Srengenge –
Kemunculan Film Nyai Ahmad Dahlan yang diproduksi oleh Iras Film,
menimbulkan rasa penasaran dan antusiasme tersendiri di kalangan warga
Muhammadiyah. Tak sedikit yang kemudian mengadakan nonton bareng, baik dari
organisasi maupun amal usaha seperti Pendidikan. Namun kehadiran Film Nyai
Ahmad Dahlan tentu akan mendapatkan tantangan tersendiri, mengingat
sebelumnya sudah muncul film Sang Pencerah di tahun 2010.
Selain apresiasi dan
pujian, tak sedikit juga yang memberikan kritik terhadap film tersebut, apalagi
jika dibandingkan dengan film Sang Pencerah. Ketua PDM Batu, Nurbani
Yusuf, bahkan menulis khusus responnya setelah menonton film Nyai Ahmad
Dahlan yang menurutnya seperti “kehilangan cerita”. Begitu pun ketika
rombongan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kab. Blitar menggelar nonton
bareng, seusai acara muncul beberapa diskusi kritis terkait film itu.
Srengenge Online
beberapa hari lalu juga menerbitkan tulisan kemungkinan Film Nyai Ahmad
Dahlan melampaui penonton Sang Pencerah, terlepas dari kualitas,
baik dari segi “penataan film” sampai akting pemainnya. Berikut beberapa ulasan
redaksi, kenapa Film Nyai Ahmad Dahlan nampak kurang greget, jika
dibandingkan dengan Sang Pencerah.
Meski Aisyiyah sudah
dikenal sejak lama sebagai Organisasi perempuan pendamping Muhammadiyah, namun
perlu dipahami bahwa kajian tentang sosok Nyai Walidah begitu jarang. Bahkan
nama Nyai Walidah seolah tenggelam oleh kebesaran nama KH. Ahmad Dahlan
sendiri, sampai film tentangnya pun menggunakan nama Nyai Ahmad Dahlan, bukan
Nyai Walidah.
Hal ini tentu berbeda
dengan R.A Kartini atau Cut Nyak Dien yang memang dikenal langsung dari
figurnya, tanpa dibayangi kebesaran suami atau pendampingnya masing-masing.
Karena minimnya kajian tentang sosok Nyai Walidah ini pula, figurnya kurang
begitu muncul ke permukaan. Ketika hendak difilmkan, tentu sedikit lebih susah
mengumpulkan data dan informasinya.
Selain itu, jika
dilihat dari sisi bisnis, film ini memang sangat menjual setidaknya dikalangan
warga Muhammadiyah sendiri, yang selama ini memang jarang atau bahkan tak
pernah membaca kisah Nyai Walidah, selain hanya tahu sebagai pendiri Aisyiyah
(atau pengajian sopo tresno). Di kalangan non warga Muhammadiyah, film ini
mungkin tidak begitu menjual.
Ini berbeda hal
dengan film Sang Pencerah, yang diperankan oleh Lukman Sardi, aktor kawakan
yang memang spesialis film layar lebar. Nama-nama lain meski tidak begitu lama
muncul dalam adegan juga sangat menjual, misalkan seperti Sujiwo Tedjo yang
memerankan KH. Fadli, paman Walidah. Nama beken lain seperti Slamet Rahardjo,
Agus Kuncoro, Zaskiya A Mecca, Ihsan Tarore, Joshua Suherman sampai Giring
Nidji juga tidak bisa dinafikan. Belum lagi pengisi Soundtracknya, selain
Giring Nidji juga Rossa yang menyanyikan ulang Mars Muhammadiyah. Ini yang
membuat Sang Pencerah nampak begitu menjual, bahkan dikalangan non warga
Muhammadiyah.
Kesamaan paling
mencolok antara kedua film tersebut adalah tata musiknya yang sama-sama digarap
oleh Tya Subiakto. Dalam Festival Film Bandung, Sang Pencerah meraih tiga
penghargaan khusus teknis perfilman yaitu tata musik, tata kamera, dan tata
artistik, selain penghargaan lain sebagai Film Terpuji, Pemeran Utama Pria
sampai Sutradara Terpuji.
Keunggulan dari segi
sinematografi, bisa jadi juga berkaitan dengan anggaran. Tentu tidak bisa serta
merta kedua film ini diperbandingkan, mengingat ada banyak faktor yang
mempengaruhi. Barangkali yang sudah menonton Sang Pencerah, akan lekas
membandingkannya dengan Film Nyai Ahmad Dahlan dan akan terasa letak
perbedaannya.
Meski demikian,
menurut Ketua Fokal IMM Blitar, Choirul Umam, film ini sangat layak dijadikan
referensi visual. Begitu pun yang dulu pernah diungkapkan oleh Ahmad Najib
Burhani, peneliti senior LIPI, bahwa film Nyai Ahmad Dahlan ini akan memberikan
gambaran sejarah perjuangan Nyai Walidah dengan cara yang lebih ringan.
Terlepas dari
kekurangan dan kelebihan film Nyai Ahmad Dahlan, kita patut merespon
positif, karena bisa jadi film ini menjadi pembuka untuk lebih mengkaji,
mendiskusikan, dan meneladani sosok Nyai Walidah, sebagai aktivis perempuan
Islam di Indonesia, yang selama ini kurang begitu dikenal luas perjuangannya,
bahkan di kalangan warga Muhammadiyah sendiri. [red.s]
Ulasan Redaksi
Srengenge

No comments:
Post a Comment