Selamat
pagi, kaum aktivis. Ini cerita gerimis pada tanah basah pagi ini! Sejak langit
tertutup mendung dan musim mulai berganti, mohon disimak tulisan yang agak gak
penting ini.
Jadi begini.
Organisasi adalah sarana untuk mengolektivasi individu menjadi kekuatan yang
dikontribusikan untuk kepentingan bersama (tujuan kolektif). Jika diantara
anggotamu yang mulai sulit dikordinasi, tidak aktif, dan tidak mau menuruti
visi-misi organisasi, tak usah disumpah serapahi. Mungkin ada yang salah secara
mendasar pada caramu memimpin dan membangun budaya organisasi. Lagian, ngapain
hujan-hujan begini marah dan bikin sumpah serapah!
Mari kita
bahas lebih panjang. Orang yang masuk organisasi atau komunitas, baik yang
formal atau ketat maupun yang longgar dan cair, pasti punya motivasi yang
berbeda-beda. Sejarah masuknya juga tidak sama. Ada yang punya minat serius
ingin belajar mendalami visi-misi komunitas dan ingin bersama mewujudkan tujuan
komunitas. Ada pula yang masuk karena tujuan lain atau masuk karena sebab lain.
Seorang yang
bahkan masuknya tak sengaja, misal diajak temannya dan malahan tidak tahu kalau
ia akan diajak ke situ, bisa jadi justru tumbuh menjadi anggota atau aktivis
komunitas yang lebih maju dari yang lainnya yang bahkan awalnya punya niat yang
serius. Pun sebaliknya, yang awalnya serius masuk komunitas, bisa jadi
belakangan malah mengecewakan, dan bahkan bisa jadi duri dalam daging yang
menghambat berjalannya kegiatan komunitas.
Terutama
komunitas yang di dalamnya ada anak-anak muda dan remaja. Di mana masa
pencarian identitas diri dan pencarian aktualisasi diri bisa membuatnya
memiliki minat dan karakter yang bisa berubah. Dinamika libidinal yang sedang
menuju kematangan, misalnya, bisa jadi membuatnya tertarik pada lawan jenis dan
organisasi akhirnya bisa jadi tempat yang potensial untuk mencari
"gebetan" [sic!].
Mungkin di
antara kalian yang pernah menggeluti organisasi, terutama waktu mahasiswa dulu,
punya pengalaman seperti ini: Kamu telah mengorganisir mahasiswa baru agar
bergabung dengan organisasimu. Lalu kamu menemukan calon kader yang maju,
pikirannya, aktivitasnya, cekatan dan tampaknya akan menjadi kader organisasi
yang diandalkan. Calon kader ini adalah seorang gadis cantik berkerudung,
adalah mantan ketua OSIS di sebuah sekolah di yayasan Islam (Pondok Pesantren).
Kamu
mengharapkan gadis inilah yang nantinya akan menjadi salah satu kader hebat
yang akan memperkuat organisasi dan memperbesar pengaruh organisasimu. Setelah
ia kamu rekrut dan bahkan kamu bai'at, iapun mulai aktif di organisasi. Tapi
ada dinamika organisasi di mana saat pengurus dan anggotanya berkumpul, tidak
selalu bicara kepentingan organisasi. Mereka, para aktivis itu, juga merupakan
manusia biasa yang juga punya (salah satunya) naluri libidinal.
Singkat
cerita, si gadis yang kamu anggap progresif itu kemudian dipacari sama
seniornya yang kebetulan teman organisasimu juga. Dan kamu tahu, pacaran adalah
urusan libidinal yang melenakan. Pacaran butuh berdua, tidak butuh rame-rame.
Keduanya lalu sering berdua dan sering pula tak ikut kegiatan-kegiatan
organisasi.
Singkat
cerita, calon kader yang kamu anggap terbaik itu ternyata juga menemukan
dinamika lain. Banyak yang ingin merebut hatinya karena selain ia cerdas, ia
punya kecantikan yang membuat para aktivis lelaki ingin
"memiliki"-nya. Ingin memprivatisasinya. Aset kolektif (komunal)
organisasi telah diprivatisasi oleh seorang kader senior yang bahkan juga
akhirnya tak aktif di organisasi.
Meski
demikian, organisasi tetap bisa berjalan. Sebab urusan privatisasi cinta atau
eksklusivisme hubungan yang ada di organisasi bukan satu-satunya faktor
penghambat organisasi. Meskipun kadang urusan cinta ini bisa menjadi masalah
besar. Misal ada pengurus level atas organisasi yang berkelahi gara-gara
berebut kader tercantik. Lalu masalah personal melebar jadi masalah
organisasional. Amit-amit, mudah-mudahan hal ini tak banyak terjadi.
Memang harus
kita akui. Seingat saya mengingat era mahasiswa, motif-motif orang masuk
organisasi itu memang bermacam-macam. Motif awal bisa jadi berubah. Tujuan awal
bisa berbelok. Di sini tetap diperlukan penguatan marwah organisasi. Bagaimana
agar organisasi bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan organisasional, ideologis,
dan besar bersama peran sosialnya, saya kira harus ada niat besar dari
organisernya.
Harus ada
upaya untuk menjaga agar organisasi atau komunitas tetap bisa menjalankan
fungsi organisasional dan mewujudkan tujuannya. Kisah-kisah tentang kepentingan
individu memang bagian yang tak terpisahkan dari dinamika organisasi. Sebab,
organisasi memang terdiri dari individu-individu. Mereka diikat dalam tujuan,
program, dan pembagian tugas bersama. Kisah-kisah tentang pacaran sesama
anggota organisasi, misalnya, sebenarnya bukan masalah pokok yang selalu
menghambat jalannya organisasi.
Mahasiswa yang
awalnya masuk oganisasi karena di organisasi yang ingin diikuti ceweknya
cantik-cantik, atau mahasiswi yang melihat di organisasi cowoknya keren-keren,
belum tentu akan menjadikannya kaum muda-mudi yang akhirnya jatuh karena cinta.
Motivasi awal hanyalah daya tarik pertama. Selanjutnya, mereka akan berproses
dan memahami dirinya dan mengendalikan dinamika. Apalagi ketika mereka masuk
dan mendalami ideologi organisasi, serta kegiatan organisasi yang bisa merubah
cara pandang mereka tentang hidup, relasi, minat, dan cita-cita.
*
(Nurani
Soyomukti, 04/12/2018)

No comments:
Post a Comment