Saat melihat
orang yang menurut kita tidak lebih beruntung, lantas kita merasa kasihan.
Entah kenapa fikiran itu muncul, padahal kita tidak pernah tahu tingkat
kebahagiaan seseorang. indeks kebahagiaan toh susah diukur, berbeda dengan
indeks kesejahteraan yang bisa diukur melalui pendapatan, akses terhadap suatu
hal, sampai daya beli.
Waktu antre di
ATM, kita sering kasihan melihat pengemis yang stand by di dekatnya lalu
menyodorkan amplop agar kita isi dengan uang. Kita mungkin berfikir hidup
mereka saking menderitanya, sampai harus mengemis. Tidak punya akses pekerjaan,
dan penghidupan yang layak.
Kasihan? Beberapa
kali saya amati. Waktu masih di Malang, saya memang bolak balik ke ATM. Bukan
karena banyak uang, ATM saya diisi oleh beasiswa, atau sekedar honor
kecil-kecilan dari nulis. Jadi sekalinya ambil, paling hanya selembar atau dua
lembar, makanya sering ke ATM karena honor datang tidak langsung besar, kadang
mingguan.
Waktu antre,
seringkali saya melihat pengemis itu bersama anak-anaknya. Wajah anaknya tidak
nampak susah menderita. Bahkan beberapa kali saya mendapati mereka tengah
menyantap makanan yang bahkan jarang saya beli ketika menjadi anak kos. Jus,
sate ayam, dll. Bahkan pernah seorang Ibu-ibu pengemis menyodorkan amplop
sambil menyantap sate, tanpa nasi.
Saya saja belum
tentu makan sate sebulan sekali, sementara Ibu itu camilannya sate. Sambil
tertawa geli, kadang saya merenung, siapa yang harusnya dikasihani? Mungkin ada
yang mengira itu pemberian, tapi kejadian itu tidak sekali dua kali. Pernah
juga menyodorkan amplop sambil menyeruput jus.
Mungkin bukan
rahasia lagi kalau banyak pengemis sebenarnya punya penghasilan yang tinggi.
Bahkan ada yang sampai punya mobil, rumah, ponsel mahal, dan sebagainya.
Makanya dibeberapa kota kemudian muncul perda berupa sanksi memberikan uang
kepada pengemis.
***
Waktu saya praktik
mengajar di salah satu sekolah bonafit di Kota Malang. Mereka yang sekolah
disana rata-rata kalangan menengah keatas. Ke sekolah ada yang menggunakan jasa
antar jemput, atau dijemput orang tuanya langsung. Beberapa siswa bercerita
kepada saya tentang keluarganya, tempat liburan, hewan peliharaan, dan lain
sebagainya. Hidup mereka serba berkecukupan.
Waktu materi PKN
kemudian guru pamong saya mengatakan, ada banyak anak yang kurang beruntung
diluar sana, sembari menyelipkan pesan agar anak-anak itu bersyukur atas
kehidupan mereka saat ini. “kalian enak disini, sementara mereka hidup
sengsara,” kata guru pamong kepada siswa dikelas, kala itu saya mendampingi.
Saya jadi
teringat masa SD dulu. Pulang sekolah sering jalan kaki sejauh tiga kilometer. Menderita
kah? Kalau saya hayati saat ini mungkin bisa begitu, apalagi harus jalan kaki
ditengah teriknya matahari. Tapi dulu itu fikiran sengsara sepertinya belum
muncul. Semuanya dilalui apa adanya.
Waktu tsanawiyah
juga begitu, ke sekolah naik angkutan desa, pulangnya kadang harus oper dua
kali. Kadang naik sepeda pancal dari rumah ke sekolah, yang jaraknya belasan
kilometer. Uang saku hanya dua ribu perak, seribunya habis buat naik angkutan.
Saya tidak bisa
membayangkan jika apa yang dulu saya alami, dirasakan oleh anak-anak dari
keluarga menengah keatas ditempat saya praktik mengajar ini. suasana kontras
itu pasti akan membuat mereka menderita, karena sebelumnya mereka sudah bisa
merasakan kemudahan.
Waktu beranjak
aliyah, saya mulai naik motor. Sesekali waktu, saya iseng naik sepeda pancal.
Rasanya capek sekali. Rasanya lebih sengsara. Kenapa? Karena sebelumnya sudah
enak naik motor, tinggal ngegas, sekarang kembali naik sepeda pancal.
Barangkali
itupula yang dulu saya alami ketika SD. Tidak ada keluhan, meski keringat
mengucur deras. Karena sudah biasa, dan belum merasakan yang lebih nyaman dari
itu. Bahkan sering kali sepulang sekolah saya dan beberapa teman belok ke
sungai kecil untuk sekedar mandi. Kalau ketahuan orang tua bisa dimarahi
habis-habisan.
Saya kemudian
mengoreksi arti kata sengsara itu. Apa sebenarnya yang membuat kita sengsara?
Karena realitas atau pola pikir? Anda mungkin pernah melihat pelanggan restoran
yang menyisakan makanan di piring, padahal itu masuk kategori makanan enak,
dengan harga yang mahal. Sementara yang hanya makan lauk tahu, tempe, dan
sambel korek plus secerek air putih, dilahap habis tak bersisa.
Nikmat itu soal
rasa, bukan menu. Kita sering kasihan melihat orang makan hanya dengan lauk
tahu tempe, kita mengira hidup mereka sengsara karena hanya bisa membeli
makanan seperti itu. Padahal seharusnya kita yang patut dikasihani.
Kita melihat
nikmat tidaknya makanan dari menu, sementara mereka dari rasa syukur atas apa
yang dimakan. Mereka sudah menemukan kebahagiaan apa adanya, sementara kita
belum. Kita akan merasa sengsara jika diposisi mereka. Butuh berapa banyak uang
agar kita bahagia? Itu justru yang membuat kita semakin sengsara. []
15 Januari 2017

No comments:
Post a Comment