kyai di Jawa Barat. Kalau di Jawa Timur atau Jawa Tengah, Haedar Nashir
bisa disebut Gus, artinya putra dari seorang Kyai.
Namun
aktivitas Haedar Nashir berada di Kampus, bukan di Pesantren. Kini, meskipun
sosoknya kerap disebut sebagai kyai, namun sesungguhnya sisi akademisi Haedar
Nashir sangat menonjol. Banyak buku yang telah ditulis, terutama yang berkaitan
dengan Muhammadiyah. Sosoknya dikenal sebagai “ideolog kontemporer” karena
banyaknya menghasilkan tulisan yang berkaitan dengan ideologi dan gerakan
Muhammadiyah.
Di tangan
Haedar Nashir, wajah Intelektual Muhammadiyah mulai menemukan bentuknya secara
lebih kongkrit. Jika era Ahmad Syafii Maarif dan Din Syamsudin adalah masa
penggodokan kader-kader Intelektual, pada era Haedar Nashir mereka masuk ke
dalam struktur dan mengaplikasikan ilmunya secara langsung.
Di
Muhammadiyah sendiri, figur Haedar memang dikenal sebagai
Intelektual-Akademisi. Hal itupula yang pernah diungkapkan Din Syamsudin,
ketika ditanya wartawan tentang figur Haedar Nashir.
Kultur
Muhammadiyah
Muhammadiyah
memang lekat dengan kultur anti feodal. Tidak ada pengkultusan tokoh secara
berlebih. Hal tersebut bahkan dipraktekkan langsung oleh KH. Ahmad Dahlan dalam
setiap pengajiannya.
Jika selama
ini pengajian hanya terpusat pada Kyai, dimana santri hanya duduk mendengarkan
secara pasif. Maka dirubah, santri lah yang mengajukan pertanyaan. Bahkan
disatu sisi boleh mengajukan protes. Bertanya merupakan bagian penting dari
proses belajar, dan itu merupakan tradisi akademik.
Kultur
akademik juga semakin menguat ketika Muhammadiyah mulai mendirikan Perguruan
Tinggi pada awal tahun 60-an. Sehingga, tokoh-tokoh Muhammadiyah berikutnya
lahir dan terpusat di Kampus, bukan Pesantren. Fokus pengembangan kelembagaan
pun juga lebih banyak di Perguruan Tinggi dan Sekolah, daripada Pesantren.
Padahal, Kyai
itu adalah orang yang lahir di Pesantren. Dalam Tradisi Jawa, seseorang disebut
Kyai karena dua alasan. Pertama, memiliki pesantren. Kedua, memiliki
Masjid/Mushola dan memangku kegiatan keagamaan masyarakat sekitar.
Di
Muhammadiyah, jumlah pesantren kalah berkembang dibandingkan Perguruan Tinggi
atau Sekolah. Bahkan sebagian besar lembaga Pendidikan pun dimiliki oleh
Persyarikatan, bukan Individu.
Ciri
kepemimpinan Akademik
Kepemimpinan akademisi
memiliki ciri khas tersendiri, sebagaimana kultur akademik. Kepemimpinan
akademik bersifat dialogis, mengedapankan unsur-unsur dialog dibandingkan
instruksi. Tidak dikenal istilah Taqlid, atau pengkultusan tokoh tertentu.
Segala hal
harus diterima dengan rasional dan argumentatif. Maka ada istilah, Muhammadiyah
itu bisa berbaris, namun sulit berkumpul. Sehingga, ketua Umum sulit untuk
mengeluarkan fatwa secara verbal. Kalaupun ada, biasanya berbentuk surat edaran
resmi.
Ini sangat
berbeda dengan kultur Kyai, dimana titah Kyai kepada santri dan pengikutnya
hampir pasti diikuti, karena rasa hormat yang mendalam kepada Kyainya. Bahkan
hampir tak ada yang berani membantah Kyai.
Memang
keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Meski Ketua Umum PP
Muhammadiyah sebagian besar adalah Kyai, namun istilahnya adalah Kyai berdasi.
Berdasi mencitrakan modernitas, keterbukaan, termasuk dalam konteks dialog.
Juga kebaruan dalam kepemimpinan.
Muhammadiyah
secara kultur berhasil mentransformasikan kepemimpinan Islam di Indonesia,
ketika seorang akademisi menjadi nahkoda sebuah Organisasi Islam yang
gerakannya tajam ke arah sosial-masyarakat. Bukan hanya ibadah-ritual. Hal yang
mungkin susah dicapai oleh Organisasi manapun, yang belum melakukan
transformasi kepemimpinan. [red.s]

No comments:
Post a Comment