Kisah ini
secara lisan sudah saya paparkan dalam beberapa bedah buku "Literasi
Sampai Mati", termasuk kemarin sore di Kampus Ushulludin IAIN Kediri.
Sekitar
tahun 1998-an, seorang mahasiswa senior di dalam kamar kosnya membaca catatan
harian Ahmad Wahib. Ia membaca sambil teriak: "Aku bukan Hatta, bukan
Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang
lain-lain. Bahkan... aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari, dan
terus menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah
meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku."
Mahasiswa
senior itu adalah Muhammad Abadi. Aku penasaran dengan ucapannya yang ternyata
keluar dari kegiatan membaca buku itu. Ia adalah mahasiswa fakultas sastra,
punya banyak buku di kamar kosnya yang berada di pinggir kali, belakang kampus.
Ternyata dia juga sudah menulis, tulisannya dimuat di media massa. Kalau tak
salah esai dan beberapa artikelnya dimuat di Suara Muhammadiyah.
Lalu aku
mengenal Ahmad Wahib. Buku yang covernya berwarna hijau dengan tangan mengepal
itu akhirnya aku cari. Buku "Pergolakan Pemikiran Islam" itu kemudian
kubaca. Aku lupa apakah aku membacanya dengan meminjam di perpustakaan kampus
ataukah meminjamnya dari para senior yang kebanyakan adalah aktifis persma.
Lalu aku
meniru menulis buku harian. Karena kuliah di kampus FISIP (Fakultas Ilmu Santet
dan Ilmu Pelet.. upss, maksudnya Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), maka akupun
ingin menggunakan catatan harian sebagai sarana untuk menuliskan apa yang ingin
kutuliskan.
Catatan-catatan
mulai hal yang cemen, yang ketika kubaca belakangan (beberapa tahun kemudian)
terasa lucu. Catatan tentang nasib diri dan keluarga. Tentang dunia
perkuliahan. Hingga tentang sosial dan politik. Karena aku menyadari bahwa aku
adalah mahasiswa yang konon kabarnya adalah "agent of change", kaum
intelektual, maka akupun ingin menulis catatan harian yang berisi analisa kritis.
Catatan
harian ini untuk meluapkan emosi, ketidakpuasan atau kegembiraan, ketika
menjalani hidup sehari-hari. Tapi ingin aku legitimasi dengan teori-teori.
Kalau soal cinta, misalnya, ya aku bantu dengan analisa teoritik tentang cinta.
Soal cinta ini, aku menemukan karya Erich Fromm. Ia adalah nama ilmuwan sosial
yang barangkali paling melekat dalam pikiranku. Buku yang berjudul "Konsep
Manusia menurut Marx", terbitan Pustaka Pelajar, terjemahan dari
"Marx's Conception of Man, adalah buku yang paling menggugah minatku
tentang wacana Cinta.
Lalu buku
Fromm yang berjudul "The Art Of Loving". Buku-buku ini membantuku
mendalami relasi antar manusia maupun memahami bagaimana proses psikologis yang
mungkin terjadi pada tiap orang dalam suatu hubungan. Lalu membawaku pula pada
ketertarikan terhadap Marxisme.
Tahun 2003
ada lomba, tepatnya sayembara, bertema Ahmad Wahib (AHMAD WAHIB AWARD). Lomba
menulis esai yang bertema pemikiran Ahmad Wahib itu diadakan oleh HMI Cabang
Ciputat bersama Freedom Institute. Judul esai yang kutulis adalah "Wahib
dan Marx: Basis Material Ideologi Politik Islam". Kupilih judul ini karena
aku paling suka dengan catatan Wahib yang ini: "Nah andai kata hanya
tangan kiri Muhammad yang memegang kitab, yaitu Alhadits, sedang tangan
kanannya tidak aa wahyu Allah ( Alquran), maka dengan tegas aku berkata bahwa
Karl Marx dan Frederik Engels lebih hebat dari pada utusan Tuhan itu. Otak
kedua orang ituyang luar biasa dan pengabdiannya yang luar biasa pula, akan
meyakinkan setiap orang bahwa krdua orang besar itu adalah pernghuni sorga
tingkat pertama, berkumpul bersama para nabi dan syuhada." ( hal 98, 29
maret 1970).
Esai itu
masuk salah satu dari 5 nominator yang kemudian membawaku ke Jakarta untuk
diwawancarai. Pewawancaranya diantaranya adalah Hamid Basyaib, Akhmad Sahal.
Lima orang yang diinterview tentang esainya ini akan dipilih salah satu
pemenang yang akan mendapatkan hadiah uang Rp 30 Juta.
Pengumuman
yang dilakukan di Gedung Antara itu dipandu oleh Najwa Sihab (waktu itu belum
ada acara Mata Najwa). Aku kurang beruntung. Yang terpilih adalah salah seorang
mahasiswa Driyakarya, kalau tak salah namanya Ajmad Jafar, seorang pemuda
keturunan Arab berasal dari Situbondo.
Tapi
sayembara itu merupakan momen penting bagiku, basis historis yang menyebabkan
aku semakin suka menulis. Pulang dari Jakarta tetap mendapatkan
"sangu". Ditambah dengan doorprice berupa buku-buku yang jumlahnya
belasan (sebagian besar terbitan Freedom Institute).
Dan anehnya,
dari perjalanan hidupku ini, ternyata ada keterhubungan historis antara masa
lalu dengan masa selanjutnya yang kadang seakan dianggap terjadi secara
kebetulan--tapi pada kenyataannya tidak. Begini. Tahun 1998 aku membaca buku
Ahmad Wahib. Lalu aku melupakan buku itu. Tapi lima tahun kemudian, 2003, aku
menggunakan buku itu untuk bahan nulis.
Berikutnya,
tahun 2003 aku bertemu Najwa Sihab di acara malam penganugerahan Ahmad Wahib
Award di Gedung Antara itu. Lalu, tahun 2011, aku diundang di acara Mata Najwa
Metro TV. Gara-gara menulis buku "Perempuan di Mata Soekarno". Salah
satu Tim Kreatif, menemukan buku itu di Gramedia, dan ia menelfonku untuk
ditawari jadi narasumber acara Mata Najwa yang bertajuk "Perempuan
Zaman". Tampil bersama mbak Ruth I Rahayu, itu adalah penampilan pertama
di TV, yang mungkin juga satu-satunya dalam sejarah hidupku.
Berikutnya,
salah satu buku yang diberikan sebagai doorprice oleh panitia Ahmad Wahib Award
adalah berjudul "Islam Mazhab Ciputat". Dalam buku bunga rampai ini,
salah satu penulisnya selain kang Akhmad Sahal, ada juga Ahmad Fuad Fanani
seorang intelektual muda Muhammadiyah. Lalu 2005, saya kerja bersama mas Fuad
Fanani ini sebagai peneliti di ICIP Jakarta, saat diajak pak Eby Hara untuk
jadi tim riset di lembaga itu.
DARI kisah
ini saya mendapatkan kesimpulan bahwa ternyata semuanya itu terjadi karena dialektika
dan tak ada yang kebetulan. Sejarah tetaplah memiliki kisah di mana semua hal
selalu terkait. Salah satunya adalah: Kalau saya tidak membaca buku, bagaimana
saya bisa menulis. Kalau saya tak melakukan keduanya secara dalam kurun waktu
yang lama, bagaimaa saya bisa berkarya dan terus berkarya dalam dunia literasi.
Membaca,
Menulis, dan perjumpaan-perjumpaan dengan buku dan orang-orang adalah suatu
basis bagi pembangunan budaya literasi yang cukup penting. Dulu, di pergerakan,
kami mengenal siklus: BACA-AKSI-REFLEKSI... BACA-AKSI-REFLEKSI! Ada siklus
lainnya yang agak sama: BERPIKIR, BEKERJA, BERPIKIR,BEKERJA. Kerja otak dan
kerja fisik tak bisa dipisahkan.
Dari Kawans
GMNI kita punya slogan: PEMIKI PEJUANG, PEJUANG PEMIKIR! Dari sahabat PMII kita
punya slogan: DZIKIR, PIKIR, AMAL SHOLEH. Dan akhirnya dari teman HMI kita
punya slogan: YAKIN USAHA SAMPAI (YAKUSA)!
(Nurani
Soyomukti, Subuh hari di Kaki Gunung Jabung, Trenggalek, 28/11/2018)

No comments:
Post a Comment