Oleh : Nurani Soyomukti
/1/
Lenin pernah berkata: Revolusi tak
bisa dilakukan oleh orang-orang berkepala panas. Nyatanya gerakan revolusi
mandeg ketika ide revolusi tak ada lagi di kepala karena ia hanya muncul dari
amarah sesaat—pada situasi tertentu dalam fase suatu masyarakat maupun bisa
jadi pada fase perkembangan individual.
Revolusi tanpa literasi ternyata tak
berumur panjang. Sedangkan literasi yang berumur panjang akan merevolusi
keadaan secara terus-menerus. Memberikan panduan bagi proses memahami
kontradiksi yang dihadapi, membiasakan membaca aksara dan realita.
Penulis lahir dari sisa fase
revolusioner yang menghantarkan era reformasi, yang lalu mandeg hingga
sekarang. Era perlawanan terhadap Orde baru waktu penulis masih SMA, hingga era
kuliah yang memperkenalkan pada nikmatnya tradisi membaca dan menulis. Dan
kisah hidup yang mengalami proses literasi yang cukup dinamis. Keterlibatan
dalam organisasi “radikal” dengan perkembangan bacaan-bacaan dan aksi-aksinya.
Lalu sampai pada fase moderasi gerakan
“politik” menuju strategi gerakan literasi di masyarakat. Fase-fase mulai
mengenal huruf-huruf, hingga menulis di berbagai media dan buku inilah yang
banyak menghiasi kisah dan pemikiran yang disampaikan dalam buku ini.
Buku ini bisa dianggap sebagai
perspektif literasi dari kemampuan menerapi diri yang dilakukan sendiri oleh
penulis. Pun juga upaya menganggap dirinya ada dan sedang ingin bicara tentang
dunianya, di mana di dalamnya yang ingin ditegaskan adalah bahwa dari segalanya
itu ternyata kita tumbuh pesat dari proses membaca dan menulis (satu
dwi-tunggal literasi yang terpenting).
/2/
Masa remaja adalah masa bergejolak
dalam pencarian identitas. Gagalnya keinginan dan jarang terfasilitasinya
kebutuhan, mesti disalurkan dalam aktualisasi diri yang positif. Penulis
menemukan pelarian dari kondisi keluarga dan hubungan sosial yang kurang
kondusif bagi terpenuhinya keinginan individual sebagai anak dan remaha usia
sekolah. “Nembak cewek” gagal, puisi dan buku jadi sarana pelatiran estetis dan
punya daya jangkau pada pelatihan berimajinasi yang hasilnya tidak disadari.
Secara tak langsung ini adalah buku
tentang manfaat membaca dan menulis. Diawali dengan dunia baca dan tulis
sebagai pelarian, lalu beranjak pada pendalaman pengetahuan, pencarian yang
berdarah-darah, hingga kenikmatan yang dipetik dari proses dinamis itu: Hasil
dari menulis di berbagai media dan tulisan yang diterbitkan dalam buku-buku
oleh penerbit yang memberi uang yang bisa digunakan untuk memfasilitasi
pemenuhan kebutuhan hidup dan memberi tekad untuk berani menikah dan berpinak.
Penulis yang sudah menikah dan punya
anak sesungguhnya lengkap. Ia punya anak biologis dari pernikahan: anak-anak
yang lucu dan menegaskan eksistensi kemakhlukan. Juga punya anak ideologis:
judul-judul buku dan tulisan yang dinamai dan sekaligus menamai dunia.
Menyebarkan gagasan dan berdialektika dengan kehidupan—ini adalah salah satu
tugas profetis tiap manusia untuk mengejar kebermaknaan.
Jadi buku ini adalah kampaye membaca
dan menulis. Budaya baca adalah pilar kemajuan bangsa. Dalam buku ini, penulis
menguraikan kenikmatan yang bisa didapat dari membaca, juga ‘progress’ yang didapat dari tradisi
literasi ini. Pengembangan diri, komunikasi menggapai tujuan (kritik, opini,
persuasi, dll), profesi yang menghasilkan uang, hingga kemudahan mendapatkan
peran lebih jauh dari kemampuan berliterasi.
Dialektika hidup, berkontradiksi
dengan hidup, aktivitas yang dilarang, berdebat dengan dosen konservatif,
diskusi-diskusi di organisasi, adalah proses pengembangan diri yang terjadi.
/3/
Pikiran
kritis memang lahir dari proses bagaimana manusia berhadapan dengan realitas
yang membuat pikiran dituntut untuk berpikir secara dalam dan menyeluruh—dan
kadang juga ideologis kaku.
Tafsir ideologis kaku di sini diakui
sendiri oleh penulis bahwa ia yang awalnya
adalah aktivis berideologi kaku yang menolak pemilu dengan cara membakar semua
bendera partai politik dalam sebuah aksi tahun 2004, hingga belakangan malah
menjadi pejuang pemilu dalam posisinya sebagai divisi yang bertugas melakukan
sosialisasi dan pendidikan pemilih di KPU Kabupaten Trenggalek (lenyelenggara
pemilu tingkat kabupaten).
Dari aktivis yang sering bentrok
dengan aparat kepolisian di jalanan saat demonstrasi dan bahkan puncaknya
ketika jadi buron selama empat bulan, hingga kemudian menemui takdir yang
berbalik seratus delapan puluh derajat:
Menjadi “pejabat” publik di lembaga publik yang bertugas melakukan
pelayanan demokrasi dan tiap moment demokrasi elektoral bernama pemilihan
(Pilkada, Pileg, Pilpres) selalu bekerjasama dengan aparat kepolisian.
Apalagi jika bukan “pertaubatan”. Dan
apalagi jika bukan suatu moderasi sikap—atau barangkali perubahan menuju
keterbukaan pikiran. Dari yang dogmatis menjadi kritis dan demokratis. Dari
mengambil taktik revolusioner kaku menjadi perjuangan transformatif yang lebih
masuk ke arah pikiran kritis dalam makna sebenarnya. Dari merasa paling
revolusioner sendiri dan menganggap semua di luarnya tidak revolusioner (konservatif),
menjadi transformatif yang menganggap masih ada potensi untuk melakukan
perjuangan lewat potensi-potensi yang lebih luas, sambil dilakukan pada saat
berada dalam sistem demokrasi yang dulunya ia sebut “demokrasi borjuis”.
Dalam buku ini kita bisa melihat
bagaimana dinamika literasi dalam diri penulis berkembang. Pertaubatan dari
aktivis radikal yang memegang pikiran ideologis yang kaku, hingga kemudian ikut
masuk sistem demokrasi yang lebih rasional untuk diperjuangkan. Sepertinya
penulis kemudian menawarkan pilihan: Apa jika bukan
demokrasi lewat pemilu? Demokrasi komunis dan Khilafah yang tidak menginginkan
demokrasi itu sendiri?
Lalu penulis menguraikan berbagai
evolusi pemikiran bersamaan perubahan-perubahan peran. Sebagai sebuah buku yang
dimaksudkan untuk memotret aspek literasi, buku ini menyuguhkan bagaimana
pentingnya tradisi membaca dan menulis sebagai budaya yang harus dijaga.
Keterlibatan penulis dalam aksi-aksi literasi sejak sekolah hingga ia pulang
kampung tetap menjadi kisah utama buku ini. Mulai dari pertama kali “jatuh
cinta” pada buku, hingga menjadi penulis banyak judul buku dan memetik peran
sosial yang cukup partisipatif dari kedalamannya menerjuni danau Literasi.
Pesan dalam buku ini adalah: Membaca
dan menulis adalah jalan progresif yang harus dilalui oleh siapapun yang ingin
menjadi subjek indenden dalam kehidupan. Jalan membaca buku dan menulis adalah
jalan menjadi manusia yang ingin mendapatkan pencerahan dan kontrol terhadap
dunianya, bukan objek penindasan sistem budaya yang hanya menyuruh orang untuk
meniru semata.
/4/
Berikutnya adalah tentang menulis sebagai salah satu budaya produktif. Almarhum Pramoedya
Ananta Toer selalu berpesan bahwa kita harus menulis apa saja yang dapat kita
tulis karena suatu saat pasti berguna. Menulis adalah salah satu pekerjaan
memanfaatkan bahasa untuk mengungkapkan gagasan atau kisah kehidupan. Lebih
jauh, menulis adalah kegiatan mengeksplorasi bahasa menjadi kekuatan untuk
menggambarkan realitas.
Banyak orang mengatakan bahwa
menulis adalah kegiatan orang malas atau orang yang tak berani menghadapi
realitas. Anggapan tidak sepenuhnya benar. Hasil dari kegiatan menulis bahkan
dapat menjadi kekuatan yang merubah sejarah kehidupan. Dengan menulis perubahan
dihasilkan. Diakui atau tidak, Indonesia
telah mengalami perubahan besar, terutama masyarakatnya mengalami pencerahan,
sejak budaya baca-tulis diperkenalkan oleh Belanda. Selama berabad-abad, di
bawah kekuasaan feodal (kerajaan) yang menindas, masyarakat didominasi oleh
budaya oral. Kepercayaan dan wacana yang mendukung kekuasaan diproduksi dan
direproduksi melalui dongeng. Kemampuan menulis dan membaca hanya dimiliki oleh
kalangan istana, dan itupun digunakan
untuk menuliskan kisah-kisah yang melanggengkan kekuasaan dan membodohi rakyat.
Dalam hal inilah, penulis dalam buku ini mengatakan bahwa menulis adalah kegiatan yang
mampu menghasilkan kekuatan produktif sejarah masyarakat. Menulis adalah bagian
dari kebudayaan yang produktif. Budaya
dalam hal ini adalah sekian potensi dan hasil dari manusia dalam menggunakan
rasa, karsa, dan pikirannya. Akan tetapi umumnya oleh banyak kalangan dipahami
bahwa budaya hanya berkaitan dengan aspek seni dan gaya hidup. Pada hal budaya
mencakup keseluruhan manusia dalam membudi dan mendayakan dirinya dalam
kehidupan, yang secara mendasar adalah cara-cara manusia dalam menghadapi alam
dalam upayanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan mengembangkan
hidupnya. Menulis adalah kegiatan yang memproduksi dan mencari makna.
/5/
Menulis
adalah kegiatan manusia yang dikenal sebagai mahkluk yang berbudaya. Mendayakan
diri berarti menyiapkan kondisinya agar kuat baik dalam berhubungan sosial
maupun menghadapi kontradiksi dengan alam dan dengan orang lain. Majunya suatu
kebudayaan akan ditentukan oleh sejauh mana masyarakat mengenal tulisan,
membaca dan menulis. Makanya, alangkah mundurnya kebudayaan kita
ketika saat ini masih banyak rakyat yang
buta huruf (illiterate) dan pada saat
yang sama budaya baca-tulis kita juga masih ketinggalan jauh dengan Negara-negara
lain.
Bagi yang sudah melek hurufpun,
sebagian masyarakat kita juga melum dapat membaca dan menggunakan bahasa secara
benar dalam konteks memanfaatkan bahasa untuk memaknai kehidupan dan memajukan
peradabannya. Apa yang terjadi di negara kita saat ini masih mirip dengan apa yang diceritakan oleh
cerpenis kenamaan negeri ini, Seno Gumiro Ajidarma, ketika ia mengucapkan
pidato penerimaan Hadiah Sastra Asia
Tenggara di Bangkok beberapa tahun lalu. Ia mengucapkan, “… Masyarakat kami
adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca hanya untuk
mengetahui harga-harga, membaca hanya untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca
untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, memcaba karena ingin tahu berapa persen discount
obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun
di televisi untuk mendapatkan sekedar hiburan…”
Dalam situasi inilah, budaya menulis
harus disosialisasikan pada masyarakat, terutama generasi muda. Generasi muda
tidak boleh hanya menjalani budaya yang
dikendalikan oleh pemilik modal yang hanya membuat mereka hanya meniru,
mengkonsumsi, dan menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak produktif dan
kreatif. Generasi muda harus diarahkan agar dapat mengenali dunianya dan
menghasilkan suatu hal yang berguna bagi masyarakatnya.
Budaya
menulis akan banyak membantu mereka untuk menuangkan gagasannya secara
kreatif. Budaya membaca yang merupakan syarat bagi setiap orang yang melakukan
kegiatan menulis akan banyak menyeret mereka pada ilmu pengetahuan dan
imajinasi yang kreatif, dan pada
akhirnya mereka akan menemukan pilihan hidup dan tidak sekedar untuk
hidup atas diktum budaya pasar. Mereka bahkan bisa jadi kekuatan masa
depan yang merubah dunia menuju perbaikan yang berpihak pada kemanusiaan.
/6/
Kerja macam apakah “menulis” itu? Dan
profesi apakah ‘penulis’ itu? Apakah peradaban tak bisa berjalan tanpa
hadirnya para penulis?
Pertanyaan semacam itu layak
dilontarkan karena sejauh mana sebenarnya peran penulis bagi kebudayaan
nampaknya perlu diketahui. Penulis merupakan profesi yang sepanjang sejarah
nampaknya begitu dimuliakan oleh banyak
orang. Dengan menulis orang tak hanya mendapatkan ketenaran dan uang, tetapi
juga status.
Nampaknya kata-kata masih dianggap
sesuatu yang masih mistik dan siapa yang mampu memungutnya dan menyusunnya
menjadi makna dan penjelasan yang kuat terhadap realitas. Seakan bagai para
dukun kuno dan pujangga jaman kerajaan yang dianggap menemukan kata-kata begitu
saja untuk memberikan petuah-petuah dan kisah-kisah indah dalam masyarakat,
menyampaikan estetika cerita tentang kebesaran raja dan arahan-arahan yang
harus dilakukan oleh masyarakatnya. Pada era feudal (kerajaan), penulis juga
dianggap sebuah profesi yang banyak diinginkan, seiring dengan obsesi banyak
orang untuk menganggap bahwa profesi pemikir dan penulis adalah identik dengan
‘etos’ kebangsawanan pada saat
kerja-kerja fisik identik dengan kerja kaum budak dan rakyat jelata—yang
dianggap menjijikkan.
Kutipan berikut berasal dari teks
Mesir yang dikenal sebagai The Satire on
the Traders, yang ditulis sekitar tahun 2000 SM dan diperkirakan berisi
nasehat dari seorang ayah kepada anaknya, yang ia kirim ke Sekolah Menulis
untuk berlatih menjadi seorang juru tulis: "Saya telah melihat bagaimana seorang pekerja kasar disuruh untuk
bekerja kasar—kamu harus mengeraskan hati kamu dalam mempelajari tulisan. Dan
saya telah mengamati bagaimana seseorang dapat menghindari pekerjaannya.
Lihatlah, tidak sesuatupun yang dapat melebihi tulisan…. Saya telah melihat
bagaimana seorang pandai besi bekerja di depan mulut tungku apinya.
Jari-jarinya menjadi mirip jari-jari buaya; batu tubuhnya melebihi bau seekor
ikan busuk….Seorang kuli pembangun rumah mengusung lumpur…. Ia lebih kotor dari
seorang gelandangan atau babi karena ia mengarungi lumpur. Bajunya kaku karena
dilumuri tanah liat….”
Tiba di jaman modern, peradaban kita
nampaknya terlanjur lebih menghargai
aktifitas gampangan yang tak membutuhkan kerja keras (fisik) sebagai
tindakan kerja sejati dalam makna berhadapan dengan realitas dan benda-benda
yang ada di alam lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. Orang-orang
yang malas kerja dan lebih banyak memiliki waktu luang, atau kerja ringan dan
santai, lebih bisa menikmati kekayaan
yang melimpah. Dan penulis adalah salah satu profesi yang tak jarang
mendapatkan uang berlimpah dari
kata-kata yang ditulis dan dijualnya.
Sejak awal, ada seorang sosiolog
melontarkan kritik pedas atas gejala kebudayaan santai, yang merongrong
kebudayaan Amerika Serikat (AS). Sosiolog tersebut bernama Thorsten Veblen
(1857-1929). Dalam bukunya yang berjudul “The Theory of the Leisure Class” ia
merasa jijik dengan budaya kolektif pada kelas yang malas bekerja tetapi
menghabiskan banyak waktu senggang dan menjalani gaya hidup yang bebas. Mereka
adalah kelas non-produktif, karena mampu mengumpulkan modal dalam dorongan
pembajakan (predatory instinct). “The Leissure Class” atau kelas pemboros ini
berminat pada urusan kerja santai dalam waktu luang, manajemen (mengurus orang
lain, kelompok pekerja lapangan atau pelaksana teknis), atau berperang
(militer, angkatan bersenjata), mengurus upacara keagamaan (kaum ulama), atau
berolahraga.
Sebagai sosiolog kritis, Veblen
nampaknya begitu membenci para penjual kata-kata indah, pemalas, spekulan, makelar,
cukong, lintah-darat, plutokrat, birokrat, dan kaum manipulator, yang
mengerumuni kota-kota besar Amerika waktu itu. Didorong oleh instink penyamun
atau pembajak, mereka berusaha memperkaya diri tanpa kerja produktif, sibuk
memajukan pelbagai pengetahuan yang tidak relevan dengan keadaan yang nyata,
memamerkan gengsi dari dalam budi bahasa halus dan etiket eksklusif untuk
memikat perhatian kelas bawah—tetapi pada saat tertentu juga bisa menjadi
agresif dan galak serta mampu menggunakan cara-cara yang kotor, keras, dan
korup untuk mencapai tujuannya.
Dari kelas ‘pemboros’ dan ‘pemalas’ ini tercipta gaya
hidup liberal, bohemian, snobisme, mode-mode yang meledak dan hilang dalam
sekejab, lagu dan novel pop, selera eksklusif. Merekalah pencipta kebudayaan
kota yang belakangan membawa dampak besar pada kebudayaan desa. Dengan singkat
kata, Veblen lebih menghargai manusia kerja (homo faber) karena menurut dia
kebudayaan kerja (workmanship) memunculkan sosialitas manusia yang paling
nyata.
/7/
Ketika
penulis dan kebanyakan kaum intelektual yang memproduksi kata-kata merasa dirinya eksis hanya karena kata-kata
dan pembicaraannya didengar oleh audiens di sebuah ruang kuliah, ceramah, atau
seminar, atau kata-kata yang dibaca melalui buku, koran, majalah, atau tabloid,
sejauh apakah hal itu akan berguna bagi perubahan kesadaran dan kemajuan
masyarakat?
Penyair
Wiji Thukul begitu apatis dengan posisi intelektual dan penulis hingga ia
pernah menyindir dalam puisinya: "... dunia bergerak bukan karena/omongan para
pembicara dalam ruang/seminar yang ucapnya dimuat/di halaman
surat-kabar/mungkin pembaca terkagum-kagum/tapi dunia tak bergerak setelah
surat-kabar itu dilipat."
Apakah penulis selalu merupakan salah satu kalangan yang
disebut Veblen dan Thukul tersebut?
Dalam buku ini, penulis menegaskan bahwa tidak semua penulis memiliki
sikap anti-sosial semacam itu. Indonesia pernah punya Romo Mangun yang terjun
langsung ke daerah perkampungan kumuh dan mengintegrasikan diri dengan realitas
kehidupan sosial-budaya masyarakat. W.S. Rendra, Widji Thukul, dan masih banyak
lagi, adalah contoh para penulis yang mau mengintegrasikan diri dengan
kehidupan rakyat dan, karenanya, mereka mampu dan mau menangkap tuntutan jaman,
tuntutan perubahan.
Kecenderungan individualistis penulis
nampaknya terungkap dari fakta bahwa kegiatan menulis bukanlah kerja produktif
secara fisik yang menghasilkan sosialitas sejati dalam kehidupan. Kerja fisik
membuat orang saling bersatu dan berkumpul, seperti para petani yang
“guyub-rukun” dan kaum buruh yang terkonsentrasi massal dalam pabrik, atau
rakyat jelata yang hidup bersama menjalani aktivitas hari-harinya. Sedangkan
sekarang ini kebanyakan penulis hanya
duduk di belakang meja atau berdehem di depan note book mereka menyusun
kata-kata yang akan dijual pada penerbit atau media, agar terkenal atau
mendapatkan sejumlah uang yang dapat membiayai gaya hidupnya yang bebas.
Pada hal mereka dituntut untuk
membalas jasa-jasa sejarah, sejarah masyarakat kontradiktif yang membawa banyak
persoalan kehidupan (terutama kemiskinan dan pemiskinan/penindasan). Mereka
dituntut tak hanya menggoreskan kata-kata indah untuk menggambarkan
kehidupannya sendiri, pengalaman seksulitas dan cinta mereka sendiri. Mereka
seharusnya mampu dan mau menyuarakan dan menangkap nasib rakyat miskin,
menggambarkan secara estetik dan detail bagaimana rakyat miskin ditindas (sebab
dan akibatnya), serta mengumandangkan pesan dalam tulisan-tulisannya bahwa
kondisi semacam itu harus diubah.
Dan itupun belum cukup. Karena, seperti
dilakukan Romo Mangun, Rendra, dan Thukul, para penulis harus terjun langsung
di masyarakat bahkan turut serta pada saat mereka menyampaikan
tuntutan-tuntutan pada penguasa yang menyebarkan angkara dan melahirkan derita.
Penulis semacam inilah yang akan tercatat dalam sejarah kebudayaan, karena
kebudayaan adalah gerak maju dari tuntutan sejarah masyarakat untuk melepaskan
dirinya dari penindasan, menuju muara
sejatinya sejarah: Kemanusiaan dan Keadilan!***


No comments:
Post a Comment